MANGUPURA, radarbali.id - Momentum Hari Raya Galungan identik dengan makanan yang diolah dari daging babi. Umat Hindu di Bali biasanya mulai memotong babi pada Penampahan Galungan atau sehari sebelum Galungan.
Kendati demikian, Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, I Ketut Hari Suyasa ungkap gejolak harga daging babi yang naik-turun membuat peternak resah.
"Sama seperti sebelumnya, jadi hari raya ini tidak mampu kemudian menjadi bagian dari penyelamat atau memberikan senyum kepada peternak. Harga mulai menurun sebelum Pemilu," tuturnya, kemarin (27/2/2024).
Disebutnya harga babi sempat jatuh dari delapan bulan lalu. Pihaknya kemudian mencoba melobi pemerintah agar melakukan penetapan harga babi. Namun pemerintah dinilainya masih seperti setengah hati.
Lantas ia bertemu dengan para pelaku usaha serapan yang membeli babi. Setelah diajak kumpul bersama dan disaksikan pemerintah, akhirnya disepakati harga naik dari Rp25 ribu ke harga Rp36 ribu sesuai keinginan pembeli.
"Dalam hitungan satu minggu dari harga yang sudah kita tetapkan, harga naik tembus Rp42 ribu. Tiga minggu menjelang Pemilu, harga babi turun lagi dari harga Rp42 menyentuh sekarang Rp35 ribu sampai Rp36 ribu, cukup menyedihkan," ungkapnya.
Baca Juga: Sambut Galungan, Kuningan,Nyepi, Bali Kumara 9 Rilis That Twam Asi: Ini Pesan Melawan Candu Gadget
Bahkan menjelang Penampahan Galungan lalu, harga daging babi masih belum beranjak dari harga tersebut. Sedangkan harga pokok produksi rakyat Rp40 ribu.
"Makanya saya bilang hari raya ini tidak mampu menghapus tangis peternak, cukup miris saya sebenarnya. Dari enam bulan ke enam bulan kita ingatkan pemerintah agar memberikan suatu hal yang indah menjelang Hari Raya Galungan dengan karifan lokal yang kita miliki, mepatung," sambungnya.
Dijelaskannya tradisi mepatung atau patungan ini mempertemukan dua kepentingan dalam satu hari. Di satu sisi ada peternak yang ingin harga babi mahal dan di sisi lainnya ada pembeli yang ingin harga babi murah.
Baca Juga: Workshop Influencer BUMN Tingkatkan Kompetensi Konten Sosial Media, Kementerian BUMN dan Pertamina
Mepatung dilakukan dengan membeli babi hidup dari peternak rakyat untuk kalangan pemerintah dan dipotong. Kemudian hasilnya dijual kepada ASN atau pegawai yang merayakan Hari Raya Galungan.
Dicontohkan jika harga babi dibeli dengan harga Rp40 ribu dan ongkos potong Rp3 ribu/kg, sehingga totalnya menjadi Rp43 ribu. Jika ditambah dengan susut 20 persen, maka harga pokok babi menjadi Rp54 ribu/kg.
"Kalau seandainya mepatung ini dilakukan kemudian masyarakat konsumsi babi ini kemudian dijualkan Rp55 ribu, murah kan. Daripada kita beli di pasar Rp80 ribu sampai Rp90 ribu. Ini yang tidak dilakukan oleh pemerintah dan saya teriakkan dari dulu agar pemerintah membantu peternak rakyat," kata Suyasa.
Tradisi ini pernah dilakukan di Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan yang. Pemerintah desa membuat sebuah kesepakatan harga seminggu jelang Galungan bersama dengan tokoh masyarakat. Kemudian ditetapkan nilai jual produksi untuk potongan Rp37 ribu hingga Rp42 ribu.
"Solusi yang saya tawarkan kepada pemerintah membuat senyum rakyat menjelang Galungan agar tidak rugi yaitu mepatung masal, yang saya harapkan dilakukan Pemkab atau Pemprov yang dialokasikan dagingnya kepada ASN non Muslim atau ASN yang Hindu," paparnya.***
Editor : M.Ridwan