DENPASAR, Radar Bali.id – Bayang-bayang virus African Swine Fever (ASF) kembali menghantui para peternak babi di Bali. Kabar duka datang dari wilayah Canggu (Badung) dan Payangan (Gianyar), di mana puluhan babi dilaporkan mati massal secara mendadak setelah mengalami gejala sesak napas.
\Baca Juga: VIRUS ASF Merebak, Disperpa Badung Gencarkan Biosecurity, Begini Bahayanya
Gejala klinis ini sangat mirip dengan hantaman virus ASF yang sempat melumpuhkan peternakan babi pada tahun 2024 lalu.
Baca Juga: Diduga Ada Serangan Virus ASF, di Karangasem Puluhan Babi Mati Mendadak, Ini Keterangan Kadis
Mendengar tetangga kabupaten mulai "kebakaran", Dinas Pertanian (Distan) Kota Denpasar langsung memasang radar kewaspadaan. Beruntung, hingga Minggu (24/5/2026), wilayah ibu kota masih terpantau steril dari laporan kematian massal.
"Sampai saat ini belum ada laporan atau pengaduan akan kasus tersebut di Denpasar. Astungkara tidak ada," cetus Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan Kota Denpasar, Ni Made Suparmi.
Kendati masih aman, Distan Denpasar enggan kecolongan. Langkah preventif langsung digas lewat sosialisasi masif ke kantong-kantong peternak. Peternak diwanti-wanti untuk memperketat biosecurity kandang, menjaga kebersihan, dan rutin melakukan penyemprotan disinfektan.
Selain kebersihan lingkungan, kedisiplinan peternak juga diuji. "Kami meminta agar peternak tidak sembarangan keluar masuk kandang. Apalagi saat baru datang dari luar, wajib membersihkan diri atau mandi dulu sebelum menengok ternaknya," tambah Suparmi.
Catatan hitam ASF memang menjadi trauma tersendiri bagi peternak di Bali. Selain tahun 2024, virus mematikan ini pernah memporak-porandakan populasi babi pada medio 2019 hingga 2020 silam, termasuk di Denpasar.
Ciri utamanya sangat khas: babi mati mendadak tanpa gejala berkepanjangan. Efek domino dari virus ini pun sangat fatal, yakni memicu anjloknya harga babi hidup dan daging babi di pasaran akibat kepanikan warga.
Kondisi di Badung dan Gianyar saat ini menjadi alarm keras bahwa virus tersebut belum benar-benar hilang. Mengingat faktor utama penularan adalah masalah kebersihan dan pembawa virus (vector) dari luar, peternak Denpasar diminta tetap waspada tinggi agar investasi mereka tidak lenyap dalam semalam. [*]
Editor : Hari Puspita