DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Nasib Bus “Tayo” atau Trans Metro Dewata(TMD) resmi pamit alias tamat, kemarin (1/1) 1 Januari 2025. Manajemen Trans Metro Dewata mengumumkan secara resmi berhenti beroperasi di sosial media.
Berhentinya transportasi umum ini tentu menuai pro dan kontra. Pengamatan koran ini bus tayo terparkir rapi di Sentral Parkir Kuta. Biasanya bus tersebut hilir mudik mengangkut penumpang.
Dikonfirmasi dengan Manager Operasional PT Satria Trans Jaya (Trans Metro Dewata) Ida Bagus Eka Budi membenarkan pemberhentian beroperasi bus tersebut. Namun, dikatakan sementara sampai ada keputusan pemerintah pusat.
Baca Juga: Waduh! Bus Trans Metro Dewata Terancam Tamat, Pemerintah Pusat Sikapi Begini
Bagaimana nasib para sopir dan armada? Budi menyatakan, masih siaga walau tidak beroperasi. Biaya operasional bus dengan sistem transportasi bus raya terpadu menghabiskan sekitar Rp 75 miliar per tahun."Sekitar (Rp 75 miliar, Red)," ucap Budi.
Jumlah penumpang tahun 2024 berdasar data yang diberikan, TMD melayani 1.701,148 penumpang setiap harinya. Rerata penumpang per hari 5,109 orang.
Adapun koridor yang paling banyak penumpangnya rute Sentral Parkir Kuta- Terminal Pesiapan, Tabanan.
Diberhentikan bus tersebut sesuai pernyataan Kadishub Bali IGW Samsi Gunarta karena pemerintah pusat tidak menyediakan pendanaan, sehingga meminta pemerintah provinsi Bali dan pemerintah kabupaten/kota untuk mengelola.
Hanya saja, kata Samsi Pemprov Bali tidak memiliki kapasitas untuk itu.
Berdasar rilis yang dibuat oleh Kadishub Bali disebutkan Pemerintah Bali sedang menegosiasi agar Kementerian Perhubungan tetap dapat memberikan alokasi bagi layanan Trans Metro Dewata bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk memastikan tersedianya layanan transportasi berkualitas di Wilayah Provinsi Bali ke depan.
Penganggaran Bus Trans Metro Dewata selama ini berasal dari APBN Kementerian Perhubungan. Penghentian anggaran untuk layanan ini sepenuhnya merupakan kebijakan Kementerian Perhubungan RI.
Diwawancarai tempat terpisah, Cagub Terpilih Pilgub 2024 Wayan Koster juga mengaku telah mendengar informasi TMD akan berhenti beroperasi. Setelah dilantik pihaknya akan mencoba menghidupkan kembali.
Dijelaskan, bus berwarna merah itu adalah program pemerintah pusat. Kemungkinan ada kendala pada anggaran sehingga tidak dilanjutkan oleh Kementerian Perhubungan.
Menurut Koster, sesungguhnya keberadaan sarana transportasi TMD sudah mulai diminati masyarakat, juga butuhkan pelayanan transportasi publik untuk mengurangi kendaraan pribadi.
"Karena ini tidak berlanjut dari Kementerian sekarang saya belum menjabat jadi saya belum bisa mengatakan rapat koordinasi dengan pihak terkait," ucapnya.
Gubernur periode 2018-2023 ini menegaskan, pada prinsipnya program ini harus dilanjutkan, dengan pengelolaan lebih baik dan efisien untuk masyarakat Denpasar, Gianyar, Badung dan Tabanan.
Disinggung apakah akan upaya pembagian pendanaan antara Pemprov dengan pemerintah kabupaten/kota? Koster mengamini, sesungguhnya layanan transportasi publik ini untuk warga Bali, seharusnya menjadi beban bersama pemerintah provinsi dengan Pemerintah Kota Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan atau wilayah Sarbagita.
"Karena ini kan program untuk wilayah Sarbagita. Sebenarnya sih Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota ini yang harus mensupport dari sisi anggaran. Tapi, kalau dapat dukungan dari pusat itu sangat diharapkan kalau tidak kami yang harus tangani," beber Koster.***
Editor : M.Ridwan