DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Hubungan persaudaraan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerakan Indonesia Raya (DPD Gerindra) Provinsi Bali, Made Muliawan Arya alias De Gadjah dengan Gubernur Bali, Wayan Koster terus terjalin meski berbeda warna partai.
Demi Bali, keduanya bertemu di sebuah rumah makan di Kota Denpasar, Minggu, 19 April 2026.
De Gadjah mengabadikan pertemuan bertajuk makan siang bersama itu dan mengunggah foto di akun media sosial pribadinya dengan dibubuhi kalimat menyejukkan.
“Dari meja makan, lahir banyak pemikiran. Diskusi santai, tujuan tetap sama: untuk Bali,” tulis De Gadjah, Minggu, 19 April 2026 sembari menandai akun media sosial Wayan Koster dan Made Bayu Adisastra yang ikut dalam pertemuan tersebut.
Dikonfirmasi terkait hal itu, De Gadjah menjawab bahwa mereka membahas banyak hal yang berlangsung mengalir dalam suasana serius tapi santai.
Mulai dari megaproyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) berbasis teknologi Waste to Energy (WtE)—meniru kesuksesan PSEL Benowo, Surabaya—Sekolah Rakyat (SR), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih), dan program pemerintah pusat lainnya.
Bahasan penting lainnya menyangkut soal penanganan sampah sebelum PSEL beroperasi di Kota Denpasar.
“Pertemuan saya dengan Pak Koster kebetulan pas jam makan siang. Kami kadang ngopi, kadang makan, kami ngobrol santai sambil diskusi.
Diskusinya untuk Bali-lah. Kami ngobrol banyak. Diskusi tentang sampah. Juga diskusi tentang PSEL yang sebentar lagi akan MoU (Memorandum of Understanding),” ungkap De Gadjah.
“Tata kelola sampah sebelum PSEL beroperasi juga kami bahas. Itu kan harus ada solusinya,” ucap De Gadjah, Senin, 20 April 2026.
Terkait Sekolah Rakyat (SR) di Bali sebagai bagian dari proyek nasional untuk memberikan pendidikan gratis, asrama, dan fasilitas modern bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, De Gadjah menekankan bahwa Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Wayan Koster sangat mendukung hal itu.
SR adalah program prioritas Presiden Prabowo yang dijalankan oleh Kementerian Sosial RI. Di Bali, SR akan dibangun di Tulamben, Karangasem (proyeksi 2026) dengan nilai Rp255,5 miliar yang bertujuan memutus rantai kemiskinan, meningkatkan SDM, dan menyediakan pendidikan unggulan berasrama penuh.
“Kami juga berdiskusi tentang Sekolah Rakyat (SR), program pemerintah pusat. Banyak hal yang kami obrolin,” tandas De Gadjah sembari menyebut diskusi juga mencakup percepatan program nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih).
De Gadjah mengapresiasi sosok Koster yang walaupun berbekal segudang pengalaman, baik di bidang eksekutif maupun legislatif, masih bersedia mendengarkan masukan dari banyak pihak.
“Pak Koster minta masukan juga. Saya sangat apresiasi. Beliau seorang gubernur. Beliau berkaliber (jam terbang panjang di legislatif dan eksekutif), sepak terjang politiknya sudah matang, masih minta masukan dari—bukan saya saja—tapi dari semua, dari masyarakat juga. Karena diminta, ya saya sampaikan masukan konstruktif,” beber De Gadjah.
De Gadjah menambahkan bahwa komunikasi antara dirinya dan Koster relatif intens, baik via WhatsApp maupun telepon langsung.
“Memang harus begitu (pertemuan tatap muka) agar gamblang. Enak. Agar tidak diplintir sana, plintir sini. Intinya itu saja. Memang kebetulan makan siang. Kadang kami ngopi. Kadang berdua.
Kemarin sama Pak Bayu (Made Bayu Adisastra). Pak Bayu kan sudah seperti kakak saya,” beber De Gadjah yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengprov Pertina Bali dan Dewan Penasihat Pengurus Besar Tinju Indonesia (Pertina) Pusat.
Lebih lanjut, De Gadjah menggarisbawahi bahwa Gubernur Bali, Wayan Koster sangat mendukung program Presiden Republik Indonesia ke-8, Prabowo Subianto di Pulau Dewata.
“Beliau sangat mendukung program Pak Presiden. Intinya, kami ingin yang terbaik untuk Bali. Ingin sama-sama berbuat untuk Bali. Ngobrol santai, tapi berisi,” tutup De Gadjah.
Editor : Rosihan Anwar