NEGARA, RadarBali.id – Kabar kurang sedap membayangi sektor peternakan Bali menjelang Idul Adha 2026.
Di tengah melonjaknya permintaan pasar, aktivitas pengiriman sapi Bali ke luar pulau melalui Pelabuhan Gilimanuk justru mulai melandai akibat habisnya kuota pengiriman tahunan.
Baca Juga: Jaga Kemurnian Genetik, Karantina Bali Perketat Pengawasan 10 Ribu Sapi yang Keluar Pulau
Data Karantina Hewan Gilimanuk mencatat, pengiriman harian kini menyusut drastis menjadi rata-rata 20 truk (sekitar 400 ekor), dari sebelumnya yang mencapai 50 truk atau hampir 1.000 ekor per hari. Hingga awal Mei ini, total sekitar 48 ribu ekor sapi telah diseberangkan menuju Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan.
Baca Juga: Menjelang Hari Raya Kurban Permintaan Sapi Bali Meningkat 40 Persen
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pengusaha dan peternak. I Gede Gunawantika, salah satu pengusaha sapi asal Jembrana, mengungkapkan bahwa kuota 50 ribu ekor untuk tahun 2026 sudah nyaris habis terserap.
"Permintaan sebenarnya sangat tinggi, terutama dari Kalimantan dan Jakarta. Harga di pasar pun naik menjadi sekitar 50 ribu hingga 51 ribu rupiah per kilogram. Namun, masalahnya adalah kuota. Jika tidak ada tambahan kuota untuk Juni hingga Desember, sapi-sapi petani tidak akan terserap keluar daerah," keluh Gunawantika.
Ia menambahkan, sistem kuota yang kini bersifat "rebutan" antar pengusaha se-Bali tanpa pembagian per kabupaten membuat situasi semakin kompetitif. Jika pemerintah tidak segera menambah kuota harian, dikhawatirkan terjadi penumpukan stok di tingkat lokal yang berujung pada anjloknya harga sapi di tingkat peternak.
Dari sisi kesehatan, kondisi tahun ini terbilang sangat baik. Pihak Karantina memastikan seluruh sapi yang keluar memiliki sertifikat veteriner dan bebas dari penyakit PMK maupun LSD. Di sisi lain, Bali tetap memberlakukan aturan ketat dengan melarang masuknya ternak luar daerah demi menjaga status surplus dan keamanan hayati pulau.[*]
Editor : Hari Puspita