Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tiket Jakarta-Bali Capai Rp 14 Juta, Kunjungan Wisatawan Melandai

Dhian Harnia Patrawati • Kamis, 21 Mei 2026 | 10:32 WIB
TERDAMPAK FUEL SURCHARGE: Pesawat terbang maskapai asing saat akan lepas landas di Bandara Ngurah Rai, beberapa waktu lalu.
TERDAMPAK FUEL SURCHARGE: Pesawat terbang maskapai asing saat akan lepas landas di Bandara Ngurah Rai, beberapa waktu lalu.

 

RADAR BALI - Lonjakan harga tiket pesawat rute domestik Jakarta-Bali tengah menjadi sorotan tajam sejak pertengahan Mei 2026.

Berdasarkan pantauan per Kamis (21/5/2026), harga tiket penerbangan dilaporkan melambung tinggi hingga menembus angka Rp 14 juta lebih untuk kelas tertentu.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menekan angka kunjungan wisatawan domestik ke Pulau Dewata.

Faktor utama di balik lonjakan ini adalah keputusan Kementerian Perhubungan yang mengizinkan maskapai menerapkan biaya tambahan (fuel surcharge) maksimal hingga 50 persen dari tarif batas atas. Kebijakan ini diambil menyusul kenaikan harga avtur global yang melambung tinggi sejak April lalu.

Harga tiket seharga Rp 14,4 juta sekali jalan tersebut memang berlaku khusus untuk Kelas Bisnis pada maskapai full-service seperti Garuda Indonesia di jam-jam tertentu.

Sementara itu, untuk kelas ekonomi yang menjadi indikator utama pergerakan wisatawan nusantara (wisnus), harganya terpantau flat di batas atas:

Penerbangan Low Cost Carrier (LCC): Maskapai seperti AirAsia, Lion Air, Super Air Jet, dan Citilink menjual tiket di kisaran Rp1,4 juta hingga Rp1,8 juta untuk penerbangan langsung.

Penerbangan Full-Service: Untuk kelas ekonomi maskapai premium, tarif rata-rata berkisar antara Rp1,8 juta hingga Rp2,4 juta.

Meskipun kelas ekonomi tidak menyentuh angka belasan juta, nominal Rp 1,8 juta hingga Rp 2,4 juta ini tetap berada jauh di atas rata-rata harga normal historis yang biasanya bisa didapatkan di bawah Rp1,2 juta.

Kondisi ini memicu kekhawatiran dari pelaku industri pariwisata di Bali karena berpotensi menahan minat berlibur wisatawan domestik dan mengalihkan preferensi mereka ke destinasi internasional jarak dekat yang harganya menjadi lebih bersaing.

Kunjungan Wisman Stabil, Tren Bulanan Mengalami Koreksi

Di tengah bayang-bayang isu tiket domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali merilis data kinerja pariwisata untuk Triwulan I (Januari-Maret) 2026.

Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menyampaikan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali masih relatif stabil dengan pertumbuhan tipis secara tahunan (year-on-year).

Sepanjang triwulan pertama 2026, total kunjungan wisman mencapai 1.466.546 kunjungan, naik 1,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 (1.451.445 kunjungan).

Namun, BPS menyoroti adanya tren penurunan bulanan (month-to-month) sepanjang awal tahun ini:

Januari 2026: 502.205 kunjungan

Februari 2026: 492.289 kunjungan (turun 1,97%)

Maret 2026: 472.070 kunjungan (turun 4,11%)

Penurunan bulanan ini dipengaruhi oleh siklus low season serta dinamika geopolitik global. Kedatangan kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Benoa pada Maret cukup membantu menahan koreksi yang lebih dalam.

Seiring melandainya kunjungan, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Bali rata-rata bergerak di kisaran 56,67 persen, sedangkan non-bintang di angka 32,7 persen.

Profil 5 Besar Negara Asal Wisman (Januari-Maret 2026):

Australia: 354.079 kunjungan (Naik 5,76%)

Tiongkok: 157.242 kunjungan (Naik 20,22%)

India: 116.943 kunjungan (Turun 0,25%)

Korea Selatan: 68.873 kunjungan (Turun 13,32%)

Inggris: 63.364 kunjungan (Turun 4,76%)

Tantangan Pasar Wisatawan Domestik

Bagi industri pariwisata Bali, pergerakan wisatawan lokal atau nusantara (wisnus) merupakan penopang utama ketika pasar internasional berfluktuasi.

Berdasarkan data BPS yang dicatat menggunakan metode Mobile Positioning Data (MPD), sepanjang tahun 2025 lalu, pergerakan wisnus ke Bali menembus angka yang sangat besar, yakni 26.615.306 perjalanan.

Namun, memasuki awal tahun 2026, pasar domestik mulai menunjukkan tanda-tanda pengetatan. Pada Januari 2026, jumlah perjalanan wisnus ke Bali tercatat sebanyak 2.170.938 perjalanan.

Angka ini turun 1,26 persen dibandingkan Desember 2025, dan terkoreksi 6,09 persen dibandingkan Januari 2025 (year-on-year).

Hingga saat ini, BPS Provinsi Bali masih melakukan kompilasi final untuk angka pasti wisnus Triwulan I secara utuh. Namun secara nasional, pergerakan wisnus pada Maret 2026 sebenarnya sempat melonjak tajam hingga 126,34 juta perjalanan akibat momentum libur panjang.

Sayangnya, khusus untuk wilayah Bali, dinamika kunjungan domestik justru tertahan memasuki triwulan kedua ini.

Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Bali dan para pelaku industri mencatat dua faktor utama penghambat, yakni normalisasi pasca-libur panjang dan lonjakan biaya tiket pesawat domestik.

Kenaikan fuel surcharge memaksa sebagian wisnus menahan diri untuk terbang ke Bali, atau mengalihkan moda transportasi mereka menggunakan jalur darat dan laut melalui penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#Tiket Pesawat Jakarta Bali #Pariwisata Bali 2026 #Data BPS Bali #Harga Tiket Pesawat Naik #wisatawan nusantara