RadarBali.id– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan serius terkait karakteristik musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi akan jauh lebih kering dan panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Berbeda dengan fenomena "kemarau basah" yang sempat terjadi di masa lalu, tahun ini Indonesia menghadapi tantangan iklim ekstrem yang dipicu oleh penguatan beberapa fenomena atmosfer secara bersamaan.
Mengapa Kemarau Tahun Ini Lebih Kering?
Penyebab utama dari kondisi ekstrem ini adalah kemunculan kembali fenomena El Nino. Berdasarkan pemantauan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, terdapat peningkatan suhu yang signifikan.
Para pakar iklim bahkan menyebut intensitas tahun ini berpotensi mencapai level yang sangat kuat, atau sering diistilahkan sebagai "Godzilla El Nino".
Fenomena ini menyebabkan massa udara basah yang seharusnya membawa hujan ke wilayah Indonesia justru tertarik ke arah Samudra Pasifik, sehingga curah hujan di tanah air berkurang drastis.
Duet Maut antara El Nino dan IOD Positif
Kekeringan tahun ini diperparah dengan munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif. IOD Positif adalah kondisi di mana suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat (dekat Afrika) lebih hangat daripada bagian timur (dekat Indonesia).
Kombinasi antara El Nino dan IOD Positif bertindak seperti "penghisap" kelembapan dari dua sisi:
1. El Nino menarik awan hujan ke arah Pasifik (Timur).
2. IOD Positif menghambat pembentukan awan hujan di wilayah Samudra Hindia (Barat).
Akibatnya, wilayah Indonesia yang berada di tengah-tengah mengalami defisit curah hujan yang sangat tajam.
Beda dengan Kemarau Basah
Banyak masyarakat membandingkan kondisi ini dengan beberapa tahun lalu yang cenderung lebih sejuk dan sering hujan meski di tengah musim kemarau (kemarau basah). Perbedaan mendasarnya terletak pada status La Nina.
"Pada tahun-tahun sebelumnya, kita sering dipengaruhi oleh La Nina yang mendinginkan suhu permukaan laut di Pasifik dan justru menambah pasokan uap air ke Indonesia. Namun, tahun 2026 ini kondisinya berbalik total menjadi El Nino," tulis laporan BMKG dalam ringkasan eksekutifnya.
Dampak yang Perlu Diwaspadai
BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus hingga September 2026. Beberapa dampak yang mulai diantisipasi antara lain:
- Sektor Pertanian: Risiko gagal panen akibat berkurangnya pasokan air irigasi.
- Karhutla: Peningkatan titik panas (hotspot) yang memicu kebakaran hutan dan lahan.
- Krisis Air Bersih: Penurunan debit sungai dan sumur warga, terutama di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air bersih dan sektor pertanian diharapkan segera menyesuaikan pola tanam guna meminimalisir kerugian akibat anomali iklim ini.[*]
Editor : Hari Puspita