Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cuaca Buruk Masih Berlanjut, Bulan Agustus Diprediksi Puncak Gelombang Tinggi Selat Bali, Begini Peringatan BMKG

Muhammad Basir • Jumat, 1 Agustus 2025 | 18:50 WIB
Ilustrasi ombak besar-Freepik/JPG
Ilustrasi ombak besar-Freepik/JPG

 

NEGARA, Radar Bali.id - Pelabuhan penyeberangan Selat Bali, sejak beberapa hari terakhir buka tutup karena angin kencang dan gelombamg tinggi. Cuaca ekstrem sejak bulan Juni ini, puncaknya terjadi pada bulan Agustus sehingga perlu diwaspadai oleh penyeberangan dan nelayan.

Kepala Stasiun Klimatologi Bali di Jembrana Aminudin Al Roniri, melalui staf Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) pertama Trayi Budi Samantu menjelaskan, secara umum pada bulan Juni, Juli dan Agustus, terjadi angin kencang.

Ketika terjadi angin kencang, pasti terjadi gelombang tinggi, yang puncaknya bulan Agustus. ”Bahkan lebih tinggi dari biasa. Angin lebih besar atau kencang dari normal,” ungkapnya.

Kondisi ini terjadi di seluruh perairan Indonesia. Angin kencang dan gelombang tinggi dari pada bulan Juni hingga Agustus tahun- tahun sebelumnya, karena sedang terjadi siklon tropis sebelah timur perairan Jepang. Karena itu, selain angin kencang lebih tinggi, musim kemarau ini masih terjadi menung dan hujan.

Angin kencang dan gelombang tinggi, bahkan di atas rata-rata bisa dilihat berbandingan gelombang tinggi yang terjadi. Perairan selatan Bali, normalnya 0,5- 1 5 meter bisa mencapai maksima 2,5 - 3 meter. ”Karena diatas normal, perlu diwaspadai,” terangnya.

Dampak dari angin kencang dan gelombang tinggi ini, berpotensi besar terjadi pohon tumbang, banjir rob, gelombang pasang yang lebih tinggi seperti sebelumnya. Para nelayan, harus mewaspadai potensi gelombang tinggi ini yang bisa membahayakan nelayan.

Khusus untuk penyeberangan Selat Bali, pihaknya mengimbau pada instansi terkait untuk selalu memantau informasi cuaca dari BMKG. ”Pelabuhan penyeberangan, jika terjadi cuaca ekstrem lebih baik tutup sementara untuk mengantisipasi gangguan pelayaran hingga kecelakaan laut,” tegasnya.

Sementara itu, akibat dari cuaca buruk yang terjadi d Selat Bali hingga dilakukan buka tutup penyeberangan, antrean kendaraan sejak beberapa hari lalu terjadi hingga kemarin. Kendaraan yang akan keluar Bali, memadati Pelabuhan Gilimanuk hingga Jalan Nasional Denpasar- Gilimanuk.

Antrean kendaraan yang sempat memadati Jalan Nasional Denpasar- Gilimanuk, mulai berkurang dan masuk ke dalam areal parkir Pelabuhan Gilimanuk pda Kamis sore. Kendaraan yang didominasi angkutan barang, memenuhi semua areal parkir Pelabuhan Gilimanuk. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#selat bali #penyeberangan #cuaca ekstrem #cuaca buruk