DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Semangat pendidikan berbasis nilai dan keberlanjutan digaungkan dalam Pawai Bakti Pertiwi Widyalaya yang secara resmi dilepas Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar, Jumat (13/2/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah ekspresi syukur sekaligus ruang kreativitas bagi para siswa dalam menampilkan nilai-nilai pendidikan keagamaan Hindu yang kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman.
Pawai mengusung tema “Widyalaya Berkarya, Pertiwi Berjaya” dengan konsep ekoteologi, yakni kesadaran spiritual untuk menjaga dan merawat alam semesta sebagai wujud bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sebanyak 680 siswa dari 21 Widyalaya se-Provinsi Bali ambil bagian dalam pawai tersebut, dengan dukungan mahasiswa dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan STAHN Mpu Kuturan Singaraja.
Setiap kontingen menampilkan berbagai kreasi budaya yang memadukan simbolisme Hindu dan tradisi Nusantara. Seluruhnya divisualisasikan melalui penggunaan bahan alami dan material daur ulang sebagai pesan tentang harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Pawai Bakti Pertiwi Widyalaya merupakan wujud nyata komitmen Kementerian Agama dalam memperkuat pendidikan berbasis nilai, karakter, dan keberlanjutan bagi masa depan Indonesia,” ujar Menag.
Dalam sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa pawai ini bukan sekadar parade seni dan busana, melainkan representasi visual dari kesadaran baru dalam pendidikan agama Hindu.
“Pawai ini juga menjadi pesan penting bagi dunia pendidikan bahwa pendidikan bermutu adalah pendidikan yang melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, teguh dalam iman dan sradha, sekaligus peduli terhadap kelestarian bumi” katanya.
“Pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek intelektual semata. Pendidikan harus menumbuhkan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta,” tegasnya.
Menteri Agama juga mengapresiasi penggunaan bahan alami dan material daur ulang dalam atribut pawai sebagai bentuk konkret kepedulian terhadap lingkungan.
“Spiritualitas sejati harus berbuah pada tindakan nyata. Ketika anak-anak kita menggunakan bahan alami dan material daur ulang, di situlah nilai agama bertemu dengan tanggung jawab menjaga bumi,” ungkapnya.
“Hal ini sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, khususnya aspek palemahan, yang menekankan pentingnya harmoni antara manusia dan alam” sambung Menag.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, I Nengah Duija, dalam laporannya menyampaikan bahwa nilai ekoteologi yang diusung diharapkan mampu menumbuhkan generasi muda yang cerdas secara intelektual, berkarakter, serta memiliki tanggung jawab spiritual terhadap kelestarian alam.
“Kami berharap pendekatan ekoteologi ini menjadi bagian dari transformasi pendidikan Hindu yang melahirkan generasi yang beriman, berintegritas, dan peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dirangkai dengan lomba menggambar dan mewarnai.***
Editor : M.Ridwan