Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ngeri! Penertiban Pansus TRAP Bukan Sekadar Gertakan, Temuan 106 SHM di Hutan Mangrove Akan Berlanjut

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 26 Desember 2025 | 04:29 WIB

 

SERIUS: Ketua Pansus TRAP DPRD Bali, I Made Supartha
SERIUS: Ketua Pansus TRAP DPRD Bali, I Made Supartha

DENPASARradarbali.jawapos.com – Bukan gertak sambal semata, temuan Panitia Khusus Tata Ruang, Aset dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali adanya alih fungsi hutan mangrove masuk babak baru.  

Temuan 106 sertifikat hak milik (SHM) di lahan Mangrove Ngurah Rai resmi naik ke tahap  penyidikan di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali.

Ketua Pansus TRAP DPRD Bali I Made Supartha menegaskan, Pansus tak main-main dalam mengawal persoalan pelanggaran tata ruang. 

Usai liburan Nataru, Supartha janji  tancap gas  dan akan  mengadakan rapat dengar pendapat (RDP).”Setelah Natal dan Tahun Baru, RDP akan  lanjutkan lagi,” kata Supartha kemarin.

Menurut Supartha,   perlindungan Hutan Tahura Ngurah Rai sangat penting   karena berfungsi sebagai penghasil oksigen dan penjaga ekosistem laut, serta  penangkal abrasi.

”Mangrove napas. Di sana melahirkan oksigen yang sangat bagus dan abadi,” ucap Politisi PDI Perjuangan.

 Baca Juga: Muktamar NU ke-35: Kiai Miftach-Gus Yahya Bentuk Panitia Bersama, Tiga Calon Ketum Mulai Disebut

Pansus TRAP mendorong agar tidak ada lagi  hutan mangrove dialihfungsikan, apalagi disertifikatkan. 

Supartha juga menekankan, tidak ada penerbitan izin bangunan baru di kawasan mangrove Tahura Ngurah Rai dan mengingatkan  ada ancaman pidana bagi yang melanggar.

”Semua itu ada ancaman pidananya. Tidak boleh ditebang, tidak boleh reklamasi, tidak boleh terbit sertifikat. Semua itu ada regulasinya,” tegas Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bali ini. 

Ia juga menyoroti  dampak alih fungsi lahan dan membangun di  resapan air yang dinilai memperparah risiko banjir. Bangunan beton di kawasan konservasi sama saja dengan menutup jalur alami aliran air.

”Jika  ruang air ditutup beton,  Air tidak punya jalan keluar,” sentilnya.

Selain itu, Pansus Trap juga  menyoroti pelanggaran tata ruang   di sawah yang dilindungi seperti di Jatiluwih, Tabanan.

Supartha tak menampik ada gejolak  usai ada penertiban dari Pansus Trap. Pansus TRAP   berkomitmen menjaga Kawasan Jatiluwih, terlebih Subak di Jatiluwih adalah warisan dunia dari Unesco.

”Menjaga keberlanjutan status WBD UNESCO hingga predikat sebagai Desa Terbaik Dunia versi UN Tourism, merupakan prinsip dan komitmen kolektif,” pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
#Pansus TRAP #Alih fungsi lahan #mangrove #dprd bali