Wajah tata ruang di Bali kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Hak dasar pejalan kaki terus terpinggirkan akibat trotoar yang beralih fungsi menjadi jalur sepeda motor hingga lahan parkir liar. Persoalan pelik ini dibedah tuntas dalam Forum Jumpa Ngopi #16 bertajuk Bali Bicara Pejalan Kaki di Denpasar, Jumat (13/3/2026).
INI fenomena yang tak banyak disadari. Diskusi kolektif yang diinisiasi oleh WRI Indonesia dan Warmadewa Research Center (WRC) ini menyoroti kenyataan pahit: mobilitas berkelanjutan di Pulau Dewata, khususnya Denpasar, sedang dalam status siaga darurat.
I Nyoman Gede Maha Putra, Dosen Universitas Warmadewa sekaligus Co-chair International Advisor WRC, melontarkan kritik pedas terhadap arah pembangunan infrastruktur saat ini.
Ia menilai pembangunan jalan lebih berpihak pada kaum pemilik kendaraan pribadi ketimbang masyarakat kecil.
"Ada pandangan neoliberalisme dalam ruang kota kita. Saat di Ubud, saya melihat nenek dan cucunya kesulitan menyeberang karena tidak ada ruang aman bagi pejalan kaki dan hilangnya bemo (angkutan umum). Ini adalah bentuk ketimpangan sosial bagi warga yang ingin menikmati lingkungan tempat tinggalnya sendiri," tegas Gede Maha.
Data Miris: Kendaraan Lebih Banyak dari Penduduk
Kondisi ini diperparah dengan statistik yang jomplang. Berdasarkan data terbaru tahun 2026:
- Populasi Bali: ± 4,4 Juta Jiwa.
- Jumlah Kendaraan: Mencapai 5 Juta Unit.
- Rasio Kepemilikan: Rata-rata satu orang memiliki 1 hingga 2 kendaraan pribadi.
Akibatnya, masyarakat yang masih memilih berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum kini menyusut drastis hingga tersisa 1 persen saja.
Sebaliknya, 62 persen masyarakat bergantung pada motor dan 33 persen pada mobil pribadi.
Merebut Kembali Ruang Manusia
Menanggapi dominasi mesin tersebut, Urban & Transport Analyst WRI Indonesia, Fairuzia Rahman, mendesak pemerintah untuk segera menerapkan konsep Non-motorized Transport (NMT) atau transportasi tidak bermotor melalui perencanaan yang partisipatif.
"Ruang pejalan kaki harus direbut kembali dari dominasi kendaraan pribadi. Kami berharap Kawasan Rendah Emisi (KRE) Sanur, sebagai bagian dari Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI), menjadi bukti nyata desain kota yang berorientasi pada manusia (human-centered design)," ujar Fairuzia.
Forum yang juga dihadiri oleh komunitas Kopeka Bali dan Denpasar Bersepeda ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi konkret bagi pengambil kebijakan. Tujuannya satu: mewujudkan Bali yang lebih manusiawi sekaligus mendukung komitmen menuju Net Zero Emission.[*]
Editor : Hari Puspita