DENPASAR, radarbali.id – Penanganan sampah di Kota Denpasar belum menemukan titik terang. Setelah dibangun tempat pengolahan sampah terpadu (TPST),tetapi sampai saat ini belum bisa menyelesaikan permasalahan sampah di Denpasar. TPST Kesiman kertalangu juga dikeluhkan oleh masyarakat karena menebar bau tak sedap/busuk.
Masalah ini disoroti Prof IGB Wijaya Kusuma Dosen Fakultas Teknik Universitas Udayana turun langsung memantau infrastruktur yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo Maret 2023 lalu.
Prof Wijaya melihat tempat tersebut kurang memenuhi syarat dari sisi hiperkes karena udara yang ada di dalam gedung tidak bersirkulasi dengan baik, dan bau yang ada di dalam gedung mengalir secara natural (free flow) keluar yang berdampak pada aroma kurang sedap ke lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, Prof Wijaya menerangkan seharusnya di atap gedung dilengkapi dengan fasilitas exhaust blower dengan sistem hisap (forced flow dengan tenaga mekanis) yang menghisap udara di dalam gedung.
”Kemudian semua udara tersebut dimasukkan ke dalam suatu alat untuk menghilangkan bau menyengat (deodorized). Setelah melewati alat deodorized ini dan berkualitas udara sudah sesuai standar, barulah udara tersebut dilepaskan ke lingkungan,” beber Prof Wijaya kepada Jawa Pos Radar Bali.
Secara teknis, metode pengeringan di TPST Kesiman Kertalangu dilakukan rotary dryer seharusnya efektif hingga 90 persen dan memerlukan waktu pengeringan sekitar 2 jam untuk kadar air 40 persen dan perlu waktu 4 jam untuk kadar air 10 persen.
Berdasar data yang hasil tinjauan Prof Wijaya di lapangan, satu rotary dryer untuk kadar air 40 persen hanya mampu mengeringkan 9 ton per siklus. Saat beroperasi 24 jam, yang efektif hanya 18 jam, hanya bisa mengeringkan 81 ton per hari. ”Sementara untuk kadar air 10 persen hanya mampu mengeringkan 9 ton kali empat siklus per hari,” jelas Guru Besar yang konsen dengan terhadap energi.
Secara total dua rotary dryer yang ada di TPST Kesiman Kertalangu hanya mampu mengeringkan 120 ton per hari, maka kalau targetnya bisa mengolah 450 ton per hari diperlukan ada pengembangan area empat kali lipat dari luasan yang ada saat ini.
Ia menambahkan bau menyengat yang tempo hari terjadi akibat penumpukan sampah yang belum terolah dan terangkut saat itu. ”Penumpukan itu terjadi karena kapasitas pengeringan hanya maksimum 120 ton per hari,” tandasnya.
Baca Juga: PSK Rusia Banderol Rp 5 Juta Sekali Kencan, Lolos dari Jerat Hukum, Cuma Dideportasi
Sementara itu, saat diwawancara beberapa hari lalu dengan Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya menyatakan, untuk mengentaskan sampah yang menggunung di TPA Suwung, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menunjuk perusahaan daerah SBDJ (Sarana Bali Dwipa Jaya)bekerja sama dengan investor menyelesaikan persoalan sampah di Bali dengan wise energy.
Rencananya pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah, sekaligus incinerator. Pj Gubernur berambisi membuat teknologi menyelesaikan sampah seperti di Singapura. ”Ya sekaligus (incinerator) ya sekaligus tapi itu teknologinya luar biasa tidak kalah sama Singapura,” ungkap purnawirawan polri ini.***
Editor : M.Ridwan