Nama Sagung Wah atau Sagung Ayu Wah begitu akrab bagi warga Tabanan. Figur wanita pemberani ini adalah keturunan dari Raja Tabanan yang memimpin perlawanan terhadap imperialisme Belanda yang bercokol di Nusantara.
SOSOK pahlawan Sagung Wah sudah tidak asing bagi masyarakat Tabanan dan sebagian krama Bali, umumnya. Itu dibuktikan dengan berdirinya sebuah patung keren sebagai penanda, tentang sosok Sagung Wah yang megah di Jalan Gunung Agung, Delod Peken, Tabanan.
Tak tanggung-tanggung, patung ini dibuat seniman patung tersohor asal Tabanan yang tinggal di Bandung, Jawa Barat, I Nyoman Nuarta. Selain itu didirikan pula sebuah Museum Sagung Wah di dekat Taman Bung Karno Tabanan.
Singkatnya, Sagung Wah adalah keturunan dari seorang puteri Raja Tabanan Ida Sri Arya Ngurah Tabanan. Perempuan yang heroik ini adalah adik bungsu dari I Gusti Rai Perang Raja Tabanan XXI. Di dalam silsilah keluarga Sagung Wah memiliki sembilan saudara.
Baca Juga: Pameran Foto dan Lukisan Semarakkan Museum Sagung Wah
Sekarang ini Sagung Wah masih menurunkan turunan keluarga besar dari Kakaknya : I Gusti Rai Perang yang masuk dari keluarga Puri Dangin Tabanan dan Puri Dangin Jegu.
Dalam mengulik perjalanan kisah singkat Sanggung Wah Jawa Pos Radar Bali yang mewawancarai keluarga besarnya di Puri Dangin, Tabanan, Selasa (5/11/2024).
I Gusti Ngurah Anik Aryanto didampingi anaknya, I Gusti Ngurah Gde Nugraha mengaku sekilas soal refleksi perjuangan perlawanan Sagung Wah terhadap Belanda sejatinya telah baca dibukukan.
Salah satunya perlawanan perang terhadap Belanda Wongaya Gede. Sagung Wah bersama pimpinan Laskar Wongaya Pan Kandar pada 28 November 1906 memimpin perang melawan kolonialisme Belanda. [*]
Editor : Hari Puspita