Tak hanya pulau wisata, Bali juga dikenal sebagai salah satu penghasil kakao (Theobroma cacao L) bermutu tinggi di Indonesia, dengan tingkat ekspor yang signifikan, khususnya ke pasar Eropa. Namun, di balik pengakuan internasional ini, industri kakao Pulau Dewata menghadapi sejumlah tantangan berat. Mulai dari ketersediaan bibit hingga hambatan perdagangan global.
FAKTA ini disampaikan Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdoellah, dalam kegiatan media bertajuk "Kontribusi Kakao untuk APBN dan Perekonomian" yang digelar Kementerian Keuangan RI di Denpasar, Senin (24/11/2025).
Jembrana Langganan Penghargaan Internasional
Soetanto menjelaskan, Kabupaten Jembrana menjadi daerah unggulan penghasil kakao berkualitas dari Bali. Kualitas biji kakao Jembrana bahkan telah diakui dunia.
“Jembrana berkali-kali mendapat penghargaan dari Internasional karena memiliki kualitas biji kakao yang bagus,” kata Soetanto.
Menurutnya, kualitas kakao dari Bali dan beberapa provinsi lain di Indonesia sangat diminati oleh perusahaan pengolah coklat di luar negeri. Tingkat ekspor kakao dari Bali ke Eropa, seperti Belanda, serta ke Benua Amerika, terbilang cukup tinggi.
Tantangan Klasik: Bibit, DNA, dan Pupuk Mahal
Meskipun kualitas kakao Indonesia memiliki keunggulan, Kepala Divisi Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Keuangan RI, Adi Sucipto, memaparkan tantangan yang dihadapi, baik secara nasional maupun di Bali.
“Tantangan paling berat adalah ketersediaan bibit yang cukup susah didapatkan,” terang Adi.
Ia mencontohkan, Pemkab Jembrana, yang memiliki hak mengelola lahan hutan, mengaku memiliki lahan namun kesulitan mendapatkan bibit berkualitas.
Selain ketersediaan, hambatan lain yang disorot Adi adalah perlunya uji DNA untuk memastikan asal-usul bibit, serta harga pupuk yang cukup mahal yang menyulitkan petani kakao untuk perawatan tanaman.
Ekspor Turun Terdampak 'Tarif Trump'
Sementara itu, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Bali, Muhamad Mufti Arkan, menggarisbawahi kontribusi sektor pertanian kakao terhadap pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar petani di Bali.
“Sektor pertanian yang di dalamnya ada produksi kakao menyumbang pertumbuhan ekonomi bagi Provinsi Bali,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pertanian kakao secara periodik menyumbang nilai tukar petani (NTP) di atas angka seratus.
Sayangnya, meski disukai dunia, nilai ekspor kakao Bali belakangan ini mengalami penurunan. Salah satu faktor yang paling berdampak adalah kenaikan tarif ekspor yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada masa jabatannya.
“Ada juga ekspor kakao dari Bali ke Amerika Serikat, tapi ada tarif tinggi dari Trump yang menyebabkan penjualan menurun dan ekspor jadi menurun juga,” sebut Mufti.
“Kakao Indonesia, dan Bali khususnya, sangat disukai. Sayangnya, ekspornya terus menurun,” tandasnya.[*]
Editor : Hari Puspita