Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ajak Menjaga Harmoni Kebersamaan di Bali, Nyoman Parta Blak-Blakan untuk Tahu Diri, Jaga Lidah hingga Setop Sebutan Dauh Tukad

Ida Bagus Indra Prasetia • Rabu, 18 Februari 2026 | 11:11 WIB
Ilustrasi kerukunan beragam suku, agama,ras, antargolongan di Bali. (gambar digital gemini/radar bali)
Ilustrasi kerukunan beragam suku, agama,ras, antargolongan di Bali. (gambar digital gemini/radar bali)

 

Lontaran menarik untuk kebersamaan dalam berkebangsaan diungkapkan anggota DPR RI sekaligus MPR RI asal Gianyar, Nyoman Parta. Tak sekadar basa-basi mengajak masyarakat untuk menjaga suasana kebersamaan sebagai sesama anak bangsa, Parta juga tegaskan sikap setop rasisme dan setop sebutan atau istilah yang berpotensi menyinggung pihak lain. Macam menyebut dauh tukad.

UDARA di Wantilan Pura Dalem Sukawati terasa sejuk pada Senin (16/2/2026) siang itu. Di bawah naungan atap ukiran khas Bali, ratusan pemuda dari Sekaa Teruna Teruni (STT) se-Desa Sukawati berkumpul.

Namun, suasana kali ini tidak kaku seperti rapat formal biasanya. Ada tawa, permainan, dan cerita yang mengalir dari sang orator.

Nyoman Parta, anggota DPR/MPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, sedang menjalankan misinya: membumikan Empat Pilar Kebangsaan dengan cara yang renyah, dengan candanya, tidak membosankan.

AJAK BERBHINNEKA TUNGGAL IKA : Anggota DPR/MPR RI, Nyoman Parta. (foto:Ib Indra Prasetia/Radar Bali)
AJAK BERBHINNEKA TUNGGAL IKA : Anggota DPR/MPR RI, Nyoman Parta. (foto:Ib Indra Prasetia/Radar Bali)

Baginya, menjaga Indonesia tidak melulu soal teori di buku, tapi soal bagaimana lidah kita menjaga perasaan sesama.

Maklum, di sejumlah tempat di Bali, belakangan memang marak sikap “alergi” terhadap warga asal wilayah  tertentu, sesama Anak Bangsa, sesama warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  

Tinggalkan Label yang Memecah Belah

Di tengah hiruk-pikuk ruang publik yang kian bising dengan perdebatan identitas, Parta membawa pesan penyejuk. Ia menyoroti kemunculan kembali istilah-istilah pelabelan yang berpotensi melukai hati, seperti istilah "dauh tukad" atau "dangin tukad" (sebutan untuk orang dari luar daerah/Bali) yang belakangan kerap memicu sentimen negatif.

"Saya kira perdebatan itu tidak produktif dalam usaha kita merajut kebangsaan," ujar Parta dengan nada tenang namun tegas.

Menurut politikus asal Gianyar ini, Bali sejak dulu dikenal sebagai tanah yang terbuka bagi siapa saja.

Namun, keterbukaan itu bukanlah cek kosong. Ada "tuan rumah" yang harus dihormati dan ada "tamu" yang harus tahu diri.

"Siapa pun boleh ke Bali. Namun, setiap daerah punya adat dan budaya yang wajib dihormati. (Tetapi) Hormatilah (juga) nilai-nilai budaya dan keluhuran di sini (Bali)," pintanya.

Tanggung Jawab Kolektif  Tokoh Masyarakat

Parta tidak hanya bicara kepada warga lokal. Ia juga menitipkan pesan mendalam bagi para tokoh masyarakat pendatang yang telah menetap di Pulau Dewata. Ia berharap para pemimpin etnis atau paguyuban tidak lepas tangan terhadap warga mereka.

"Apa pun latar belakang suku dan etnisnya, para tokoh harus ikut bertanggung jawab menjaga kondusivitas. Jangan dilepas begitu saja," tukasnya.

Baginya, solidaritas nasional hanya bisa tegak jika semua pihak merasa memiliki tanggung jawab yang sama atas tanah yang mereka pijak.

Edukasi Lewat Cerita dan Permainan

Uniknya, sosialisasi kali ini jauh dari kesan menggurui. Nyoman Parta memilih pendekatan komunikatif untuk masuk ke dunia anak muda. Ia menggunakan metode game dan bercerita yang interaktif.

Strategi ini terbukti ampuh. Para pemuda yang awalnya duduk di belakang, perlahan maju ke depan, antusias mengikuti alur cerita tentang kebangsaan yang dibawakan Parta.

"Kami buat dengan game dan cerita. Itu jauh lebih menarik bagi mereka," pungkasnya sambil tersenyum.

Sore itu di Sukawati, nampak sebuah pesan sederhana namun kuat: bahwa Bali, dengan segala keragaman yang datang padanya, akan tetap indah selama kata-kata rasisme ditinggalkan dan rasa hormat tetap dijunjung tinggi sebagai "pilar" utama kehidupan sehari-hari.[*]

Editor : Hari Puspita
#kerukunan umat beragama #bhinneka tunggal ika #kerukunan antar etnis #Nyoman Parta #keberagaman #bali #Kebangsaan