DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Menyikapi berkembangnya isu mengenai pelarangan akses masuk pemedek yang hendak sembahyang ke Pura Sakenan Serangan Denpasar, mendapat respons dari pengelola PT Bali Turtle Island Develpoment (BTID).
Head of Communication PT BTID Zakki Hakim justru menyilahkan warga khususnya krama adat Serangan Denpasar untuk menjalankan persembahyangan ke pura dengan nyaman. Artinya pihak pengelola tidak membatasi atau memperketat untuk masuk ke kawasan KEK Kura-Kura Bali.
“Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-kura Bali tidak pernah membatasi atau memperketat warga Serangan yang ingin melakukan ibadahnya ke pura,” terang Zakki Hakim kepada media saat Media Gathering, Selasa (17/12/2024).
Zakki menyampaikan hal itu terkait adanya warga lokal Desa Serangan, Denpasar yang mengaku kesulitan karena diperketat masuk kawasan untuk beribadah ke Pura Tirtha Harum.
“Kami perketat itu tidak ada, asalkan warga Desa Serangan dan menggunakan pakaian adat, ya langsung masuk saja. Kita tidak membatasi untuk orang beribadah,” kata Zakki, meluruskan informasi yang berkembang di lini massa.
Sebelumnya beredar informasi soal akses masuk yang ketat di KEK, bahkan warga lokal di wilayah tersebut wajib menunjukkan KTP jika ingin datang ke Pura Tirtha Harum, pura tempat mereka sembahyang dari dulu.
Zakki menambahkan, area KEK Kura-Kura Bali memang ketat sebab di dalamnya tidak hanya milik PT BTID namun juga investor global sehingga perlu pengawasan terhadap setiap pengunjung, namun urusan persembahyangan tidak ada kewajiban umat menyetor KTP terlebih dahulu.
“Kalau upacara sehari-hari bawa motor itu aman-aman saja, tidak ada masalah, kalau mungkin ada upacara besar yang melibatkan banyak warga dengan perlengkapan sembahyangnya, harus membawa surat dulu dari desa adat setempat sebagai pemberitahuan saja. Untuk kita mudah berkoordinasi,” jelas Zakki.
Pengelola kawasan mengklaim selama ini berhubungan baik dengan warga Desa Serangan dalam hal akses untuk upacara keagamaan, bahkan selain Pura Tirtha Harum, masih ada tujuh pura lainnya yang bisa didatangi warga adat.
Terkait instruksi bersurat saat membawa rombongan umat, menurut Zakki ini demi keamanan bersama. Sebab lanjutnya, KEK Kura-kura Bali masih dalam tahap konstruksi yang berpotensi bahaya karena banyak alat berat beroperasi di sejumlah area tersebut yang jika tak diatur dengan baik bisa saja mengganggu kenyamanan pemedek. ***
Editor : M.Ridwan