Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Nah! Ternyata PLTSa Surakarta, Jateng, Pakai Sampah RDF Dari Suwung, Ini Ceritanya

Marsellus Pampur • Sabtu, 16 Maret 2024 | 05:45 WIB
ilustrasi pembangkit listrik tenaga sampah- Jawa Pos.com
ilustrasi pembangkit listrik tenaga sampah- Jawa Pos.com

DENPASAR, Radar Bali.id-Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah, sejauh ini  memiliki tata pengelolaan sampah yang cukup canggih. Yakni sampah di kota tersebut telah diolah dan dikonversikan menjadi sumber pembangkit listrik.

Ini yang dinamakan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo atau dikenal sebagai PLTSa Solo.

Sumber pembangkit listrik tenaga sampah ini menggunakan generator listrik dengan teknologi plasma gasifikasi. Hal itu terungkap dalam kegiatan studi tiru yang dilakukan Dinas Kominfo bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gianyar ke Kota Surakarta, Kamis (14/3/2024).

 Baca Juga: PLTSa Suwung Butuh Rp1,7 Triliun, Dokumen Kajian Ditarget Juli 2019

Menariknya, dalam kunjungan ke Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta tersebut, terungkap fakta yang cukup mengejutkan. Ternyata sumber Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo juga menggunakan sampah yang dikirim dari Pulau Bali. 

Hal itu disampaikan oleh Analis SDM Aparatur Ahli Muda, Prajuti Nurchasanah mewakili Kepala DLH Kota Surakarta. Dijelaskannya, bahwa di awal berjalannya sumber pembangkit listrik itu, setidaknya membutuhkan 95 ton sampah per harinya. Namun jumlah itu cukup banyak diambil dari kota Surakarta sendiri.

Sehingga langkah yang diambil adalah mendapatkan tambahan pasokan sampah dalam bentuk Refuse Derived Fuel (RDF) yang dikirim dari Pulau Bali.

 Baca Juga: Tidak Sepakat dengan Tipping Fee, Koster Evaluasi PLTSa TPA Suwung

"Sampah RDf saat itu 95 ton per hari dan diambil dari Bali tepatnya dari TPA Suwung sebanyak 45 ton. Pengiriman RDF dari Bali dilakukan melalui kontainer," katanya.

"Jadi pakai kontainer dikirim. Sampah dipilah yang penting gak ada besi, kaca atau batu. Makanya kami gak punya aturan pembatasan plastik di Solo," sambungnya. 

dijelaskannya, bahwa pola penanganan sampah di Kota Surakarta dilakukan dengan cara jemput bola ke rumah tangga.

 Baca Juga: Pemprov Tunjuk Indonesia Power Garap PLTSa TPA Suwung, Ini Rencananya…

Penjemputan dilakukam menggunakan armada kelurahan untuk diangkut menuju TPA (TPS mobile). "Presentase rumah tangga yang melakukan pemilahan di sumber / RT adalah 31,62%," ucapnya.

Lanjutnya, untuk membantu melayani pengolahan sampah khususnya untuk masyarakat Kota Surakarta, dibantu oleh beberapa TPS3R Mojo Makmur, 1 Bank Sampah Induk dan 233 Bank Sampah Unit serta TPA Putri Cempo.

 

Dalam pengolahanya menggunakan metode bio drying dengan Teknologi Gasifikasi. "Peresentase sampah masuk TPA mencapai 94,039 persen " lanjutnya.

 

Dari sampah yang masuk ke TPA Putri Cempo kemudian diolah menjadi energi listrik menghasilkan sebanyak 8 megawatt listrik. Jumlah itu kemudian dikirim ke pihak PLN sebesar 5 megawatt untuk disalurkan ke para pelanggan. Lalu sisanya, 3 megawatt dipergunakan sebagai operasional dalam menjalankan kegiatan pengolahan sampah di TPA Putri Cempo.

 

Pengelolaan sampah di TPA Putri Cempo dengan teknologi gasifikasi benar-benar ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi, tidak menggunakan air terlalu banyak.

 

Residu dari pengolahan sampah ada 2 yaitu padat dan gas. Residu padat digunakan sebagai bahan baku pembuatan batako dan residu gas untuk disinfektan.

 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik Kominfo Gianyar, Ni Luh Made Astiti mewakili Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Gianyar mengungkapkan kunjungannya ke Kota Surakarta dimaksudkan untuk mengetahui pengelolaan sampah yang dilakukan yang bisa mengubah sampah menjadi energi listrik.

Diharapkan, hal itu bisa menjadi jalan keluar untuk mengatasi masalah sampah di Gianyar. [*]

 

 

Editor : Hari Puspita
#pltsa #suwung #sampah