Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mangrove Mati Diduga Paparan Minyak, Fungsi Cegah Abrasi, Pemulihan Butuh Waktu Lama

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 26 Februari 2026 | 00:08 WIB

 

PARAH: Pemotor melintas di jalan Raya Pelabuhan Benoa yang terlihat Tanaman Mangrovenya mati , Rabu 25 Februari 2026
PARAH: Pemotor melintas di jalan Raya Pelabuhan Benoa yang terlihat Tanaman Mangrovenya mati , Rabu 25 Februari 2026

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Hutan mangrove yang didominasi tanaman bakau (Rhizophora) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, tepatnya di areal Pelindo Benoa, dilaporkan mengalami kematian dan kekeringan. Lokasinya berada di sekitar pintu masuk Tol Bali Mandara, Benoa, Denpasar Selatan.

Dugaan sementara, kematian mangrove berkaitan dengan pemasangan pipa jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa menuju Pangkalan Pertamina Pesanggaran. Tanaman diduga terpapar bahan bakar minyak (hidrokarbon) yang mengandung senyawa logam berat.

Tim peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana yang dikoordinatori Dewa Gede Wiryangga Selangga, telah melakukan diagnosis di lokasi.

“Tanaman mangrove mengalami gejala awal berupa daun menguning, berubah kecokelatan, kulit batang mengelupas, pertumbuhan kerdil, akar membusuk atau menghitam, serta penebalan daun,” ujarnya.

Berdasarkan diagnosis awal, tidak ditemukan infeksi patogen (parasit) penyebab penyakit di lapangan. Menurutnya, kematian tanaman lebih mengarah pada faktor abiotik (unsur tak hidup), salah satunya dugaan keracunan logam berat dari senyawa hidrokarbon.

“Sementara ini tidak ditemukan serangan patogen. Tanaman sakit dan mati diduga akibat faktor abiotik, salah satunya kemungkinan paparan logam berat dari senyawa hidrokarbon,” jelas dosen pertanian tersebut.

Dugaan kontaminasi dikaitkan dengan kegiatan perbaikan dan perawatan pipa pada September hingga November 2025. Namun, pihak Pertamina sebelumnya menyatakan tidak menemukan lapisan minyak di permukaan air saat pemeriksaan visual yang dilakukan pada 21 Februari 2026.

Sejumlah ahli ekologi menjelaskan, kontaminasi hidrokarbon dalam ekosistem mangrove tidak selalu tampak di permukaan. Minyak dapat terperangkap dalam pori-pori tanah dan mengendap di area perakaran (rhizosfer), sehingga berpotensi mengganggu sistem pernapasan akar dan menyebabkan kematian tanaman.

Perbedaan antara hasil pemeriksaan visual dan temuan di lapangan mendorong dilakukannya investigasi forensik lingkungan. Untuk memastikan kandungan senyawa hidrokarbon yang terakumulasi di area rhizosfer, tim peneliti tengah melakukan analisis menggunakan metode GC-MS (Gas Chromatography–Mass Spectrometry).

“Hasil analisis laboratorium dijadwalkan keluar Kamis (26/2). Kami fokus pada kesehatan tanaman. Karena indikasinya faktor abiotik, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan forensik,” katanya.

Selain itu, tim peneliti juga melakukan analisis DNA air guna mendeteksi kemungkinan kontaminan kimia di perairan sekitar mangrove. Hasil uji laboratorium diharapkan dapat memastikan jenis serta kadar senyawa hidrokarbon yang terdeteksi.

Kematian mangrove dinilai berdampak serius terhadap ekosistem pesisir. Selain berfungsi sebagai benteng alami penahan abrasi, mangrove juga berperan dalam menyerap karbon dan menghasilkan oksigen.

Menurut Dewa Gede Wiryangga Selangga, pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu bertahun-tahun. Untuk mengembalikan fungsi ekologisnya, dibutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun. Sementara itu, pohon mangrove mencapai tingkat kematangan dalam kurun 10 hingga 20 tahun.

“Pemulihan bukan hanya menanam kembali bibit, tetapi membangun kembali keseimbangan ekosistem pesisir secara menyeluruh. Jika kerusakan meluas, proses pemulihannya akan memakan waktu lama,” ujarnya.

Pihak Pertamina Patra Niaga angkat bicara untuk merespons permasalahan tersebut  melalui siaran pers tertanggal 21 Februari 2026. Dalam siaran mereka, Pertamina menyatakan telah melakukan pengecekan bersama tim Polairud di sekitar Terminal BBM Sanggaran.

Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad, menjelaskan hasil pengecekan visual tidak menemukan adanya lapisan minyak maupun bau menyengat BBM di lokasi.

“Bersama Polairud, tim Terminal BBM Sanggaran juga telah menghadiri rapat koordinasi yang difasilitasi DKLH Provinsi Bali. Sebagai tindak lanjut, kami akan melakukan pengecekan kronologis kegiatan operasional dalam beberapa bulan terakhir, khususnya terkait pekerjaan pipanisasi di sekitar Benoa,” ujarnya.

Ahad berkomitmen mempercepat pemulihan kawasan mangrove dan akan berkoordinasi dengan perusahaan lain yang beroperasi di kawasan Benoa sesuai arahan DKLH Provinsi Bali.”Proses investigasi lebih lanjut termasuk pengecekan ekosistem terdampak terus dilakukan untuk memastikan penyebab kematian mangrove di kawasan Benoa,” tandasnya.

Kasus ini mencuat setelah mendapat sorotan dari anggota DPR RI, I Nyoman Parta. Ia mengaku terkejut melihat banyaknya pohon mangrove yang mati saat melintas di Tol Bali Mandara sepulang dari Jakarta.

Anggota Komisi III DPR RI ini kemudian melakukan peninjauan langsung, baik dari darat maupun dari laut menggunakan perahu nelayan pada Jumat (20/2). Berdasarkan pengamatannya, ditemukan ratusan pohon mangrove dari jenis Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, dan Avicennia marina yang mati secara bersamaan di kawasan tersebut. ***

Editor : M.Ridwan
#pelindo #bali #Mangrove Mati #radarbali