SINGARAJA, RadarBali.id– Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Buleleng resmi mengeluarkan seruan bersama terkait pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 yang waktunya berdekatan dengan rangkaian ibadah Bulan Suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Seruan ini disusun sebagai panduan teknis guna memastikan ibadah setiap umat berjalan khidmat tanpa gesekan.
Kesepakatan strategis tersebut ditandatangani oleh seluruh elemen FKUB Buleleng dan diketahui langsung oleh Penjabat Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra. Langkah ini diambil untuk memperkuat fondasi kerukunan antarumat beragama yang selama ini sudah terjalin erat di Bumi Panji Sakti.
Ketua FKUB Kabupaten Buleleng, I Gde Made Metera, menjelaskan bahwa seruan ini merupakan bentuk adaptasi lokal dari kesepakatan tingkat provinsi. "Seruan ini mengacu pada kesepakatan FKUB Provinsi Bali, namun kami sesuaikan dengan kondisi serta kekhususan sosiokultural di wilayah Buleleng," ujar Metera, Kamis (5/3/2026).
Poin-Poin Kesepakatan Toleransi
Dalam seruan tersebut, ditekankan bahwa ritual Nyepi maupun ibadah Ramadan harus menjunjung tinggi semangat menyama braya. Beberapa poin teknis yang disepakati antara lain:
- Persiapan Idul Fitri: Umat Islam diperkenankan menyiapkan rangkaian perayaan Idulfitri di rumah masing-masing dengan pencahayaan terbatas (minimalis) agar tidak mengganggu kekhusyukan Catur Brata Penyepian.
- Ibadah Malam: Pelaksanaan salat Tarawih dan takbiran tetap diperbolehkan mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Namun, umat wajib berjalan kaki menuju masjid atau musala terdekat tanpa menggunakan kendaraan bermotor.
- Ketentuan Pengeras Suara: Masjid dan musala diizinkan menggunakan lampu penerangan secara terbatas. Namun, ditegaskan untuk tidak menggunakan pengeras suara luar maupun bunyi-bunyian lain yang dapat mengganggu keheningan Nyepi.
Tradisi Pengamanan Bersama
Kekhasan toleransi di Buleleng juga tercermin dari sisi pengamanan. Selain koordinasi dengan pihak kepolisian dan TNI, unsur organisasi keagamaan turut dilibatkan untuk menjaga kondusivitas.
"Pengamanan akan dibantu oleh Banser dari NU dan Kokam dari Muhammadiyah. Mereka akan berkoordinasi dengan MUI Buleleng serta didampingi Babinsa dan Bhabinkamtibmas di wilayah masing-masing. Ini adalah kekhususan yang sudah menjadi tradisi di Buleleng," tambah Metera.
Dengan adanya seruan ini, FKUB berharap masyarakat Buleleng dapat menjadi contoh nyata bagi daerah lain dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman hari besar keagamaan.[*]
Editor : Hari Puspita