Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menjahit Sinergi Lintas Sektor, Akhiri Darurat Sampah Bali Tak Bisa Parsial, Kodam IX/Udayana Desak Aksi Nyata Kolektif

I Wayan Widyantara • Kamis, 14 Mei 2026 | 07:03 WIB
SINERGI TANPA SEKAT: Kasdam IX/Udayana, Brigjen TNI Taufiq Hanafi (tengah) Kepala Dinas KLH Bali, I Made Dwi Arbani (dua dari kanan), akademisi Kartini (paling kanan), Komang Bemo dari Malu Dong Buang Sampah Sembarangan (dua dari kiri) dan praktisi pengolahan sampah Putu Gede Indra (paling kiri) di FGD yang digelar di Makodam IX Udayana, Rabu 13 Mei 2026. (Humas Kodam IX Udayana for radarbali.id)
SINERGI TANPA SEKAT: Kasdam IX/Udayana, Brigjen TNI Taufiq Hanafi (tengah) Kepala Dinas KLH Bali, I Made Dwi Arbani (dua dari kanan), akademisi Kartini (paling kanan), Komang Bemo dari Malu Dong Buang Sampah Sembarangan (dua dari kiri) dan praktisi pengolahan sampah Putu Gede Indra (paling kiri) di FGD yang digelar di Makodam IX Udayana, Rabu 13 Mei 2026. (Humas Kodam IX Udayana for radarbali.id)

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Masalah sampah di Pulau Dewata bukan lagi sekadar noda di peta pariwisata, melainkan tantangan eksistensial bagi kesehatan dan ekosistem. Narasi Bali darurat sampah dan bom waktu sampah bertaburan di media sosial.

Menyadari hal tersebut, Kodam IX/Udayana mengambil langkah progresif dengan mengubah ruang diskusi menjadi medan tempur gagasan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk, “Penanganan Sampah Berbasis Kolaborasi dan Kearifan Lokal”.

Digelar di Ruang Airlangga, Makodam IX/Udayana pada Rabu (13/5/2026), forum ini menjadi kado bermakna menjelang peringatan Hari Bakti ke-69 Kodam IX/Udayana tahun 2026.

TNI membuktikan bahwa menjaga kedaulatan bangsa kini juga berarti menjaga kebersihan tanah air dan citra Bali sebagai destinasi wisata nomor wahid dunia.

Dibuka oleh Kasdam IX/Udayana, Brigjen TNI Taufiq Hanafi, mewakili Pangdam IX/Udayana, diskusi ini mempertemukan berbagai lini stakeholder.

Mulai dari jajaran PJU Kodam, pemerintah daerah, akademisi, hingga aktivis akar rumput dan media.

Dalam sambutan tertulisnya, Pangdam menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa dilakukan dengan cara "jalan sendiri-sendiri".

" Persoalan sampah fakta krusial yang  penanganannya tak dapat dilakukan secara parsial. Ini adalah implementasi Tugas Pokok TNI dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Kami berkomitmen penuh membantu pemerintah daerah demi Bali yang lebih hijau," tegas Pangdam.

Diskusi berlangsung hangat dengan menghadirkan empat perspektif tajam yang saling melengkapi.

Kepala DKLH Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, yang didaulat pemapar pertama menekankan bahwa tata kelola sampah harus tuntas dari hulu ke hilir. Kuncinya? Pemilahan sampah sejak dari tangan pertama.

 

”Kunci utamanya adalah, pemilahan sampah dari sumber, organik, non organik dan residu,” tandas Dwi Arbani dalam presentasinya.

Selain itu, kebijakan besar kedepan menurutnya adalah penghentian open dumping dan peralihan ke controlled landfill Dimana Agustus 2026 TPA Suwung tutup permanen.

Pihaknya juga berkomitmen melakukan penambahan sarana pengolah sampah seperti TPS3R, TPST dan pembangunan PSEL.

”Pengawasan dan sanksi tegas atas pelanggaran juga penting sebagai rencana aksi nyata kedepan,” tandas Dwi Arbani.

Akademisi dan pakar lingkungan  Prof. Ni Luh Kartini mengajak masyarakat kembali ke kemandirian.

Menurutnya, jika sampah selesai di tingkat rumah tangga, beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian kritis akan berkurang drastis.

Hal itu menurutnya, seiring TPA Suwung sudah wajib menjalankan mandatori UU No. 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.

”Upgrade mesin sampah tropis (organik basah). Fermentasi (kompos), BSF(magot) dan Cacing tanah (Kascing). Sampah organik basah dengan komposter kalau tidak dipisahkan cepat keluar ulat,” saran Kartini.

Seorang praktisi pengelohan sampah, Putu Gede Indra membawa konsep ekonomi sirkular. Ia mengubah cara pandang: sampah bukan lagi beban biaya, melainkan komoditas yang memiliki nilai ekonomi jika dikelola secara modern.

Sementara Komang Sudiarta alias Komang Bemo dari Komunitas Maludong menutup dengan pesan menyentuh.

Baginya, infrastruktur secanggih apa pun akan sia-sia jika karakter peduli lingkungan tidak ditanamkan sejak usia dini.

”Dari hulunya dulu kita selesaikan masalah sampah ini, jika tidak percuma diskusi terus,” ujarnya dengan gaya khasnya.

Yang menarik seorang konsultan lingkungan, Jro Gede Artika, justru meminta sampah agar dikembalikan ke asal penciptaannya.

”Bagaimana caranya, ya dimusnahkan dengan teknologi yang pas sesuai karakter sampah masing-masing. Di Singapura dan banyak negara Eropa bisa dilakukan dan aman karena teknologinya ramah,” tandas Artika, disela FGD.

FGD ini bukan sekadar seremoni. Output yang diharapkan adalah lahirnya rekomendasi konkret dan aksi nyata yang dapat langsung diaplikasikan di lapangan. Kodam IX/Udayana memosisikan diri sebagai katalisator yang menghubungkan kebijakan pemerintah dengan gerakan swadaya masyarakat.

Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa di tahun 2026, TNI tidak hanya hadir dengan senjata di tangan, tetapi juga dengan solusi lingkungan di pikiran. Harapannya satu: mengembalikan wajah Bali yang bersih, sehat, dan benar-benar lestari bagi generasi mendatang.***

 

Editor : M.Ridwan
#penanganan sampah di Bali #bali darurat sampah #Kodam IX Udayana #penutupan TPA Suwung