Harga buah manggis di pasar ekspor tengah "terbang" mencapai angka Rp 80.000 per kilogram. Namun, tingginya harga ini bukan membawa berkah bagi petani lokal di Tabanan, melainkan menjadi sinyal darurat produktivitas akibat anomali cuaca.
INI memang mengejutkan. Seperti dituturkan Jero Putu Tesan, seorang eksportir sekaligus petani manggis asal Desa Padangan, Pupuan, mengungkapkan bahwa lonjakan harga ini telah terjadi sejak Januari lalu.
Baca Juga: Manggis dan Durian Melimpah, Tabanan Barat Dikembangkan Menjadi Kampung Buah
Diakui bahwa harga komoditas pertanian yang satu ini naik signifikan dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp 52.000 per kilogram, jadi Rp 80.000 per kilogram.
Baca Juga: Perluas Pasar Buah Manggis, Gagas Festival Manggis di Galungan
Gagal Panen Massal karena Dampak Kemarau Basah, Hujan Berkepanjangan
Ironisnya, kenaikan harga ini dipicu oleh kelangkaan barang. Produktivitas manggis di seluruh Indonesia, termasuk Bali, merosot tajam. Pada musim panen Maret–April ini, hasil yang didapat petani hanya menyentuh angka 10 persen dari kondisi normal.
Penyebab utamanya adalah curah hujan ekstrem yang melanda pada Oktober dan November 2025 lalu.
- Bunga Gugur: Hujan terus-menerus menyebabkan bunga manggis rontok sebelum sempat menjadi buah.
- Tumbuh Daun: Alih-alih berbuah, pohon manggis justru lebih banyak memproduksi daun muda.
- Ketergantungan Alam: Karena pola tanam yang masih konvensional, petani belum memiliki skenario teknologi untuk memanipulasi masa berbuah di tengah cuaca buruk.
Pasar China Tetap Stabil di Tengah Konflik Global
Meski situasi geopolitik di Timur Tengah memanas, Jero Putu Tesan menegaskan hal tersebut tidak berdampak pada ekspor manggis. Pasalnya, 80 persen pasar manggis Indonesia diserap oleh China, baik untuk kebutuhan medis maupun sarana persembahyangan. Sementara pengiriman ke wilayah Timur Tengah seperti Dubai hanya mencakup 5 persen dari total ekspor.
Demi Jaga Relasi, Eksportir “Impor” Buah dari Luar Bali
Untuk memenuhi kuota ekspor—minimal 1 ton via udara atau 16 ton via laut—para eksportir di Bali kini harus memutar otak. Mereka terpaksa berburu stok ke luar pulau seperti Sumatera, Lampung, Banyuwangi, hingga Lombok.
Strategi ini bukan tanpa risiko. Meski harga jual tinggi, biaya operasional dan transportasi ikut membengkak.
"Kami bertahan tetap membeli meski harga tinggi. Ini murni untuk menjaga konektivitas dan jaringan relasi di China agar tetap bertahan," pungkas Jero Putu Tesan.
Kini, para petani dan eksportir hanya bisa berharap kondisi alam segera membaik agar "Si Ratu Buah" ini kembali membanjiri pasar internasional dengan kualitas dan kuantitas yang stabil.[*]
Editor : Hari Puspita