DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Yayasan Bendega Alam Lestari, organisasi penggiat pelestarian mangrove, angkat bicara mengenai matinya pohon bakau di kawasan KSOP Benoa, tepatnya di utara Jalan Tol Bali Mandara dan sebelah barat Jalan Raya Pelabuhan Benoa.
Hasil investigasi Universitas Udayana menduga kuat kematian pohon tersebut akibat tercemar bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
Saat diwawancarai, Expertise Forestry Bendega, Kanda Raharja, menyatakan hal senada dengan hasil penelitian tim Universitas Udayana yang menduga matinya pohon bakau tersebut disebabkan oleh faktor abiotik. Berdasarkan gejala di lapangan, ditemukan deretan pohon mangrove yang mengering dan mati secara memanjang mengikuti alur tertentu.
"Kemungkinan besar mangrove tersebut mati karena keracunan cemaran di air atau pada substratnya," ujar Kanda kemarin (3/3/2026).
Lebih lanjut, dia menjelaskan, berdasarkan pengamatan tim Bendega di lapangan serta informasi yang beredar, terdapat tumpukan sampah dan pipa-pipa yang diduga bocor sehingga menjadi sumber pencemaran.
Pihaknya menyarankan agar segera dibentuk tim peneliti untuk mengetahui penyebab pasti, sekaligus melakukan mitigasi agar tingkat kematian pohon tidak semakin meluas.
"Perlu dibentuk tim investigasi untuk mencari dalang yang mencemari lingkungan tersebut agar bisa dimintai pertanggungjawabannya," tegasnya.
Kanda menyatakan bahwa untuk menumbuhkan mangrove hingga menjadi pohon besar diperlukan waktu hingga puluhan tahun.
Menurutnya, penanaman awal memerlukan perawatan intensif dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Tantangan terberat justru terletak pada fase perawatan untuk menghasilkan akar yang kuat.
"Namun, jika sudah menjadi pohon besar, asalkan lingkungannya tidak terganggu—contohnya akibat pencemaran—tingkat kelangsungan hidupnya (survival rate) sangat tinggi dan cenderung sudah sangat kuat," tandas Kanda.
Seperti diberitakan sebelumnya, misteri kematian massal tanaman mangrove di kawasan hutan milik Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) di Bali Selatan mulai menemui titik terang. Kasus ini bahkan berujung pada pelaporan ke Polda Bali oleh tiga lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Tim peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana menemukan indikasi kuat pencemaran BBM jenis solar sebagai penyebab utama matinya bakau di lokasi tersebut.
Koordinator tim peneliti, Dewa Gede Wiryangga Selangga, menjelaskan bahwa investigasi dilakukan melalui pengambilan sampel tanah, air, dan minyak di sekitar area terdampak.
Sampel tersebut kemudian diuji menggunakan metode Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS), yakni teknik analisis untuk mengidentifikasi komposisi senyawa kimia, terutama hidrokarbon dari minyak bumi.***
Editor : M.Ridwan