RADAR BALI – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali melakukan penyegaran besar-besaran di tingkat perwira tinggi dan menengah.
Melalui Surat Telegram Nomor ST/99/I/KEP./2026 tertanggal 15 Januari 2026, Kapolri merombak sejumlah posisi strategis, termasuk di jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Bali.
Dalam mutasi tersebut, kursi Wakapolda Bali kini resmi diduduki oleh Brigjen Pol. I Made Astawa, menggantikan Brigjen Pol. I Komang Sandi Arsana yang mendapatkan tugas baru sebagai Karokurlum Lemdiklat Polri.
Selain Bali, mutasi ini juga menyasar posisi Kapolda Sumatera Selatan yang kini dijabat Irjen Pol. Sandi Nugroho, Kapolda Papua Barat oleh Brigjen Pol. Alfren Papare, serta Kapolda Papua Tengah oleh Kombes Pol. Jermias Rontini.
Putra Daerah Spesialis "Silent Operation"
Kembalinya Brigjen Pol. Made Astawa ke tanah kelahirannya mengundang perhatian publik. Pria asli Kerambitan, Tabanan, ini bukanlah sosok sembarangan.
Sebelum ditarik ke Bali, ia menjabat sebagai Wakil Komandan Detasemen Khusus (Wakadensus) 88 Antiteror sejak Desember 2023.
Rekam jejaknya mencerminkan kombinasi langka antara kemampuan lapangan dan strategis. Selain ahli dalam penanggulangan terorisme, ia juga dikenal piawai dalam dunia intelijen setelah sempat mengemban amanah sebagai direktur Kontraterorisme di Badan Intelijen Negara (BIN).
Penugasan teritorial ini menjadi kali ketiga bagi Astawa di Pulau Dewata. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Poltabes Denpasar dan Kapolres Badung. Pengalaman mendalam mengenai karakteristik wilayah Bali ini diharapkan mampu memperkuat stabilitas keamanan di sektor pariwisata.
Tantangan Kejahatan Transnasional yang Meningkat
Penunjukan seorang spesialis intelijen dan antiteror sebagai Wakapolda Bali dinilai sebagai langkah taktis Polri dalam memitigasi eskalasi kejahatan transnasional.
Berdasarkan data sepanjang tahun 2025, angka kriminalitas yang melibatkan WNA di Bali menunjukkan tren mengkhawatirkan.
Tercatat, lebih dari 200 WNA menjadi pelaku kejahatan, sementara 300 WNA lainnya menjadi korban tindak pidana, didominasi oleh kasus penipuan dan pencurian. Angka ini melonjak tajam sebesar 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Polda Bali kini tengah menghadapi beragam modus operandi baru, mulai dari skimming, penipuan daring, hingga sindikat kripto dan pemalsuan dokumen yang dikendalikan oleh jaringan asing.
Tak hanya itu, Bali tetap menjadi target utama sekaligus titik transit kartel narkoba internasional dari jaringan Rusia, Kazakhstan, Prancis, hingga kelompok Golden Triangle.
Di sisi lain, pengawasan ketat juga tengah diarahkan pada kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Polda Bali berkomitmen memberantas penyelundupan manusia yang menyasar pekerja migran untuk dipekerjakan secara ilegal di scam centers Kamboja, termasuk melakukan pembersihan internal terhadap dugaan keterlibatan oknum aparat.***
Editor : Ibnu Yunianto