Radar Bali.id- Belakangan, beberapa hari ini, cuaca gerah, lembab, panas menyelimuti sebagian besar Bali (minus daerah dataran tinggi,l seperti Kintamani, Bangli, atau Bedugul, Tabanan, tentu saja).
Baca Juga: Lima Kecamatan Kacau Urusan Air Bersih di Karangasem, Cuaca Panas Ekstrem, Air PDAM Malah Mati!
Nah, berdasarkan analisis karakter cuaca khas wilayah kita di Bali dari data BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), fenomena "gerah menyengat" ini sebenarnya adalah kombinasi dari beberapa faktor alam yang biasa terjadi di masa-masa sekarang.
Baca Juga: Cara Membuat Rumah Sejuk saat Cuaca Panas
Berikut adalah beberapa alasan ilmiah mengapa udara di Bali terasa sangat lembap dan panas belakangan ini:
Masa Transisi (Pancaroba)
Saat ini kita sedang berada di masa transisi atau peralihan musim. Pada periode pancaroba ini, pembentukan awan konvektif (awan hujan) sering kali terjadi pada siang hingga sore hari.
Sebelum hujan turun, penguapan air ke udara sangat tinggi, yang membuat kelembapan melonjak drastis. Udara basah yang bercampur suhu panas inilah yang menciptakan sensasi sumuk atau gerah yang melekat di kulit.
Posisi Semu Matahari
Pada akhir Maret hingga April, posisi semu matahari berada sangat dekat atau tepat berada di atas wilayah ekuator (khatulistiwa), termasuk Indonesia dan Bali.
Hal ini menyebabkan intensitas radiasi matahari yang diterima permukaan bumi di wilayah kita sedang mencapai puncaknya. Itulah mengapa sinar matahari terasa sangat terik di siang hari.
Kelembapan Udara (Humidity) yang Tinggi
Panas saja sebenarnya tidak akan membuat kita terlalu berkeringat jika udaranya kering. Namun, karena Bali adalah pulau yang dikelilingi lautan hangat, penguapan air laut sangat tinggi. Ketika suhu udara tinggi bertemu dengan kelembapan di atas 70 %-80 % 80\%$, tubuh kita akan kesulitan menguapkan keringat untuk mendinginkan diri. Akibatnya, kita merasa "terperangkap" dalam udara yang panas dan basah.
Angin yang Cenderung Lemah
Di masa pancaroba, hembusan angin permukaannya sering kali bersifat lambat atau tenang (calm). Minimnya pergerakan angin ini membuat panas yang dipantulkan oleh aspal, bangunan, dan tanah tidak cepat terbawa pergi, melainkan berkumpul di sekitar kita.
Tips Sederhana Mengatasi
- Memperbanyak minum air putih untuk menghindari dehidrasi.
- Mengurangi aktivitas berat di luar ruangan pada siang bolong (pukul 11.00 - 15.00 Wita).
- Menggunakan pakaian berbahan katun yang mudah menyerap keringat.[disarikan dari berbagai sumber*]