DENPASAR, Radar Bali.id-Wacana pembangunan rel kereta api bawah tanah di Bali terus bergulir. Sebelumnya beberapa perusahan yang tergabung di empat konsorsium China dan Eropa juga BUMN sudah mengajukan diri ke PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ).
Komisaris PT Sarana Bali Dwipa Jaya, Dodi Miharja mengatakan bahwa nilai investasi untuk pembangunan fasilitas kereta api bawah tanah ini diperkirakan menelan anggaran sekitar USD 20 miliar .
Angka USD 20 miliar ini bila di-kurs-kan ke rupiah saat ini, nilainya sekitar Rp 329, 3 triliun. Tepatnya Rp 329.730.000.000.000.
Angka ini didapatkan berdasarkan informasi dari para investor yang tertarik. Tentu saja ini sebuah angka yang tidak sedikit. Dari perbandingan yang dilakukan Jawa Pos Radar Bali, angka ini nyaris senilai dengan pembangunan IKN, di Kalimantan Timur (Kaltim), yang sebesar Rp 466 triliun.
Adakah investor berminat? "Ada beberapa investor yang kita ajak diskusi, mereka bilang potensi pengembangan itu mencapai USD 20 miliar," katanya di Denpasar beberapa hari lalu. Kendati demikian, hal itu masih sebatas verbal statement dari para investor. Bukan perhitungan resmi.
"Tapi itu kan baru verbal statement aja. Makanya kita perlu lihat di dokumen mereka," ujarnya. Dodi melanjutkan, ground breaking terkait rencana proyek ini tentunya akan dilakukan secepat. Apalagi kapasitas bandara I Gusti Ngurah Rai diprediksi akan mulai mengalami kendala.
Sehingga keberadaan kereta bawah tanah ini diharapkan bisa mengatasi masalah kepadatan tersebut. "Kita berharap sebelum tahun 2027 kita sudah (selesai dibangun)," tambahnya.
Sementara itu, terkait perusahaan yang tertarik menjadi investor, dia menjelaskan, pihaknya sudah menyelesaikan proses kualifikasinya dan saat ini sedang memasuki proses evaluasi hingga pertengahan Juli mendatang.
Terkait seperti apa konsep kereta bawah api yang akan dibangun, Dodi mengatakan pihaknya menunggu dari para calon investor.
"Kami belum menentukan (modelnya). Kita akan mendengar dari calon investornya. Jadi seperti apa modelnya, ada yang LRT ada yang MRT kita lihat dulu," ujarnya. Namun secara konsep, kereta ini nantinya akan mengakomodir pariwisata Bali.
Sementara itu, sebumnya PJ Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya berharap pembangunan kereta api bawah tanah ini nantinya bisa nengurai kemacetan di Bali. Dia mengatakan, proyek ini nantinya memprioritaskan kawasan-kawasan krodit namun menjadi pusat pariwisata.
Jalur kereta ini nantinya akan menjangka jalur dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Central Parkir Kuta, Seminyak hingga Canggu, Kuta Utara. "Itu kan daerah destinasi wisata favorit. Ini adalah kereta angkutan pariwisata. Beda dengan di DKI dengan bentuk komuter," ujarnya.
Dengan mengambil konsep kereta bawah tanah, rel yang akan dilalui kereta pariwisata ini nantinya juga akan memiliki rel di permukaan.
"Pada daerah padat penduduk, mau tidak mau kita bangun di bawah (tanah). Kalau bangun di atas kapan jadinya. Tapi pada daerah yang tak ada penghuni seperti di sawah, naik ke atas biar lihat view Bali juga," pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita