Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Melongok Aktivitas KAMI Studio Menjaga Siklus Limbah Organik Bali : Dari Bekas Canang pun Bisa Jadi Pupuk hingga Benda Hiasan

I Wayan Widyantara • Rabu, 24 Desember 2025 | 20:49 WIB

 

MEMANFAATKAN BARANG  TAK TERPAKAI: Founder KAMI Studio, Lukman Rizkika saat memperlihat produk dari olahan canang. (foto: Wayan Widyantara/Radar Bali)
MEMANFAATKAN BARANG TAK TERPAKAI: Founder KAMI Studio, Lukman Rizkika saat memperlihat produk dari olahan canang. (foto: Wayan Widyantara/Radar Bali)

 

Limbah organik itu kembali menjadi benda bernilai di tangan mereka, para pegiat KAMI Studio. Yang penting ada kepedulian terhadap lingkungan, niat,tekad, ketekunan dan tentu saja imajinasi dalam berkreasi.

SORE itu, Jumat (12/12/2025), angin lembap menyusup ke halaman sebuah kos kecil di Denpasar. Aroma bubuk kopi yang baru dijemur bercampur dengan bau khas serat-serat canang kering.

Di ruang sempit yang disulap menjadi workshop, ember-ember limbah organik berjajar rapi, berdampingan dengan cetakan 3D dan meja kerja berlapis serbuk halus.

Di sanalah Lukman Rizkika ,29, menjalankan KAMI Studio, sebuah usaha rumahan yang mengolah limbah canang menjadi dekorasi rumah, tanpa melepaskan pupuk sebagai tujuan akhir dari siklus limbah.

”Saya Lukman Rizkika, saya founder KAMI Studio,” katanya, membuka percakapan, dengan senyum khasnya.

KAMI Studio berdiri pada 2024 dan berbasis di Denpasar. Perjalanannya tidak selalu mulus. Usaha ini berawal dari kamar kos, sempat berpindah ke Ubud, Gianyar, lalu kembali lagi ke kos karena keterbatasan ruang produksi.

 Namun justru dari ruang kecil itulah gagasan besar tentang pengelolaan limbah organik Bali tumbuh.

Kegelisahan Lukman berangkat dari satu fakta mendasar: Ada sekitar 65 persen limbah di Bali merupakan limbah organic yang selalu bertumpuk tiap hari.

 ”Sebagian besar orang langsung mikirnya jadi pupuk, dan itu sebenarnya sudah benar,” ujarnya. Pupuk, bagi Lukman, bukan pilihan terakhir, melainkan fondasi pengelolaan limbah. Masalahnya, tidak semua limbah organik berhasil terkelola dengan baik hingga benar-benar menjadi pupuk yang bermanfaat.

Berangkat dari situ, KAMI Studio mengambil posisi unik: memperpanjang usia pakai limbah organik, sebelum akhirnya kembali ke tanah sebagai pupuk.

DIPROSES DULU : Proses pengolahan dari limbah canang. Selesai penghancuran, jadi bubur, sebelum pemadatan dan  pembentukan.(I Wayan Widyantara)
DIPROSES DULU : Proses pengolahan dari limbah canang. Selesai penghancuran, jadi bubur, sebelum pemadatan dan pembentukan.(I Wayan Widyantara)

Kesempatan merealisasikan ide ini datang saat Lukman dan tim mengikuti program Wirausaha Merdeka. Dari sana, eksperimen dimulai. Awalnya, mereka mencoba membuat kertas dan notebook dari limbah canang, kertas bekas, dan ampas kopi.

Namun prosesnya panjang dan tenaga terbatas. ”Akhirnya kami pilih home decoration. Barang-barang kecil, fungsional, dan punya umur pakai,” katanya.

Nama KAMI dipilih dengan makna ganda. Dalam bahasa Jepang, kami berarti kertas—simbol daur ulang. Sementara dalam bahasa sehari-hari, kata itu berarti “kami semua”, menggambarkan kerja kolektif dan kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.

Bahan baku KAMI Studio berasal dari limbah yang lazimnya masuk jalur pupuk. Mereka bekerja sama dengan sebuah hotel di Ubud yang setiap dua minggu menyerahkan sekitar 60 kilogram limbah organik berupa canang dan cangkang telur.

INI HASILNYA : Produk hasil olahan canang yang sudah bisa dipasarkan ke publik.(foto: I Wayan Widyantara/Radar Bali)
INI HASILNYA : Produk hasil olahan canang yang sudah bisa dipasarkan ke publik.(foto: I Wayan Widyantara/Radar Bali)

Ampas kopi diperoleh dari sebuah kafe, diambil rutin setiap Kamis. Semua bahan ini diperoleh secara gratis.

”Kalau kami nggak ambil, ya biasanya langsung jadi pupuk,” ujar Lukman. Namun keterbatasan ruang membuat mereka harus selektif. Pengambilan limbah sementara dihentikan agar proses tetap terkontrol dan tidak menimbulkan masalah baru.

Begitu limbah tiba di workshop, proses panjang dimulai. Canang dicuci dan dibersihkan, lalu dikeringkan. Setelah itu dibongkar dan dicacah kecil-kecil, direbus, kemudian dikeringkan kembali.

Bahan yang sudah kering dihaluskan dengan blender. Adonan tersebut kemudian dicetak menggunakan cetakan yang dibuat sendiri melalui teknologi 3D print.

Produk yang sudah tercetak harus melalui pengeringan selama dua hari, sebelum diampelas dan dilapisi coating. Semua proses dilakukan secara manual. Dalam satu hari, KAMI Studio mampu menghasilkan sekitar 10 produk.

Dari proses tersebut lahirlah berbagai produk dekorasi rumah: kontainer kecil, trinket dish, tempat lilin, hingga gantungan kunci. Harganya relatif terjangkau—kontainer dijual Rp80.000, trinket dish Rp35.000 hingga Rp80.000, dan lilin satu set Rp70.000.

Meski bernilai ekonomi, Lukman menyadari keterbatasan bahan organik. Produk mudah lapuk dan berisiko terkena serangga. Namun tantangan itu justru mempertegas posisi pupuk dalam filosofi KAMI Studio.

”Kalau produknya rusak, bisa dikembalikan ke kita. Kami hancurkan lagi, kita olah ulang. Dan pada akhirnya, kalau sudah tidak bisa dipakai sama sekali, ya dia kembali ke tanah sebagai pupuk,” katanya.

Tidak semua bagian canang bisa dimanfaatkan. Sekitar 50 persen saja yang dapat diolah. Batang keras dan lidi selalu disisihkan. Bagian ini langsung diarahkan ke kompos. ”Memang dari awal fungsinya di situ. Jadi siklusnya tetap jalan,” ujarnya.

Sekar, mahasiswa asal Riau yang kuliah di Universitas Udayana, mengenal KAMI Studio saat Demo Day Wirausaha Merdeka. ”Yang saya suka, mereka nggak menolak pupuk. Mereka justru mendukung. Setelah dipakai, limbahnya tetap balik ke tanah,” katanya.

Bagi Lukman, pupuk adalah penutup yang paling masuk akal dalam pengelolaan limbah organik. Ia berharap ke depan ada kolaborasi lebih luas dengan pengelola kompos dan petani. ”Seindah apa pun produk kita, ujungnya dia harus siap jadi pupuk. Di situlah siklusnya lengkap,” ujarnya.

Sore makin gelap. Di sudut ruangan, canang kering menunggu dicacah. Dari sebuah kos-kosan kecil di Denpasar, KAMI Studio merawat satu keyakinan: bahwa pupuk bukan sekadar akhir dari limbah organik, melainkan tujuan utama—sementara dekorasi hanyalah persinggahan sebelum limbah kembali menyuburkan tanah Bali. [IWayan Widyantara]

Editor : Hari Puspita
#canang #industri rumahan #pemanfaatan limbah #ide kreatif