Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Proyek Subway Wajib Perhitungkan Aspek Sosial dan Kultur, Pesimis Bisa Cegah Kemacetan, Begini Alasan Pakar

Ni Kadek Novi Febriani • Minggu, 8 September 2024 | 00:55 WIB

 

DIRAGUKAN: Peta jalur jalan bawah tanah atau MRT yang dirancang perdana adalah Canggu ke Bandara Ngurah Rai
DIRAGUKAN: Peta jalur jalan bawah tanah atau MRT yang dirancang perdana adalah Canggu ke Bandara Ngurah Rai

DENPASAR, radarbali.idRencana pembangunan kereta bawah tanah atau Bali Urban Subway (BUS) diragukan bisa atasi kemacetan di Bali. Kok bisa?. Justru malah dikhawatirkan  menimbulkan kemacetan yang baru, jika tidak ada perhitungan yang komprehensif. 

Akademisi Universitas Udayana Prof Rumawan Salain  mengapresiasi terobosan Pemerintah Provinsi Bali membangun kereta bawah tanah sebuah lompatan  menyelesaikan problematika transportasi. 

Namun, ia meminta Pemprov Bali memikirkan aspek sosial dan kulturnya.

”Semua tahu macet. Apakah ini menuntaskan macet? kalau saya bilang tidak karena akan memindahkan kemacetan tempat lain. Tidak mencakup pada publik yang di maksud. Saya bilang maaf, di samping teknologi mahal infrastruktur mahal sekali,”ungkap Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Udayana ini dihubungi kemarin (5/9/2024). 

Kelak LRT ini terbangun akan memunculkan kemacetan yang baru, karena belum terintegrasinya transportasi publik. Banyak yang akan tergusur karena LRT. ”Misalkan di bandara tidak ada taksi. Mau kemana taksinya.  Ini harus serius ngitungnya,”bebernya.

Rumawan juga menyinggung belum ada presentasi yang dilakukan di DPR RI terkait pembangunan kereta bawah tanah ini. Proyek ratusan triliun, Rumawan  takut sebenarnya  Bali sedang dijual.

”Teman-teman saya di DPR RI saya tidak pernah dengar mereka presentasi. Karena ini proyek ratusan triliun gampang-gampang menjual Bali. Saya takut Bali lagi dijual, tanah di atas sudah tidak ada. Pengerukan benoa tidak diizinkan. Di bawah tanah saja kasih LRT, orang Bali dikasi LRT  demen, katanya murah berapa murahnya,” sentil Prof Rumawan. 

 Lebih lanjut soal kedalaman menjadi pertanyaan, sesuai aturan tata ruang kedalaman diperbolehkan 30 meter, ia mempertanyakan dampaknya tanah dibor sampai 30 meter. 

Bagi Rumawan, wacana memanfaatkan ruang bawah tanah akal-akalan, karena sudah kehilangan akal melakukan pembangunan di atas tanah.

”Saya menduga akan tembus ke pinggir pantai. Maaf saya tidak mengerti kok Bali yang dimiliki banyak orang ini, ada yang berpikir semaunya,”keluhnya.  

Prof Rumawan menyarankan untuk memikirkan nasib  masyarakat yang bergerak di bidang transportasi darat. Apakah sudah sudah masuk di feasibility study.   

Perhitungan tarif juga harus ada landasan. Pembangunan ini  memang bisnis murni karena pembiayaan tidak menggunakan anggaran negara dan anggaran pemerintah daerah, maka  dikaji lebih matang supaya tidak merusak lingkungan hanya untuk membalikkan modal.

Terlebih penting juga integrasi transportasi setelah adanya LRT dipikirkan. Terlebih Pemprov Bali memiliki transportasi umum Sarbagita dan Trans Metro Dewata.

”Baru saja 2023 Pemerintah Australia menawarkan hibah BRT berbasis listrik bagaimana itu. Bagaimana integrasi darat ada LRT, BRT dan Trans Metro Dewata ada lain-lainnya,”jelasnya.

Prof Rumawan berharap jika nanti dibangun LRT dibuka untuk umum, tidak bisa untuk akses orang tertentu. Supaya masyarakat Bali bisa memanfaatkannya sehingga apa yang diharapkan dari pembangunan tercapai yakni menyelesaikan kemacetan. 

Seperti diketahui rencana pembangunan Bali Urban Subway yang diinisiasi pada Bulan Februari 2024, PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) bersama PT Bumi Indah Prima (BIP) tekah dilaksanakan  upacara ngeruwak sebagai tanda awal dimulainya proyek tersebut. Adapun Upacara ngeruwak yang bertempat di Sentral Parkir Kuta  Rabu (4/9).

Upacara ngeruwak ini kemudian disertai dengan membersihkan pekarangan, lalu mengukur lahan.  Kolaborasi Strategis Proyek Bali Urban Subway ini terwujud atas inisiasi Pemprov Bali yang kemudian ditindaklanjuti oleh PT SBDJ yang berkolaborasi dengan PT BIP untuk membangun sarana angkutan umum massal berbasis kereta di Pulau Bali.

Dalam pelaksanaannya, PT SBDJ telah menetapkan PT Indotek sebagai kontraktor utama bersama China Railway Construction Corporation (CRCC) yang akan bekerja sama dengan kontraktor lokal PT Sinar Bali Bina Karya (Sinar Bali).

Ari Askhara, Direktur Utama PT SBDJ mengatakan Indotek mempunyai kemampuan teknis yang mumpuni untuk mengerjakan proyek sebesar ini, sedangkan CRCC dipilih  memang mempunyai reputasi sebagai kontraktor transportasi kereta global yang memiliki pengalaman membangun 200.000km di lebih 100 negara. 

”Sedangkan PT Sinar Bali Bina Karya adalah kontraktor lokal Bali penyedia ready mix dan precast terbaik di Bali sejak 1995. Pemilihan PT Sinar Bali sebagai kontraktor lokal juga merupakan realisasi komitmen Konsorsium PT SBDJ dan PT BIP untuk memberdayakan dan mengembangkan sumber daya manusia asli Bali,”tandasnya. ***

Editor : M.Ridwan
#canggu #kemacetan #kereta bawah tanah #jalan bawah tanah #Bali Urban Subway #radarbali