Kabar Teranyar! Rencana LRT Bali Masih Gabeng, Groundbreaking Mundur September 2024, Ternyata Begini Penyebabnya
Ni Kadek Novi Febriani• Senin, 18 Maret 2024 | 15:25 WIB
LRT: Desain ilustrasi LRT Bali yang dirancang subway dari Canggu ke Bandara Ngurah Rai hingga kini belum jelas.
DENPASAR, radarbali.id - Rencana proyek LRT (Light Rail Transit) di Canggu ke Bandara Ngurah Rai Badung Bali sampai sekarang belum jelas.
Padahal rencana awal groundbreaking dilakukan Januari 2024, tapi ternyata diundur. Rencananya mundur menjadi September 2024. Kenapa?
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali IGW Samsi Gunarta menyampaikan pertengahan tahun diharapkan sudah jelas pendanaannya sehingga bisa segera dilakukan groundbreaking.
"Pertengahan tahun diharapkan sudah jelas pendanaan. Mudah-mudahan nanti kalau sudah jelas pendanaan sudah firm, dan kami diberikan izin oleh donor kemungkinan kami melakukan groundbreaking bulan September," terang Samsi ini saat dihubungi kemarin (17/3/2024).
Rencana kereta api akan buat di bawah tanah (subway) dengan anggaran yang fantastis. Awalnya dihitung akan menghabiskan Rp 7 triliun, tetapi akan dihitung ulang karena perhitungan tersebut itu dilakukan lima tahun lalu sekitar 2019 lalu.
Sehingga Samsi memperkirakan dana yang dibutuhkan dua kali lipat dari perhitungan awal.
"Anggarannya sedang dihitung ulang Rp 7 triliun itu perhitungan kami di tahun 2019/2020. Ini sudah lima tahun, jadi kemungkinan ada koreksi. Perkiraan kalau melihat harga Jakarta bisa dua kali lipatnya. Bisa bergerak. Kami belum dapat data yang firm lah," katanya.
Lebih lanjut diterangkan, anggaran mahal salah satu faktornya melihat kondisi tanah untuk dijadikan subway, hal itu membuat membutuhkan dana yang tinggi.
"Kalau Jakarta kelihatannya cukup tinggi karena mereka mengalami ada masalah dan sebagainya. Di kami sementara ini kelihatannya tidak ada tanah lunak semua masih batu dan jumping," tuturnya.
Sementara jalur kereta api yang dibuat, jalurnya dari Bandara I Gusti Ngurah Rai sampai di Cemagi, Badung karena merupakan daerah pariwisata.
Tahun lalu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi datang ke Bali untuk membahas tindak lanjut rencana pembangunan transportasi massal perkeretaapian di Bali di Denpasar, Bali, kemarin 17 Desember 2023 lalu.
Menhub menyampaikan ditugaskan menindaklanjuti rencana pembangunan LRT di Bali. Karena dukungan transportasi massal perlu dilakukan untuk mengantisipasi masalah kemacetan di Bali.
"Pulau Bali ini merupakan showcase pariwisata internasional dan memang terjadi kemacetan yang kronis yang bisa menjadi boomerang jika ini tidak kita tangani," papar Menhub di central parkir, Kuta bersama Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra dan Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta 17 Desember 2023 lalu.
Untuk penanggung jawab proyek, Menhub menjelaskan, pemerintah daerah Bali akan menjadi pemegang saham mayoritas yakni sebesar 51 persen, sedangkan pemerintah pusat sebagai minoritas dengan saham 49 persen.
"Jadi baik capital expenditure (capex) maupun operasional expenditure (opex), Pak Gubernur Bali dan Pak Bupati Badung sudah bersedia menjadi penyangga mendanai capex," lanjut Menhub waktu itu.
Adapun skema pendanaan dapat dilakukan dengan berbagai opsi, termasuk Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Sebelumnya, Korea Selatan telah menyatakan kesiapannya untuk membangun proyek LRT di Bali.
Menhub berharap setelah adanya koordinasi secara intensif bersama seluruh stakeholder, proyek pembangunan transportasi massal perkeretaapian di Bali ini bisa segera dimulai.
Seperti berita sebelumnya Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra menyampaikan, Bali sangat membutuhkan adanya transportasi massal modern.
"Pada jam-jam tertentu terjadi kemacetan luar biasa di Bali, terutama dari Bandara I Gusti Ngurah Rai ke wilayah Kuta sampai Canggu. Jadi kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak Presiden dan Bapak Menteri untuk kemajuan pariwisata di Bali," tuturnya.***