DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Di tengah ancaman krisis lingkungan yang memicu meningkatnya risiko banjir dan longsor seharusnya dilakukan pemulihan melalui penanaman pohon atau reboisasi di kawasan daerah aliran sungai (DAS).
Terlebih alih fungsi lahan yang masif terjadi membuat resapan air semakin berkurang. Maka dianjurkan melakukan penghijauan, dengan salah satu jenis pohon jati di lahan kritis.
Ketua Yayasan Jati Nusa Lestari, Novi Dwi Jayanti, menjelaskan, pohon jati memiliki keunggulan ekologis yang menjadikannya tanaman penting dalam program penghijauan berkelanjutan. Sistem perakaran jati yang dalam dan kuat mampu mengikat tanah secara efektif, sehingga mengurangi erosi sekaligus meningkatkan daya serap air ke dalam tanah.
“Jati dikenal tahan terhadap perubahan iklim, berumur panjang, serta berkontribusi pada perbaikan kualitas udara dan keseimbangan mikroklimat,” ujar perempuan yang akrab disapa Novi itu. Ia menambahkan, di tengah krisis lingkungan yang ditandai berkurangnya daerah resapan dan meningkatnya curah hujan ekstrem, penanaman jati berperan penting dalam mencegah banjir.
Kondisi hutan dan daerah aliran sungai di Bali yang kian memprihatinkan, menurut Novi, membuat penanaman jati sangat dianjurkan, khususnya di wilayah hulu dan kawasan sempadan sungai.
Langkah ini dinilai efektif sebagai bagian dari rehabilitasi lahan kritis dan penguatan fungsi resapan air dalam jangka panjang.
“Struktur akar jati yang kuat dan kokoh mampu menahan limpasan air hujan agar tidak langsung mengalir ke sungai. Selain itu, jati juga membantu memperbaiki struktur tanah dan mengurangi sedimentasi di DAS,” jelasnya.
Ia menegaskan, penanaman jati merupakan langkah preventif jangka panjang yang tidak hanya memulihkan fungsi ekologis lahan, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan serta keselamatan masyarakat di masa depan.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan, Yayasan Jati Nusa Lestari telah aktif melakukan edukasi dan penanaman pohon di berbagai wilayah. Diantaranya dilakukan dalam rangka memperingati World CO₂ Emissions Reduction Day, dengan memperluas jangkauan program edukasi lingkungan ke SD Negeri Besan, Klungkung.
Melalui inisiatif bertajuk “Pohonku, Sahabatku” yang dilaksanakan pada Selasa (28/1), para siswa diajak mengambil peran aktif sebagai “orang tua asuh” bagi bibit pohon jati. “Di SDN Besan, pendekatan ini kami terapkan untuk membangun ikatan emosional antara anak-anak dan alam,” kata Novi, kemarin.
“Sesuai visi kami untuk bekerja bersama dalam anugerah alam, kemanusiaan, dan budaya, ini adalah misi pendidikan karakter. Kami ingin anak-anak memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari identitas mereka sebagai manusia Nusantara,” sambungnya.
Menurut Novi, dengan mengajak anak-anak merawat pohon, mereka sesungguhnya sedang belajar membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Pelaksanaan program di SDN Besan merupakan perluasan dari model edukasi yang sebelumnya telah teruji.
Pada Oktober 2025 lalu, Yayasan Jati Nusa Lestari menjalankan program serupa bersama Kids Academy di Pantai Nyanyi, Tabanan.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi positif karena metode experiential learning atau belajar melalui pengalaman yang diterapkan terbukti efektif meningkatkan kesadaran ekologis anak-anak.
Sementara itu, Osila, guru wali sekaligus penggerak kepedulian lingkungan di SDN Besan, menyampaikan, gerakan penanaman jati ini selaras dengan Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi berakhlak mulia terhadap alam.
”Siswa mendapatkan pengalaman langsung untuk memahami siklus hidup tanaman dan pentingnya peran mereka bagi kelestarian bumi,” ujarnya.***
Editor : M.Ridwan