DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Kementerian Agama RI terus memperkuat gerakan moderasi beragama melalui pendekatan yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
Salah satu langkah konkret tersebut diwujudkan melalui peluncuran program yakni, “Peluk Indonesia: Beda Iman Saling Menguatkan” yang bersinergi dengan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan di Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar, Sabtu (9/5/2026).
Program “Peluk Indonesia: Beda Iman Saling Menguatkan” hadir bukan sebagai ajang seremonial belaka, melainkan sebagai komitmen nyata untuk merawat kebhinekaan serta sebuah gerakan moral untuk menjawab tantangan polarisasi sosial dan intoleransi digital yang mulai menggejala.
Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, KH. Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah, menegaskan bahwa pemilihan Bali sebagai lokasi peluncuran karena Bali adalah cermin keadilan Tuhan bagi Indonesia.
Ia menekankan bahwa filosofi "Peluk" mengandung makna mendalam tentang penerimaan, perlindungan, dan kasih sayang.
"Indonesia terlalu indah untuk dibenci. Kita harus bergerak dari sekadar destinasi wisata dunia menuju destinasi moderasi dan toleransi dunia. Peluk Indonesia adalah gerakan untuk merawat kebhinekaan, menyemai kerukunan, menguatkan persaudaraan, dan membangun kemanusiaan," ujar Gus Miftah dalam orasinya yang membakar semangat.
Ia juga mengingatkan bahwa musuh bangsa saat ini bukanlah agresi militer, melainkan upaya membenturkan sesama anak bangsa melalui isu keyakinan dan intoleransi digital.
Ia menambahkan bahwa program ini juga bertujuan menjadikan Bali bukan hanya destinasi wisata dunia, tetapi destinasi moderasi dunia.
“Wisata terbaik bukan hanya yang memanjakan mata melalui keindahan alam, tetapi yang memanjakan hati melalui kerukunan masyarakatnya,” tegasnya.
Dengan gayanya yang khas menegaskan Bali menjadi sentral miniatur moderasi dan toleransi.
"Melawan intoleransi digital maka harus dilawan dengan viralkan kebaikan dan kebenaran, Peluk Indonesia, mari merawat kebhinekaan, menyemai kerukunan, perkuat persaudaraan, beda iman saling menguatkan," seru Gus Miftah, disambut tepuk tangan.
Kegiatan yang dihadiri tokoh lintas iman ini menjadi momentum krusial untuk mentransformasi moderasi beragama dari sekadar wacana menjadi aksi nyata yang humanis.
Sinergi Kementerian Agama dan Tokoh Lintas Iman
Wakil Menteri Agama RI, KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga sumber daya alam dan keutuhan bangsa melalui kerukunan.
"Bangsa ini adalah bangsa yang besar dengan kekayaan alam luar biasa. Kita harus menjaga stabilitas dan persatuan agar tidak ada ruang bagi pihak luar untuk memecah belah kita demi kepentingan tertentu," tutur Wamenag.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif ini. Menurutnya, program ini sejalan dengan visi Kemenag dalam memperkuat moderasi beragama di Bali yang selama ini sudah menjadi teladan bagi dunia.
"Bali telah membuktikan bahwa bangunan fisik hingga karakter masyarakatnya mencerminkan harmoni. Kami di jajaran Kemenag Bali berkomitmen untuk terus menjadikan moderasi bukan sekadar wacana, tapi nafas kehidupan," tegas I Gusti Made Sunartha.
Ketua FKUB Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, mengingatkan bahwa kerukunan adalah pondasi yang harus dijaga sebelum masalah besar muncul.
"Moderasi dan kerukunan ini kalau tidak ada masalah seolah-olah tidak penting, tapi begitu ada masalah, ini akan menjadi persoalan besar bagi bangsa. Maka kewajiban kita adalah menjaga jangan sampai kerukunan ini terkoyak," jelasnya.
Sebagai tuan rumah, Ketua Yayasan Buddha Sakyamuni Bali, Romo Oscar Naib Wanouw, menyatakan kebahagiaannya atas dipilihnya Vihara Buddha Sakyamuni sebagai titik awal gerakan ini.
"Kami sangat menyambut baik program Peluk Indonesia. Kehadiran para tokoh dari berbagai latar belakang di Vihara ini adalah bukti nyata bahwa rumah ibadah harus menjadi tempat yang meneduhkan bagi semua," ungkap Romo Oscar.
Lima Nilai Utama Peluk Indonesia
Program ini membawa lima nilai inti: Kemanusiaan, Kebangsaan, Persaudaraan, Kasih Sayang, dan Gotong Royong. Tidak hanya berhenti pada narasi, program ini juga akan diwujudkan dalam aksi nyata seperti "Peluk Rumah Ibadah" melalui kegiatan bersih-bersih tempat ibadah lintas agama secara gotong royong.
Kegiatan ditutup dengan Deklarasi Peluk Indonesia oleh seluruh tokoh dan masyarakat yang hadir, sebagai janji untuk menjaga negeri dari kebencian dan mempercayai bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan ancaman. Melalui "Peluk Indonesia", diharapkan generasi muda tidak mudah terprovokasi dan menjadi garda terdepan penjaga keutuhan NKRI demi tercapainya visi Indonesia Emas 2045.
Acara bersejarah ini turut dihadiri oleh Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI, Supriadi; Tenaga Ahli Menteri Agama; Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu, Nurudin; Pendeta Gilbert Emanuel Lumoindong; Kabag TU Kemenag Provinsi Bali, Pembimas Buddha, serta para tokoh lintas agama dan masyarakat lintas iman.
Melalui gerakan ini, Kementerian Agama berharap masyarakat tidak lagi terjebak dalam "intoleransi digital" dan lebih memilih untuk menebarkan konten yang menguatkan persatuan demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Program Peluk Indonesia di Bali diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat semangat kebangsaan, toleransi, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Kementerian Agama menilai bahwa keterlibatan tokoh lintas agama dalam gerakan ini menjadi bukti bahwa harmoni Indonesia dapat terus dirawat melalui kolaborasi, dialog, dan aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan lintas iman, Peluk Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi gerakan simbolik, tetapi mampu melahirkan berbagai program sosial, pendidikan, dan kemanusiaan yang memperkuat persatuan bangsa serta mempertegas Indonesia sebagai rumah bersama bagi seluruh umat beragama.***
Editor : M.Ridwan