DENPASAR, Radar Bali.id - Pemerintah Provinsi Bali serius mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi ancaman banjir, terutama saat musim hujan tiba.
Sebanyak enam sungai utama di Bali diusulkan untuk dinormalisasi guna mencegah terulangnya bencana banjir besar seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.
Usulan ini disampaikan langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, kepada Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno. Rapat yang digelar pada Senin, 15 September 2025, tersebut mendapat respons positif.
"Usulan Bapak Gubernur sudah kami tindak lanjuti dan telah masuk ke Kementerian Pekerjaan Umum. Namun, pengerjaan tidak bisa dilakukan tahun ini karena masih dalam tahap analisis dan identifikasi mendalam," ujar Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Nusa Penida, Gunawan Sunantoro, saat ditemui usai rapat dengan DPRD Bali, Rabu (17/9/2025).
Perlu Ada Perhatian Khusus untuk Waduk Muara Badung
Sungai /waduk yang diusulkan untuk dinormalisasi antara lain:
- Tukad Unda.
- Tukad Badung.
- Tukad Mati.
- Tukad Ayung
- Waduk Muara Badung.
Menurut Gunawan, dari Sungai-sungai tersebut, Waduk Muara Badung menjadi prioritas utama. "Sedimentasi di Waduk Muara Badung sudah sangat tebal. Ini perlu segera dinormalisasi karena terakhir kali pengerukan dilakukan 10 tahun lalu," jelasnya.
Diperkirakan, volume sedimentasi di waduk tersebut mencapai sekitar 270 ribu meter kubik, dengan perkiraan biaya normalisasi mencapai sekitar Rp 30 miliar.
"Untuk sungai-sungai lain, kami masih melakukan pengukuran ketebalan dan titik-titik yang perlu ditangani. Kami tidak bisa memastikan angkanya sekarang, karena bisa saja lebih dari perkiraan," tambahnya.
Solusi Komprehensif untuk Tukad Unda dan Masalah Sampah
Selain pengerukan, rencana penanganan untuk Tukad Unda juga mencakup pembangunan infrastruktur pengendali banjir, seperti Dam dan perbaikan tanggul. "Ada embung yang terkikis, jadi perbaikan tanggul di sana sangat diperlukan untuk perlindungan," kata Gunawan.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung masalah sampah yang kerap menjadi penyebab penyumbatan. "Banyak sampah kayu yang menyumbat di jembatan. Ada juga sofa dan kasur, tapi memang yang paling banyak ditemukan adalah sampah plastik," ungkapnya.
Normalisasi ini diharapkan bisa dimulai pada tahun depan secara bertahap, mengingat skala proyek yang besar dan membutuhkan anggaran yang signifikan.
"Ini adalah proyek jangka menengah yang tidak bisa selesai dalam setahun," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita