Dekonstruksi Serakah: Refleksi Kritis Kader GMKI Denpasar atas Hegemoni Politik dan Kerusakan Ekologi dalam Film Pesta Babi

Tim Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 8 Mei 2026 | 14:12 WIB
OTOKRITIK:  Suasana nonton bareng Film Pesta Babi oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Denpasar bersama Badan Pengurus Komisariat Imanuel masa bakti 2025–2026. (novian/radarbali.id)
OTOKRITIK: Suasana nonton bareng Film Pesta Babi oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Denpasar bersama Badan Pengurus Komisariat Imanuel masa bakti 2025–2026. (novian/radarbali.id)

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Ada yang menarik dari nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita digelar oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Denpasar bersama Badan Pengurus Komisariat Imanuel masa bakti 2025–2026. Apa itu?

Mengangkat tema diskusi, “Dekonstruksi Serakah: Hegemoni Politik dan Komodifikasi Budaya di Atas Reruntuhan Ekologi”. Kegiatan ini bertempat di Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan SEJ, Penatih, Denpasar Timur, pada (02/05/2026).

Film Pesta Babi adalah film dokumenter investigatif karya jurnalis investigasi Dandhy Laksono bersama antropolog sosial dan aktivis Cypri Dale, yang digarap oleh Ekspedisi Indonesia Baru bersama Greenpeace Indonesia, Watchdoc, dan Jubi Media.

Kolaborasi strategis ini menghasilkan sebuah mahakarya yang mengungkap perampasan hak hidup masyarakat adat di Papua Selatan akibat ambisi besar program food estate. Film ini mengangkat isu kolonialisme modern yang berdampak pada kehancuran ekologis yang memicu perlawanan suku Marind, Yei, dan Muyu di Papua Selatan.

Dalam semangat persekutuan dan pembinaan intelektual, agenda ini menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang aktivisme yang konsisten menyuarakan isu iklim, HAM, dan politik, Suriadi Darmoko (350.org Indonesia), Efatha F. Borromeu Duarte (Akademisi Ilmu Politik Universitas Udayana), dan Giovany Umbu Rihi (Ketua GMKI Denpasar).

Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Denpasar, Giovany Umbu Rihi, menjelaskan mengenai latar belakang dibuka nobar dan diskusi film Pesta Babi ini sebagai bahan refleksi bersama untuk melihat bagaimana persoalan lingkungan yang terjadi hari ini menjadi perhatian bersama, baik masyarakat maupun pemerintah.

“Melalui nobar dan diskusi kita pada malam hari ini, menjadi sebuah bahan refleksi bersama untuk melihat bagaimana persoalan yang ada dalam film dokumenter ini harus menjadi perhatian bersama, terutama pemerintah,” terangnya.

Narasumber 1 dalam sesi diskusi Suriadi Darmoko, aktivis lingkungan 350.org Indonesia yang konsisten menyuarakan isu lingkungan dan iklim, menilai film ini dari kacamata transisi energi.

Film ini secara utuh menggambarkan bagaimana transisi energi dibajak oleh pemerintah yang dibarengi dengan oligarki menggunakan narasi transisi energi untuk membangun industri food estate di Papua. Tetapi hal ini dinilai dapat menciptakan kerusakan baru.

“Idealnya transisi energi dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan baru dan tanpa menciptakan ketimpangan baru. Tetapi dalam film ini, jelas dan terang bahwa transisi energinya dibajak yang pada akhirnya menyebabkan ketimpangan dan problem lingkungan yang baru. Sehingga tidak ada transisi energi dalam praktik ekstraktivisme seperti yang ditayangkan di film Pesta Babi tadi,” jelas Moko.

Sementara itu, narasumber 2 akademisi  ilmu politik Universitas Udayana, Efatha F. Borromeu Duarte, melihat bagaimana film Pesta Babi menyajikan masalah sosial yang jarang terlihat dan jarang disorot.

Efatha menegaskan, poin-poin penting yang ditayangkan dalam film tersebut perlu diperhatikan, karena selama ini Papua merupakan bagian yang tidak diperhatikan dengan baik dan tidak terlihat dengan sangat clear.

“Dari film ini akhirnya kita melihat ada masalah-masalah sosial dan struktural yang cukup serius. Dengan hal tersebut kita berharap ada perubahan yang signifikan,bagaimana kita memandang konflik terkait Papua. Sehingga ini menjadi salah satu referensi kita untuk memperbaiki situasi saat ini jauh lebih baik dalam proyek dan rencana strategis ke depan,”ungkapnya .

Ia memaparkan lebih lanjut bahwa negara memikul tanggung jawab filosofis yang hingga kini realisasinya belum menyentuh ranah konkret. Oleh karena itu, berbagai solusi yang ada perlu dikawal ketat, salah satunya melalui refleksi yang ditawarkan film ini.

“Kehadiran film ini memungkinkan banyak kebijakan publik untuk dikawal. Harapannya, masukan-masukan di dalam film ini mampu memicu perubahan yang signifikan.

Film Pesta Babi, pada akhirnya dapat mengubah sumber daya manusia kita agar ke depannya mampu bersama dengan pemerintah untuk mengubah dinamika dan lanskap pembangunan menjadi lebih berkeadilan,”tegasnya.

Inisiator kegiatan ini, Kapelbid Akspel Komisariat Imanuel GMKI Cabang Denpasar, Mathew James Come Rihi, membeberkan mengenai latar belakang pemilihan tema “Dekonstruksi Serakah: Hegemoni Politik dan Komodifikasi Budaya di Atas Reruntuhan Ekologi”.

“Alasan kami memilih tema ini karena berangkat dari kerangka pemikiran kritis yang memandang pembangunan bukan sebagai proses yang netral, melainkan sebagai arena yang sarat dengan relasi kuasa antara kepentingan politik dan ekonomi,” bebernya saat dikonfirmasi via Whatsapp,pada (03/05/2026).

Melalui pemutaran film Pesta Babi, kegiatan ini dimaksudkan sebagai ruang refleksi kritis yang memungkinkan peserta untuk melakukan pembacaan yang lebih mendalam terhadap realitas tersebut.

 “Harapan kami dari kegiatan ini agar terbentuknya kesadaran kritis di kalangan kader Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Denpasar, baik pada tataran kognitif maupun etis,” tutup James. (Novian Alberto Lega Nama)

 

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
Film Pesta Babi Dekonstruksi Serakah GMKI Cabang Denpasar