DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Pemerintah Provinsi Bali mendapat hibah 10 bus listrik dari pemerintah Korea Selatan melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Korea.
Penyerahan dilakukan Kamis (10/4/2025) diterima Gubernur Bali Wayan Koster di Wiswa Sabha Kantor Gubernur Bali.
Kerja sama ini tidak hanya Pemprov Bali tapi juga didukung Global Green Growth Institute (GGGI). Kemitraan dalam bidang transportasi berkelanjutan, tak lama setelah kunjungan mereka ke Jakarta.
Koster menyebut, jika dinominalkan sebesar Rp 75 miliar sekaligus charging. Contoh bus juga dipamerkan yang ukurannya cukup panjang sekitar 12 meter.
Supaya cocok mengaspal di Bali, Koster request supaya diberikan lebih kecil ukuran 8 meter denva. Kapasitas 30 penumpang.
”Kami minta 8 meter yang size lebih kecil supaya cocok dengan kondisi jalan di Bali. Sekarang proses pemesanan diperkirakan baru selesai 7 sampai 8 bulan ke depan,” kata Koster usai acara Kamis (10/4/2025).
Baca Juga: Lagi, TPA Suwung Terbakar, Damkar Denpasar Kerahkan Empat Armada untuk Padamkan Rambatan Api
Tidak hanya soal ukuran, Koster juga memberikan perminataan khusus soal desain supaya berwarna merah, hitam dan putih yang bermakna Tridatu. Dalam kepercayaan Hindu Bali melambangkan manefestasi Tuhan sebagai Tri Murti.
”Desainnya yang kami inginkan warna merah. Warna merah kombinasi hitam dan putih jadi tridatu,” pinta Mantan DPR RI tiga periode ini.
Rute beroperasi bus listrik ini dikhususkan di kawasan Sarbagita. Terutama daerah keramaian seperti; Kampus Universitas Udayana, Tanah Lot dan Ubud.
Koster menyatakan, hanya Bali yang diberikan hibah bus listrik dari Korea, karena komitmen dalam kebijakan ramah lingkungan. Maka, Pejabat asal Sembiran, Buleleng menargetkan harus berhasil, jangan sampai bus listrik ini tidak berfungsi.
”Hanya diberikan baru Bali sebagai percontohan harus berhasil,” jelasnya.
Kendati bus diberikan gratis, saat beroperasi nanti , Pemprov Bali memasang tarif untuk penumpang.
Wayan Koster menjamin, tarif bus tidak akan mahal memberatkan masyarakat maupun wisatawan.
”Dikenakan tarif. Murah,” tegasnya.
Koster mengungkapkan pengalamannya menggunakan sedan listrik. Pengeluarannya hemat capai 78 persen. Biasanya dengan kendaraan konvensional Denpasar-Buleleng pulang pergi menghabiskan sekitar Rp 600 ribu untuk membeli bahan bakar.
Sedangkan dengan mobil listrik hanya merogoh kocek Rp 131 ribu.
”Jauh 78 persen lebih murah. Tidak bikin polusi,” ucapnya.
Salah satu tujuan dari kunjungan ini adalah dalam rangka Proyek Piloting Electric Vehicle Systems and Developing a Green Transportation Investment Roadmap in Bali (Bali E-mobility Project), yang didanai oleh KLH Republik Korea dan didukung oleh GGGI.
Proyek ini bertujuan untuk mendukung prioritas strategis Pemerintah Indonesia dalam menstimulasi investasi untuk mempercepat transportasi berkelanjutan dan ramah lingkungan dengan memperkenalkan bus listrik dan secara bersamaan berkontribusi pada target Kontribusi Nasional yang Diniatkan (NDC), atau yang juga dikenal sebagai komitmen iklim.
Program ini dilaksanakan bersama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Pemerintah Provinsi Bali.
Emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi di Bali telah mencapai 43% dari total tingkat emisi, namun Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan kebijakan dan peraturan yang mendukung untuk menarik investasi dalam penggunaan kendaraan listrik dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaatnya.
“Transportasi yang berkelanjutan akan memberikan manfaat bagi 4,4 juta orang yang tinggal di Bali. Hal ini tidak mudah dan diperlukan kebijakan dan peraturan yang efektif yang memungkinkan investasi transportasi ramah lingkungan untuk mencapai tujuan ini. Kami menghargai kunjungan delegasi Korea ke pulau kami, dan kami berharap kami dapat belajar dari satu sama lain,” kata Gubernur Bali Dr. I Wayan Koster.
Studi kelayakan proyek yang sedang berlangsung akan membantu menentukan rute penyebaran bus listrik, jumlah dan jenis bus dan unit pengisian daya, serta lokasi depo bus listrik yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat Bali dan wisatawan, mengingat reputasi Bali sebagai destinasi wisata nomor satu di Indonesia.
Baca Juga: Titiek Puspa Meninggal Dunia, Inul Daratista Terpukul Kenang Jasa Sang Legendaris dalam Hidupnya
“Selain pariwisata, Bali juga telah menjadi contoh utama kepemimpinan lingkungan dengan kebijakan inovatifnya untuk mempromosikan keberlanjutan.
Kementerian Lingkungan Hidup Republik Korea berkomitmen penuh untuk mendukung masa depan Bali yang berkelanjutan dan siap untuk bergabung dengan Anda dalam perjalanan penting ini,” ujar Wakil Menteri KLH Republik Korea, Lee Byounghwa.
Pengembangan ekosistem kendaraan listrik menjadi salah satu strategi kebijakan transisi energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan pada 2045. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
Baca Juga: Innalillahiwainnalillahirojiun, Artis Titiek Puspa Meninggal Dunia, Sang Anak Minta Maaf
Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang energi bersih dan Peraturan Gubernur Nomor 48 Tahun 2019 tentang penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai memberikan landasan bagi rencana aksi daerah provinsi untuk mempercepat elektrifikasi kendaraan pribadi dan peluang transportasi umum.
Pada jangka panjang, proyek ini akan menjajaki peluang pembiayaan iklim untuk mendukung elektrifikasi transportasi massal di daerah lain di Indonesia, menjadikan Bali sebagai lokasi percontohan dan contoh praktik terbaik.***
Editor : M.Ridwan