NEGARA, radarbali.id - Jalan tol Gilimanuk - Mengwi, proyek nasional yang ternyata memang betul-betul mangkrak alias terbengkalai. Bukan hanya di titik Mengwi, Badung, tapi juga di titik Gilimanuk, Jembrana. Setelah peletakan batu pertama pada bulan September 2022 lalu, sempat ada pengerjaan di wilayah perkebunan Pekutatan, namun setelah itu tidak ada kelanjutan pembangunan lagi.
Lahan yang sebelumnya milik unit perkebunan Pemuda Bali, sudah kosong dari tanaman karet. Lahan yang sudah diratakan dengan alat berat selama beberapa bulan yang saat ini mangkrak, mirip tambang galian C. Bahkan peralatan alat berat dan pagar yang sebelumnya ada di pinggir jalan sudah tidak ada lagi.
Selain kelanjutan proyek yang masih gabeng, ganti rugi lahan pribadi milik warga juga masih belum ada kabar. Menurut sejumlah warga yang tanahnya sebelumnya sudah diukur untuk alih fungsi jalan tol, belum menerima informasi kelanjutan ganti rugi yang dijanjikan.
"Belum ada kabar lagi, jadi apa tidak jalan tol ini," ujar salah satu warga yang rumahnya terdampak jalan tol Gilimanuk - Mengwi.
Wakil Ketua DPRD Jembrana I Nyoman Sugawa Korry mengatakan, mengenai pembangunan jalan tol Gilimanuk - Mengwi, pihaknya sudah beberapa kali komunikasi dengan pihak pemerintah provinsi Bali belum ada progres.
"Masih dalam proses jawabannya. Kita tunggu saja prosesnya, tetapi sudah tentu sampai batas tertentu," ungkapnya.
Sugawa Korry sebagai anggota dewan Bali dari partai Golkar, mendukung pembangunan jalan tol dan infratruktur Bali. Karena pembangunan yang di Bali bisa terwujud keseimbangan baru, mulai sektor primer, sekunder, pertanian, jasa dan pariwisata.
"Jadi ketimpangan yang terjadi selama ini, harus secara bertahap harus dipersempit melalui strategi pembangunan sektor pertanian, industri dan pariwisata dibangun secara sinergis," tegasnya.***
Editor : M.Ridwan