Jagat digital dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) memang menawarkan sejuta kemudahan, namun di mata anak-anak Bali, teknologi ini bagai pisau bermata dua. Isu strategis inilah yang digelorakan dalam Grand Final Mimbar Anak Bali (MAB) XVIII Tahun 2026.
ACARA berlangsung semarak di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Senin (18/5/2026).
Dalam forum bergengsi tersebut, anak-anak Bali kompak menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap masifnya penggunaan AI di era modern.
Meski diakui membawa manfaat di dunia pendidikan, teknologi pintar ini dinilai menyimpan risiko besar jika digunakan tanpa pendampingan yang tepat dari orang tua dan guru.
”Ada kekhawatiran besar bahwa AI bisa menumpulkan kemampuan berpikir kritis, menggerus kreativitas, hingga membuat anak-anak kehilangan kemandirian dalam belajar,” bunyi salah satu poin aspirasi yang mencuat.
Kelima Komisi Duta Anak Bali 2026 Terpilih
Melalui proses seleksi yang ketat, MAB XVIII akhirnya mengukuhkan lima Duta Anak Bali Tahun 2026 yang akan mengemban tugas di masing-masing komisi:
- Kadek Silva Octricia Pratiwi (Komisi Pendidikan)
- Ni Kadek Prema Jyothi Sai Prasanthi (Komisi Kesehatan)
- Putu Cindy Adelia (Komisi Perlindungan Khusus)
- I Ketut Windu Wardana (Komisi Partisipasi)
- Ni Made Naraya Pratista Neraida Suputra (Komisi Jaringan)
Ketua Forum Anak Daerah (FAD) Bali, Gung Mahisa, berharap para duta yang terpilih tidak sekadar menyandang gelar, tetapi berani menjadi pelopor dan penyambung lidah bagi sesamanya demi pemenuhan hak anak di Pulau Dewata.
Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Disos P2A) Provinsi Bali, AA Sagung Mas Dwipayani, meminta para duta tetap menjaga nilai-nilai luhur.
”Ke depan, Duta Anak Bali harus berjuang bersama masyarakat dan pemerintah untuk memastikan hak-hak anak terpenuhi dengan baik,” jelasnya.
Bentengi Diri dengan Rumus "ABCDE" dan Kearifan Lokal
Sementara itu, salah satu dewan juri yang juga Komisioner Bidang Pendidikan KPAD Bali, Made Ariasa, mengingatkan pentingnya penguatan karakter anak di tengah gempuran teknologi. Ia menyodorkan fondasi ABCDE (Attitude, Brain, Character, Dedication, Energetic).
”Anak-anak harus komitmen menjaga dan meningkatkan ABCDE ini dalam diri mereka, lalu menularkannya ke seluruh anak di Bali,” cetus Ariasa.
Lebih dari itu, Ariasa menitipkan pesan agar generasi muda Bali tidak tercerabut dari akar budayanya. Filosofi kearifan lokal harus tetap menjadi tameng utama. ”Ingat selalu konsep Asah Asih Asuh, prinsip Mlajah Jumah, serta petuah Eda Ulah Aluh (jangan meremehkan/asal-asalan) dan Eda Ngaden Awak Bisa (jangan merasa paling pintar). Ini penting agar karakter anak Bali semakin kokoh menghadapi zaman,” pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita