Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Fenomena Serbuan Lalat di Desa Buahan Kaja, Petani Minta Dibuatkan Inovasi Pengendalian

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 22 Mei 2026 | 21:23 WIB
TEMUKAN SOLUSI: Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa (Unwar)  berdialog dengan petani di Desa Buahan Payangan, Gianyar Kamis (21/5/2026). (Sumber untuk radarbali.id)
TEMUKAN SOLUSI: Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa (Unwar) berdialog dengan petani di Desa Buahan Payangan, Gianyar Kamis (21/5/2026). (Sumber untuk radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Serangan hama lalat mengancam petani jeruk di Desa Buahan Kaja, Payangan, Gianyar.

Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa (Unwar) diminta untuk turun tangan membantu menciptakan inovasi teknologi pengendalian lalat buah.

Harapan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Desa Buahan Kaja, I Wayan Wirtama, di sela-sela kegiatan pengabdian masyarakat nasional pada kemarin (21/5/2026).  

Kepala Desa Buahan Kaja, I Wayan Wirtama, mengungkapkan,  hama lalat mengakibatkan penurunan produktivitas pertanian jeruk di wilayahnya. Bahkan, penyebab utama  menggagalkan hasil panen masyarakat.

"Lalat buah menjadi makhluk utama menggagalkan hasil panen petani, fase penyebab kegagalannya lalat buah yang paling utama," ujar I Wayan Wirtama saat menyampaikan keluhan para petani.

 Baca Juga: Ridwan Kamil dan Aura Kasih Dikabarkan Menikah, Lisa Mariana Geram

Serangan lalat  paling merugikan dibandingkan  kendala pertanian lainnya.

Menurut perhitungannya, serangan hama tersebut bisa menurunkan hasil produksi secara drastis dalam setiap musim panen.

"Jadi untuk lalat buahnya kurang lebih yang menyebabkan hasil panennya berkurang itu sampai 20 sampai 30 persen dalam setiap panen," jelas Wirtama.

Meskipun ada jenis kerusakan lain pada pohon jeruk seperti pembusukan, dampaknya dinilai tidak semasif kerusakan akibat lalat buah.

Jika tanaman mengalami busuk sebagian, kondisi tersebut digambarkan antara mati dan tidak jelas baru mati, sehingga petani masih bisa memotong area tersebut agar nanti muncul cabang baru yang produktif.

Wirtama menambahkan, "Kalau masih busuknya sebagian, ya masih bisa potong nanti akan muncul cabang baru. Apa namanya, kalau ini yang baru ini dia kan memuat lagi dengan pemeliharaan yang bagus akan muat lagi." paparnya

Pihak desa berharap  kepada para akademisi untuk memberikan tambahan pengetahuan, termasuk teknik budidaya pendukung.

Petani membutuhkan tambahan terkait pengendalian lalat buah termasuk pengetahuan lainnya seperti pengolahan pupuk dan cara pemupukan yang benar agar produksi lebih baik. 

Ia menyebutkan, lalat buah merupakan hama yang paling dominan menyerang, keberhasilan dalam mengendalikannya justru akan mendatangkan dampak ekonomi yang luar biasa.

"Artinya karena itu hama yang paling dominan menyerang, kalau itu bisa dikendalikan, justru ada peningkatan lagi bagi pendapatan petani," tegasnya.

Merespons keluhan tersebut, Ketua Program Studi Agroteknologi Unwar, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si., menekankan pentingnya mengubah kebiasaan lama dalam pemeliharaan tanaman jeruk.

Salah satu kekeliruan yang sering dilakukan petani adalah langsung mengaplikasikan kotoran ternak yang belum matang ke lahan pertanian.

"Harus fermentasi dulu. Jangan menuangkan langsung kotoran ternak langsung ke tanaman. Responnya dari tanaman akan lama," kata I Gusti Bagus Udayana mengingatkan.***

Editor : M.Ridwan
#desa buahan kaja payangan #hama lalat #Unwar Denpasar