Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dari Brahmavihara untuk Dunia, Indonesia Walk for Peace 2026 Simbol Toleransi tanpa Batas

M.Ridwan • Minggu, 10 Mei 2026 | 08:02 WIB
PESAN DAMAI: Wamenag RI, Romo HM Syafe’i, Gubernur Koster dan Dirjen Budha serta pejabat lain di Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 dari pelataran suci Brahmavihara-Arama, Kabupaten Buleleng, 9 Mei 2026. (Sania Humas Kemenag Bali/radarbali.id)
PESAN DAMAI: Wamenag RI, Romo HM Syafe’i, Gubernur Koster dan Dirjen Budha serta pejabat lain di Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 dari pelataran suci Brahmavihara-Arama, Kabupaten Buleleng, 9 Mei 2026. (Sania Humas Kemenag Bali/radarbali.id)

SINGARAJA, radarbali.jawapos.com –Sebuah pesan perdamaian dunia kembali bertiup dari Bali. Bukan melalui pengeras suara, melainkan lewat langkah kaki yang sunyi namun penuh makna dalam momen penting bertajuk, Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 dari pelataran suci Brahmavihara-Arama, Kabupaten Buleleng, 9 Mei 2026.

Bukan sekadar seremoni keagamaan, IWFP 2026 ditabiskan sebagai sebuah manifestasi spiritual dan kemanusiaan.

Sebanyak 56 Bhikkhu dari berbagai penjuru Asia—terdiri dari 43 peserta asal Thailand, 4 dari Malaysia, 3 dari Laos, serta perwakilan dari Indonesia—berkumpul untuk satu misi: Merajut Kembali Tenun Persaudaraan Global yang mulai terkoyak oleh kompleksitas tantangan zaman.

Selama 20 hari ke depan, para Bhikkhu yang berusia antara 23 hingga 67 tahun ini akan menempuh perjalanan fisik dan batin sejauh ratusan kilometer.

Mereka akan melintasi empat provinsi. Yakni,  Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga berakhir di kemegahan Candi Borobudur, Jogjakarta, pada 28 Mei 2026.

Ketua Panitia IWFP 2026, Tosin menegaskan esensi kegiatan ini adalah sebuah pengingat bagi dunia.

"Ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ziarah batin untuk menumbuhkan kesadaran bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan perekat. Dari Bali, kami sampaikan bahwa perdamaian dimulai dari hati yang terbuka," ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Kehadiran tokoh-tokoh penting dalam acara pelepasan ini menandakan betapa strategisnya gerakan ini bagi citra Indonesia di mata dunia.

Wakil Menteri Agama RI, Romo R. Muhammad Syafi’i (dua dari kanan) berbincang bersama Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Dirjen Budha dan Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra. (Sania Humas Kemenag Bali/radarbali.id)
Wakil Menteri Agama RI, Romo R. Muhammad Syafi’i (dua dari kanan) berbincang bersama Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Dirjen Budha dan Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra. (Sania Humas Kemenag Bali/radarbali.id)

 

Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyebut agenda ini sebagai "perjalanan suci" yang selaras dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Koster meyakini langkah para Bhikkhu ini akan menjadi magnet perhatian dunia.

"Bali dibangun di atas pondasi harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam. IWFP adalah energi positif yang memperkuat dan mempertegas identitas Bali sebagai pulau toleransi," tegas Koster.

Istimewanya, Wakil Menteri Agama RI, Romo R. Muhammad Syafi’i, dalam kata sambutannya memberikan refleksi mendalam mengenai filosofi di balik berjalan kaki. Baginya, perjalanan jauh adalah simbol pengendalian diri.

"Perang terbesar adalah melawan hawa nafsu. Dengan berjalan bersama dalam perbedaan, kita menunjukkan bahwa kita satu di hadapan Tuhan. Ini adalah diplomasi budaya yang menunjukkan wajah Indonesia yang inklusif dan moderat," ungkap Romo Syafi'i, disambut tepuk tangan hadirin.

Ditekankan pula, di tengah arus globalisasi yang sering kali memicu polarisasi, IWFP 2026 hadir sebagai antitesis terhadap perpecahan. Karena itu lanjut Romo, Kementerian Agama RI memandang kegiatan ini sebagai langkah strategis.

Antara lain, penguatan moderasi beragama guna mewujudkan nilai agama dalam aksi nyata, bukan sekadar wacana.

Kemudian sebutnya, Menjadi wahana edukasi Kolektif. Yaitu, mengajak generasi muda melihat bahwa persatuan adalah modal sosial terkuat bangsa.

Tak kalah penting adalah menjalin solidaritas Lintas Negara guna mempererat jejaring kemanusiaan internasional tanpa batas kebangsaan.

Dari Langkah Kecil Menuju Perubahan Besar

Saat para Bhikkhu mulai melangkahkan kaki meninggalkan Buleleng, mereka membawa harapan jutaan orang.

Indonesia Walk for Peace 2026 adalah pengingat bahwa di negeri yang majemuk ini, kedamaian adalah sesuatu yang harus dijaga, dirawat, dan dijalani—langkah demi langkah.

Dari Bali, untuk dunia, forum itu sepakat bahwa perdamaian dunia adalah sebuah perjalanan yang harus terus dirawat, bukan tujuan akhir.

Kegiatan IWFP 2026 dihadiri sejumlah tokoh lintas keyakinan. Seperti FKUB, spriritualis Islam, Budha, Hindu, Kristen, Katolik dan lainnya.***

Editor : M.Ridwan
#IWFP 2026 #Indonesia Walk for Peace #Wamenag RI Romo HM Syafei #vihara budha sakyamuni #gus miftah