DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Di bawah langit Bali yang kental dengan semangat toleransi, Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP PERGUNU), Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., membawa misi besar dalam peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU). Kehadiran sosok ulama kharismatik ini menjadi magnet utama dalam acara Sarasehan Silaturahmi Alim Ulama dan Santri yang digelar di Pendopo Kalifa Nusantara, Denpasar, Ahad (8/2/2026).
Tak sekadar memperingati sejarah, Kyai Asep yang juga Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah ini hadir untuk mengukuhkan struktur perjuangan baru di Pulau Dewata melalui pelantikan Pengurus Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Provinsi Bali.
Empat Pilar Kemakmuran ala Kyai Asep.
Dalam tausiyahnya yang memukau, Kyai Asep menegaskan bahwa perjuangan NU di abad kedua harus bertransformasi. Jika dulu para ulama berjuang secara fisik merebut kemerdekaan, kini fokus utama adalah membangun kesejahteraan dan keadilan sosial.
Beliau membedah formula strategis untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan makmur melalui empat pilar utama:
- Ulama dan Ilmuwan yang mampu mencerahkan umat.
- Birokrat yang memiliki keberpihakan penuh pada rakyat.
- Pengusaha (Konglomerat) yang dermawan dan peduli kesejahteraan masyarakat.
- Kondisi Sosial yang kondusif dan stabil.
"Pesantren dan lembaga pendidikan NU harus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan ulama, birokrat yang adil, hingga profesional yang bertanggung jawab," tegas Kyai Asep di hadapan ratusan hadirin.
Kehadiran Kyai Asep di Bali juga mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Provinsi Bali. Gubernur Bali, yang diwakili oleh Kepala Kesbangpol Provinsi Bali, Gede Adhi Tiana Putra, menyebut peran PERGUNU dan JKSN di bawah arahan Kyai Asep sangat krusial dalam membentengi moral generasi muda di tengah arus globalisasi.
NU di Bali dinilai bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, melainkan kekuatan moral yang menjaga harmoni "Rumah Bersama" yang damai dan toleran.
Prosesi pembaiatan pengurus JKSN Bali yang dipimpin langsung oleh Kyai Asep menjadi simbol dimulainya langkah baru bagi para kyai dan santri di Bali untuk lebih berperan aktif dalam pembangunan nasional.
Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Hafidzul Muhsin, menekankan bahwa kehadiran Kyai Asep memberikan energi baru bagi ukhuwah Islamiyah di Bali. "Ini adalah momentum memperkuat Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah keberagaman masyarakat Bali," ujarnya.
Acara ditutup dengan pesan pamungkas dari Kyai Asep agar seluruh warga NU, PERGUNU, dan JKSN bergerak secara ikhlas. Baginya, berjuang melalui organisasi demi kemaslahatan umat adalah jalan pintas menuju keberkahan dunia dan akhirat.***
Editor : M.Ridwan