Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Harga Beras Mahal Distan Klaim Petani Diuntungkan, Dampak Pupuk Mahal dan Biaya Produksi Tinggi

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 30 Januari 2024 | 05:02 WIB
 
BERAT: Salah seorang warga saat belanja  beras di salah satu supermarket di Denpasar beberapa hari lalu.
BERAT: Salah seorang warga saat belanja beras di salah satu supermarket di Denpasar beberapa hari lalu.
 
DENPASAR, radarbali.id - Sungguh tidak strategis. Disaat mendekati coblosan Pemilu harga beras malah mahal. Harga beras meroket membuat masyarakat terkaget-kaget karena beras  jenis medium saat ini Rp 14. 064 per kilogram dan beras super Rp 15.380 per kilogram berdasar data Sigapura (Sistem Harga dan Komoditas Strategis) milik Pemprov Bali.
 
Namun bagi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Wayan Sunada  harga beras mahal  adalah hal yang baik karena nilai tukar petani (NTP) meningkat. 
 
Kenaikan harga beras ini berimbas produksi pertanian yang menguat. Penyebab harga mencekik, Sunada mengakui harga pupuk dan pestisida yang mahal.
 
Baca Juga: Kian Terang, Bali Jadi Mainan Gengster Internasional, Ternyata Meksiko Tembak Turki Diduga Konflik Antar Geng
 
Menurutnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena  stok beras tidak ada masalah. Petani setiap bulan memanen di 7000 hektar sawah seluruh Bali. 
 
"Beras kita ada kok cuma harganya aja yg naik, naik sedikit krn input petani naik harga pupuk mahal pestisida mahal ya ongkos tenaga kerja mahal distribusi mahal, kalau harganya murah petani kita rugi dong bagaimana kita bisa meningkatkan NTP petani tidak bisa, harus kita mampu meningkatkan kesejahteraan petani kalo kita mampu menaikkan kesejahteraan petani tolak ukur adalah NTPnya," jelas Sunada. 
 
Naiknya harga beras  tapi berdampak bagi kesejahteraan petani karena diklaim mereka bisa tersenyum menikmati hasil dengan NTP di atas 100.
 
Baca Juga: Nah! Gelar Patroli Besar-Besaran, Polres Gianyar Gulung Geng Motor Brong dan Bubarkan Tempat Hiburan Malam
 
Tidak seperti biasanya NTP di bawah itu sehingga untungnya tidak seberapa.
 
"Sekarang kan nilai tukar petaninya diatas 100 mereka sudah bisa menikmati hasilnya dapat keuntungan. Kalau di bawah 100 petani itu tidak dapat apa- apa," tegasnya. 
 
Sunada menerangkan jika harga beras terus menurun petani akan lari  sehingga  siapa yang mau jadi petani.  Menurutnya tidak  masalah naik sedikit dalam batasan wajar. Kenaikan tidak akan terus terjadi karena dalam waktu dekat akan panen raya. 
 
Baca Juga: Sudah Banyak Kejadian Tersambar Petir, Petani Buleleng Diimbau Waspada, Begini Imbauannya
 
Disinggung bagaimana program  pupuk subsidi? Kata Sunada pupuk subsidi segera direalisasikan diakui memang agak menurun karena tahun lalu ada pengembalian sedikit.
 
"Kami sudah lakukan sosialisasi supaya pupuk subsidi  segera direalisasikan karena tahun kemarin kami ada pengembalian sedikit," jelasnya. 
 
DIbantahkan juga kenaikan harga beras karena pengaruh tahun politik, terlebih ada salah satu pasangan calon presiden yang membagikan beras dan kerap menggelar pasar murah.  Pihaknya juga menampik setiap Pemilu harga beras naik.   
 
Baca Juga: Positif, Catatan Kontribusi Pertamina Berikan Energi di Jatim-Bali-Nusa Tenggara di 2023
 
"Kami tidak tahu. Kami laksanakan hanya  program pemerintah. Kami tidak  memfasilitasi salah satu paslon. Saya tidak tahu (pasangan calon beli beras banyak). Yang kami tahu gerakan pasar murah dari pemerintah," terangnya. 
 
Harga beras di pasaran katanya sudah bagus dalam koridor yang wajar jadi kenapa harus menurunkan harga. Sunada  mengatakan kini  tinggal menstabilkan harga beras karena stoknya aman. Jumlah penyosohan  di Bali 160 bersifat aktif. Distan selalu mengontrol penyosoh padi tersebut. 
 
"Kami stabilkan harga petani dapat untung dan masyarakat kami mampu untuk membeli karena harga terjangkau," dalihnya.
 
Baca Juga: Cegah Rabies, di Jembrana Kini Fokus Penanganan Anjing Liar, Ternyata Ini Penyebabnya
 
Dengan gerakan pasar murah menekan  inflasi pemerintah menyeimbangkan harga beras. Stabilisasi harga harus dilakukan untuk  mencegah  sampai harga melonjak.
 
"Bukan menekan  beras produksi tapi stabil harga di provinsi Bali stabil," terangnya. 
 
Sunada mengajak bersama-sama juga beralih  mengkonsumsi beras merah karena kadar gula yang rendah dibandingkan beras putih.  Pemerintah Provinsi Bali menggemakan diversifikasi pangan, kenyang tidak hanya dengan   nasi tapi apa saja  boleh. "Beragam, berimbang, seimbang dan aman," tegasnya. 
 
Baca Juga: Duh, Gegara Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Selat Galang Dana Swadaya untuk Perbaikan
 
Contohnya Denpasar, konsumsi beras yang dari 100 turun ke 90 persen. Justru anak-anak banyak tidak makan nasi, seperti olahan kentang, ubi dan keladi.
 
Tidak harus beras. "Masing-masing penyosoh masih ada stok beras saya turun langsung ke lapangan," imbuhnya. 
 
Sunada menambahkan harga gabah saat ini Rp 7.200 dampak harga pupuk meningkat. Jadi wajar kenaikan harga beras. Masyarakat disediakan banyak pilihan beras dan berbagai harga beras bervariasi. Ditegaskan  yang harus dikhawatirkan jika stok beras tidak ada.
 
" Harga tertinggi Rp 13.500 itu terakhir kemarin saya cek medium I,"sebutnya. ***
Editor : M.Ridwan
#Harga Beras Mahal #harga beras #mahal #bulog #dinas pertanian #bali