Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cek Fakta! Rilis SSGI Stunting di Bali Meningkat 8,7 Persen, Kadiskes Bali Klaim Data Menurun, Denpasar Lebih Tinggi Dibanding Jembrana

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 13 November 2025 | 14:27 WIB
Ilustrasi stunting, di Bali ada yang mengalami peningkatan jumlah kasus
Ilustrasi stunting, di Bali ada yang mengalami peningkatan jumlah kasus

DENPASARradarbali.jawapos.com - Mengejutkan! Angka Stunting Provinsi Bali  2024 meningkat  menjadi 8,7 persen  dibandingkan tahun 2023 sebesar 7,2 persen. Peningkatan cukup mengagetkan karena Provinsi Bali adalah destinasi wisata dunia, namun masih ada masyarakatnya mengalami masalah gizi. Kendati ada peningkatan, Bali masih termasuk paling rendah di seluruh Indonesia sehingga diberikan  penghargaan kemarin (12/11).

Tidak hanya itu yang menjadi sorotan adalah Kota Denpasar, berdasarkan data SSGI( Survei Status Gizi Indonesia)  mencapai 10,4 persen lebih besar dibandingkan Jembrana 7,5 persen.

Dikonfirmasi dengan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali  dr. I Nyoman Gede Anom ditemui kemarin di Kantor Diskes Bali, (12/11/2025)  menyebut data dari SSGI adalah prevalensi bukan data riil anak yang stunting. Ia mengklaim, angka stunting di Provinsi Bali 5,9 persen tahun 2024.  Justru datanya menurun dibandingkan tahun 2023.

Baca Juga: Dua Siswa Sanjos Denpasar Ukir Prestasi di Kompetisi Robotik Nasional, Begini Karyanya

Anom memaparkan, data yang disampaikan SSGI adalah prevalensi yang memasukkan indikator lain. Seperti  tidak punya jamban dan tidak ada air bersih.

Selain itu waktu anak lahir tidak ikut KB."Kalau dilihat data yang kita dapat, kita di angka 5,9 persen. Itu angka kecil. Turun dari tahun lalu ke 7,2. Tapi karena ada faktor lain  yang masuk yang tadi saya sampaikan prevalensi jadi angka 8,7 persen," bebernya.

Kini,  Pemerintah Provinsi Bali melalui Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali melakukan sensus ulang  sebanyak 189 ribu balita di Bali untuk pengukuran ulang badan balita. Pengukuran telah berjalan hingga 14 November. Sensus dilakukan karena dari pemerintah pusat tidak menggelar survei.

"Jadi kami sampaikan berapa hasilnya. Karena tahun 2025 tidak ada survei dari pusat. Tidak ada lagi survei. Kita adakan  sendiri. Untuk adakan  sendiri," jelasnya.

Kemudian, untuk di Kota Denpasar terkait  data prevalensi  stunting di Denpasar tercatat  10,4 persen, namun Anom menampik karena  data sebenarnya sebesar 1,5 persen stunting di Denpasar. 

Anom menjelaskan, kemungkinan  data prevalensi  Kota Denpasar tinggi karena pengaruh banyak  pendatang  di Denpasar."Itu dia (pendatang, red) tidak punya rumah. Nanti data paling update mungkin akhir November tahun 2025. Total semua, 189 ribu bali di Bali akan  ukur semua," jelasnya.

Adapun berdasarkan data prevalensi balita Provinsi Bali bermasalah gizi berdasarkan data SSGI tahun 2024; Jembrana 7,5 persen; Tabanan 7,5 persen; Badung 7,2 persen: Gianyar 5,4 persen; Klungkung 5,2 persen; Bangli 8,3 persen; Karangasem 13 persen; Buleleng 14,8 persen; Denpasar 10,4 persen.***

Editor : M.Ridwan
#denpasar #angka stunting 2025 #provinsi bali #jembrana