Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dimulai dari Lombok, Indonesia akan Menghitung Nilai Aset Sumber Daya Laut

Marsellus Nabunome Pampur • Kamis, 4 Juli 2024 | 05:36 WIB
GOAP: Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut KKP Indonesia, Victor Gustaaf Manoppo (tengah)  ditemui usai acara Global Ocean Accounts Partnership di Sanur, Rabu, 3 Juli 2024.
GOAP: Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut KKP Indonesia, Victor Gustaaf Manoppo (tengah) ditemui usai acara Global Ocean Accounts Partnership di Sanur, Rabu, 3 Juli 2024.

DENPASAR, Radar Bali-Sebanyak lima negara kepulauan, mulai dari Indonesia, Belize, Palau, Samoa, Maladewa dan Papua Nugini berkumpul di Bali. Para delegasi dari masing-masing negara akan membahas banyak hal terkait pengetahuan dalam penghitungan nilai terhadap aset sumber daya laut yang dimiliki negara kepulauan dalam event Global Ocean Accounts Partnership (GOAP).

 GOAP sendiri merupakan forum kemitraan di bidang ocean accounting yang keanggotaannya bersifat non-binding atau tidak terikat perjanjian hukum. Terdapat 34 anggota GOAP yang meliputi negara termasuk Indonesia, forum antar negara, badan riset, dan swasta.

Keanggotaan Indonesia di GOAP diwakili oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan tiap negara. Event tersebut digelar di The Meru, Sanur Denpasar Selatan sejak Senin (1/7) hingga Jumat (5/7).

 Baca Juga: Tingkatkan Kesadaran Generasi Muda tentang Peran Penting Laut, JHub Art Space Gelar Pameran Seni dan Laut Bersatu

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut KKP Indonesia, Victor Gustaaf Manoppo menjelaskan, beberapa hal yang dilakukan tim penyusun ocean accounts dalam kegiatan itu yakni mengukur status dan nilai moneter asset laut, mengukur aliran barang dan jasa dari laut ke ekonomi, mengukur dampak kegiatan ekonomi terhadap ekosistem laut, meningkatkan kualitas tata kelola. Selain itu juga mengukur kebijakan tata ruang, konservasi, investasi, partisipasi, memonitor, tracking dan pelaporan capaian kinerja.

 

“Kita kebayang sumber daya laut kita sampai saat ini belum terdata seperti apa kondisinya, berapa valuasi ekonominya. Ini menjadi tools, alat untuk mengetahui seberapa besar sumber daya kelautan yang kita miliki termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi menjadi baik atau tidak baik. Termasuk juga faktor perizinan yang diberikan pemerintah, apakah nanti bisa memberi nilai tambah yang baik atau sebaliknya,” katanya di The Meru, Sanur, Denpasar, Rabu, 3 Juli 2024).

 Baca Juga: Cek Fakta! Laut Bali Dikaji untuk Penyerapan Emisi Karbon, Pemprov Bali Sebut Laut hanya Dinikmati Pusat

 Sebelumnya, Indonesia sebagai negara kepulauan belum pernah membuat valuasi atau penghitungan terhadap nilai aset sumber daya lautnya. Sehingga untuk pertama kalinya, Indonesia akan melakukan valuasi. Lokasi pertama yang menjadi objeknya adalah Gili Manta, yang ada di Lombok, NTB.

 

“Kita mulai dari hal yang menjadi model dulu  di Gili Manta. Ini kawasan konservasi nasional yang harus kita jaga. Kita lihat di situ banyak juga turis datang, sementara konservasi di sana itu harus kita jaga. Nanti next ke depan kita mulai dari Aceh sampai Papua,” pungkasnya. ***

Editor : Made Dwija Putera
#sumber daya laut #negara maritim #kkp #konservasi