DENPASAR, radarbali.id - Bentuk akulturasi budaya dan toleransi yang tinggi dapat dilihat dalam perayaan Idul Adha dirayakan berbagai kalangan di Denpasar Jalan Batu Agung .
Tidak hanya pecalang yang ikut menjaga saudara-saudara Muslim saat salat, Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Denpasar Zhang Zhiseng ikut menyumbangkan seekor kambing A+.
Hadirnya Konjen RRT dihubungkan oleh Persatuan Islam Tionghoa (PITI) Provinsi Bali dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali. Konjen Tiongkok juga turut ikut menyumbangkan satu ekor kambing jenis A+ di Musala Baitul Mukminin BKDI (Badan Koordinasi Dakwah Islam) Bali.
Baca Juga: Libur Sekolah, Kunjungan ke Wahana Permainan Anak Meningkat Drastis
Hadir juga perwakilan Pemprov Bali turut menyumbangkan satu ekor sapi diwakili oleh Kepala Kesbangpol Bali, I Gusti Ngurah Wiryanata, Senin (17/6/2024).
Ketua DPW PITI Provinsi Bali Mulyono Lee menjelaskan Konsulat Jenderal RRT menghubunginya untuk bisa ikut turut serta merayakan Idul Adha bersama umat Islam di Bali. Konjen RRT langsung datang menyaksikan penyembelihan hewan kurban.
Tidak hanya itu juga ikut ramah tamah bersama tokoh masyarakat wilayah setempat, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali KH Mahrusun Hadiyono, Sekretaris MUI Bali H. Ismoyo Soemarlan dan Ketua DMI Kota Denpasar yang juga Takmir Musala Baitul Mukminin BKDI Bali, H. Mardi Soemitro selaku tuan rumah dan lainnya.
Hadirnya Konjen RRT, mempererat hubungan persahabatan antara RRT dengan Muslim Bali dan masyarakat Indonesia pada umumnya. "Dengan harapan menjalin hal positif, persahabat dan kerja sama lebih baik di masa akan datang," jelasnya.
Mulyono mengatakan Konjen sangat senang dan hadir di Hari Idul Adha. Perayaan Idul Adha bukan hanya hari raya umat Islam, tapi dinikmati semua agama dan etnis, karena pembagian daging bukan untuk masyarakat Muslim tapi juga umat lainnya di wilayah setempat.
"Bukan hanya hari umat Islam saja. Karena pemotomgan hewan lurban tidak hanya dibagikan warga Muslim tapi seluruhnya semua dibagikan. Tidak melihat agama dan sukunya," bebernya.
Maka dari itu dikatakan hari raya ini semua orang menikmati. Kata Mulyono, Konjen juga berpesan untuk Muslim Tionghoa di Bali supaya selalu berkegiatan yang baik dan positif. Tidak merusak kedamaian dan keragaman yang sudah terjalin.
"Bisa saling memahami tidak terjadi salah paham. Tetap menyuarakan kebenaran informasi yang benar mengenai Tiongkok atau Islam," ucapnya.
Adapun jumlah Muslim Tionghoa yang ada di Bali sekitar 200 kepala keluarga (KK). Hal senada juga diungkap Kepala Kesbangpol Bali I Gusti Ngurah Wiryanata menyatakan hadirnya Konjen RRT bentuk toleransi beragama di Bali.
Lebih lanjut dikatakan di dalam sebuah keragaman adalah bentuk keindahan.
"Menunjukkan toleransi beragama bagaiaman menghargai dan saling menghormati. Berharap apa gang dikurbankan dengan tulus ikhlas. Sehingga memberikan kedamaian dan kebahagian," jelasnya.
Pemerimtah daerah hadir sebagai wunud dengan keragaman ini menjadi keindahan. Keberagaman menjadi modal kemajuan di Bali. Toleransi keberagaam di Bali diklaim baik dan semakin baik.
"Banyak akulturasi yang jalan. Ada yang takbiran bawa baleganjur mungkin tidak ditemukan daerah lain. Sebaliknya teman-teman krisitiani teman-teman banser yang jaga. Atau teman-teman Muslim merayakan pecalang yang jaga," ungkapnya, bangga.***
Editor : M.Ridwan