MANGUPURA, radarbali.jawapos.com – Rencana Penutupan TPA Suwung Denpasar sebelum tutup tahun 2025 ini sedang menjadi sorotan publik.
Pasalnya berkembang pro dan kontra. Pemilahan sampah dan menyelesaikan sampah dari sumber sedang gencar dikampanyekan supaya mengurangi produksi sampah, apakah itu cukup? Menurut, Konten Kreator Lingkungan Kolab Ekosistem, Fania Herlambang ditemui usai kegiatan Beach Clean Up (BCU) diselenggarakan toko modern Circle K Sabtu (13/12/2025).
Fania yang bergerak sejak 2018 lalu, ironis melihat sampah laut selalu mengotori sampah. Yang banyak ditemui tidak hanya kayu justru sampah plastik. Kala itu Fania mengaku tidak ada alarm yang kencang untuk bergerak memilah sampah.
”Tapi kan ketika sekarang melihat Bali sendiri menghadapi banyak cobaan bertubi-tubi ya mulai dari TPA-nya penuh, mau ditutup kan bahkan terus juga kita lihat banjir kemarin yang luar biasa bulan September itu ya. Jadi alarmnya kuat nih sekarang dan kita melihat ya alarmnya kuat karena memang sudah terlanjur dampak-dampaknya sudah terasa gitu kan,” beber perempuan berusia 28 tahun.
Menurutnya penanganan sampah bukan tugas pemerintah atau relawan seperti dirinya, tapi sebuah keharusan.
Tinggal pilih pakai teba modern, di TPS3R hingga bank sampah.”Jadi sekarang ini sudah mode buru-buru udah mode kepepet gitu sudah bukan lagi sesuatu yang sifatnya sukarela tapi kita mau tidak mau, baik yang sudah sadar dari awal ataupun yang mungkin belum sadar tapi terpaksa gitu,” terangnya.
Hal yang dapat diperbaiki penanganan sampah organik sebanyak 60 persen. Namun, banyak yang lari ke TPA, pqdahal menurut Fania dapat dijadikan kompos. Jika sampah organik bercampur akan menghasilkan gas metana sehingga persulit proses daur ulang.
”Jadi organik itu 60% lah untuk rumah tangga biasanya komposisinya paling banyak jadi paling penting nyelesain sampah organik dulusampah residu terakhir yang tidak bisa didaur ulang itu yang mungkin larinya nanti ke insineratie atau waste to energy seperti itu,” imbuhnya.
Aksi bersih-bersih pantai (beach cleanup) yang dilaksanakan berhasil mengumpulkan sampah. Sebanyak 186,5 kg (125 kg sampah yang bisa didaur ulang dan sisanya 61,5 kg adalah sampah Residu) yang akan dikelola oleh Bali Recycle Center. Acara dilanjutkan dengan Ecopreneur Weekend Market, “Toko ritel modern dapat menjadi bagian.
dari solusi lingkungan. Gerai Kamasutra Bali kami revamp dengan mencoba pendekatan baru
dalam desain ruang, pengelolaan sampah, hingga pemilihan produk. Kami percaya
keberlanjutan adalah perjalanan jangka panjang, dan langkah kecil yang konsisten akan
membawa dampak besar bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Wirawan Herdyanto, Brand
Communications Manager Circle K Indonesia.***
Editor : M.Ridwan