Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Gelar Grand Final MAB XVIII, Duta Anak Bali Suarakan "Sisi Gelap" AI yang Mengancam Daya Kritis Generasi Muda

Ida Bagus Indra Prasetia • Jumat, 22 Mei 2026 | 16:59 WIB
KRITISI AI : Grand Final Mimbar Anak Bali (MAB) XVIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar. (ist)
KRITISI AI : Grand Final Mimbar Anak Bali (MAB) XVIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar. (ist)

Jagat digital dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) memang menawarkan sejuta kemudahan, namun di mata anak-anak Bali, teknologi ini bagai pisau bermata dua. Isu strategis inilah yang digelorakan dalam Grand Final Mimbar Anak Bali (MAB) XVIII Tahun 2026.

ACARA  berlangsung semarak di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Senin (18/5/2026).

Dalam forum bergengsi tersebut, anak-anak Bali kompak menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap masifnya penggunaan AI di era modern.

Baca Juga: Navigasi Masa Depan Media, Konjen Australia - AJI Kota Denpasar Dukung Transformasi AI Jurnalis Bali-Nusra

Meski diakui membawa manfaat di dunia pendidikan, teknologi pintar ini dinilai menyimpan risiko besar jika digunakan tanpa pendampingan yang tepat dari orang tua dan guru.

”Ada kekhawatiran besar bahwa AI bisa menumpulkan kemampuan berpikir kritis, menggerus kreativitas, hingga membuat anak-anak kehilangan kemandirian dalam belajar,” bunyi salah satu poin aspirasi yang mencuat.

Kelima Komisi Duta Anak Bali 2026 Terpilih

Melalui proses seleksi yang ketat, MAB XVIII akhirnya mengukuhkan lima Duta Anak Bali Tahun 2026 yang akan mengemban tugas di masing-masing komisi:

Ketua Forum Anak Daerah (FAD) Bali, Gung Mahisa, berharap para duta yang terpilih tidak sekadar menyandang gelar, tetapi berani menjadi pelopor dan penyambung lidah bagi sesamanya demi pemenuhan hak anak di Pulau Dewata.

Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Disos P2A) Provinsi Bali, AA Sagung Mas Dwipayani, meminta para duta tetap menjaga nilai-nilai luhur.

”Ke depan, Duta Anak Bali harus berjuang bersama masyarakat dan pemerintah untuk memastikan hak-hak anak terpenuhi dengan baik,” jelasnya.

Bentengi Diri dengan Rumus "ABCDE" dan Kearifan Lokal

Sementara itu, salah satu dewan juri yang juga Komisioner Bidang Pendidikan KPAD Bali, Made Ariasa, mengingatkan pentingnya penguatan karakter anak di tengah gempuran teknologi. Ia menyodorkan fondasi ABCDE (Attitude, Brain, Character, Dedication, Energetic).

”Anak-anak harus komitmen menjaga dan meningkatkan ABCDE ini dalam diri mereka, lalu menularkannya ke seluruh anak di Bali,” cetus Ariasa.

Lebih dari itu, Ariasa menitipkan pesan agar generasi muda Bali tidak tercerabut dari akar budayanya. Filosofi kearifan lokal harus tetap menjadi tameng utama. ”Ingat selalu konsep Asah Asih Asuh, prinsip Mlajah Jumah, serta petuah Eda Ulah Aluh (jangan meremehkan/asal-asalan) dan Eda Ngaden Awak Bisa (jangan merasa paling pintar). Ini penting agar karakter anak Bali semakin kokoh menghadapi zaman,” pungkasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#gedung ksirarnawa #ai #Turnamen #Duta Anak #teknologi informasi