Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Penangkal Bencana dan Wabah dengan Ritual Nangluk Merana, Begini Ritualnya

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 22 Desember 2025 | 04:15 WIB

 

DHARMA THULA: AA Gde Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud memandu acara diskusi Membedah Ritual Nangluk Merana di Pesisir Selatan Pulau Bali di Jero Jawi, Gianyar, Sabtu (20/12/2025).
DHARMA THULA: AA Gde Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud memandu acara diskusi Membedah Ritual Nangluk Merana di Pesisir Selatan Pulau Bali di Jero Jawi, Gianyar, Sabtu (20/12/2025).

DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Di tengah ancaman bencana, di Bali percaya dengan ritual Nangluk Merana (penangkal wabah). Diwarisi turun-temurun, yang disebut Nangluk Merana. Upacara upacara penting dalam tradisi Hindu Bali yang bertujuan menangkal atau meredam merana, yaitu segala bentuk hama, wabah, penyakit, atau gangguan alam yang dapat mengancam keseimbangan hidup masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Dalam konsep Bali, merana berarti: hama tanaman (ulat, wereng, tikus, dan lainnya) penyakit Pada hewan ternak, wabah penyakit pada manusia, bencana alam yang mengganggu keseimbangan.

Merana dipahami sebagai wujud ketidakselarasan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala. Hal ini menjadi diskusi dalam acara, “Lebih Culture Talks”, sebuah dharma tula yang membedah ritual Nangluk Merana di pesisir selatan Pulau Bali diselenggarakan di Jero Jawi, Desa Lebih Sabtu (20/12/2025). 

 Baca Juga: Kurtis Diduga Otaki Kekerasan Pasangan Italia di Depan Bayi, Terbukti Edarkan Narkoba di Canggu Badung

Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Puri Kauhan Ubud menggandeng Pemerintah Desa Lebih dan Desa Adat Lebih ini menghadirkan sejumlah tokoh lintas spiritual, adat, dan akademik, di antaranya Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari dari Griya Wanasari Sanur, Jro Bendesa Adat Lebih, serta akademisi Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Dr. Pande Wayan Renawati.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ari Dwipayana, menegaskan diskusi ini merupakan langkah awal membangun kesadaran kolektif untuk melihat Bali sebagai satu kesatuan ekosistem.”Bali adalah Bali Dwipa. Ia tidak bisa dipotong-potong. Hulu, tengah, hingga pesisir dan laut adalah satu kesatuan. Menjaga gunung sama pentingnya dengan menjaga laut,” tegas Ari Dwipayana.

Upacara Nangluk Merana Biasanya dilaksanakan saat terjadi gangguan hama/wabah. Digelar pada hari-hari tertentu seperti Kajeng Kliwon atau Tilem,atau sebagai bagian dari upacara skala besar seperti Bhuta Yadnya Upacara dilakukan di pesisir, perbatasan desa serta titik-titik strategis desa adat

 Baca Juga: Ikhtiar Mewujudkan Kedaulatan Pangan dari Tabanan: Dikawal sejak Pratanam Sampai Pascapanen, Gen Z Tak Lagi Gengsi Jadi Petani

Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari menjelaskan, konsep merana dalam tradisi Bali tidak semata dimaknai sebagai penyakit atau bencana fisik, tetapi sebagai tanda ketidakseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala.

“Nangluk Merana adalah upaya menyelaraskan kembali energi bhuta kala agar tidak menjadi sumber gangguan. Ritual ini mengajarkan bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, tetapi disadari dan dihormati,” ungkapnya.

Ia menekankan, upacara Bhuta Yadnya di pesisir merupakan bentuk komunikasi spiritual manusia dengan alam, khususnya laut, yang diyakini sebagai sumber amerta—kesucian dan kehidupan—namun juga bisa menjadi sumber merana jika dilanggar keharmonisannya.

 Baca Juga: PENANGKAPAN AKTIVIS BALI : Ada yang Ganjil, LBH Bali Sebut Janggal karena Sudah Dinyatakan Tersangka Duluan

Sementara itu, Jro Bendesa Adat I Wayan Wisma Lebih memaparkan ritual nangluk merana yang secara turun-temurun dilaksanakan masyarakat Desa Adat Lebih, khususnya pada Tilem Kanem. Ritual ini dilakukan di titik-titik strategis pesisir sebagai bentuk penjagaan wilayah secara niskala.

“Pesisir adalah benteng pulau Bali. Karena itu, desa adat memiliki tanggung jawab menjaga kesucian dan keseimbangannya melalui ritual, awig-awig, dan keterlibatan krama,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Nangluk Merana tidak bisa dilepaskan dari solidaritas sosial masyarakat adat, karena seluruh krama terlibat langsung dalam prosesi dan persiapannya.

 Baca Juga: Atlet Asal Badung Ikut Ukir Sejarah di Bangkok: Kabaddi Indonesia Raih Emas Perdana SEA Games, Sempurnakan Dominasi Kontingen Garuda

Dari sisi akademik, Dr. Pande Wayan Renawati menggarisbawahi relevansi ritual Nangluk Merana dalam konteks kontemporer, khususnya krisis iklim dan degradasi ekologi pesisir.

“Ritual ini adalah pengetahuan ekologis lokal. Di dalamnya ada kesadaran siklus alam, etika lingkungan, dan kontrol diri manusia. Ini sangat relevan dengan persoalan abrasi, sampah laut, hingga perubahan mata pencaharian masyarakat pesisir,” jelasnya.

Nelayan dan petani yang semakin berkurang menjadi tantangan tersendiri yang perlu direspons dengan menggali potensi ekonomi berbasis budaya pesisir, tanpa merusak ekosistem.

Melalui diskusi ini, Nangluk Merana ditegaskan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan laku budaya yang menuntun tindakan nyata—tidak membuang sampah, tidak merusak laut, dan menjaga ekosistem—sebagai bentuk tanggung jawab spiritual manusia Bali terhadap alam semesta.***

Editor : M.Ridwan
#Ari Dwipayana #penangkal wabah #Nangluk Merana #bencana #radarbali