NEGARA, Radar Bali .id- Ombak besar yang terjadi beberapa hari terakhir ini, membuat abrasi pantai di Jembrana semakin parah.
Salah satunya jalan rabat beton di pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, hancur karena ombak besar membuat bagian bawah akses jalan nelayan ini tergerus akhirnya amblas.
Amblasnya jalan rabat beton ini, sudah terjadi sejak sepekan terkahir. Ombak besar yang terjadi, membuat bagian bawah jalan rabat beton terkikis, hingga akhirnya sekitar 5 meter rabat beton hancur.
Warga memanfaatkan halaman rumah warga untuk akses jalan motor dan pejalan kaki. ”Sejak seminggu ini jala putus, setiap harinya semakin parah,” ujar salah seorang warga.
Jalan rabat beton tersebut, hanya sekitar 20 meter dari batas paling barat revetmen pengaman pantai yang dibangun tahun 2024.
Sekitar jalan rabat beton, masih ada beberapa rumah warga yang menggunakan jalan sebagai akses utama. Jalan tersebut, juga akses utama khususnya nelayan yang meletakan perahu di pinggir pantai yang belum dibangun senderan.
Klian Banjar Pebuahan Kanzan mengatakan, jalan rabat beton di pesisir pantai ini putus karena ombak besar membuat abrasi semakin parah. Terdapat 15 kepala keluarga (KK) yang rumahnya berada di sisi barat jalan rabat beton yang putus. Meskipun putusnya jalan tidak sampai terisolasi, akses jalan nelayan terbatas untuk membawa hasil tangkapan ikan karena hanya bisa menggunakan motor. ”Warga hanya keterbatasan akses jalan saja. Tidak terisolasi,” ujarnya.
Menurutnya, warga sudah meminta bantuan karung untuk membuat tanggul sementara di lokasi jalan yang amblas. Karena jika tidak segera ditangani, rumah warga yang terancam terdampak abrasi yang semakin parah.
”Warga sudah minta bantuan karung, nanti akan diisi pasir untuk tanggul. Kami masih upayakan cari karung bekas di tambak atau warga yang punya karung bekas,” ungkapnya.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana I Putu Agus Artana Putra mengatakan, mengenai terputusnya jalan rabat beton ini, pihaknya sudah memerintahkan tim reaksi cepat untuk melakukan asesmen.
”Kami lakukan asesmen dulu untuk melihat kondisi jalan rabat yang putus,” ungkapnya.
Agus menjelaskan potensi ancaman bencana gelombang ekstrim dan abrasi di Jembrana, terjadi hampir di semua kecamatan karena hampir semua wilayah berbatasan langsung dengan laut. ”Berdasarkan kajian, secara umum Kabupaten Jembrana memiliki dominan kelas risiko tinggi untuk bencana gelombang ektrim dan abrasi,” ujarnya.
Tingkat risiko setiap desa dan kecamatan berbeda, ada yang risiko sedang dan tinggi. Salah satu Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan merasakan potensi risiko tinggi dari bahaya gelombang ekstrim dan abrasi. Bahkan termasuk kategori risiko tertinggi dibandingkan dengan daerah lain. [*]
Editor : Hari Puspita