Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Don’t Gas Indonesia: Hari Laut Sedunia dan Hari Coral Triangle Harus Menjadi Peringatan untuk Stop Ekspansi LNG di Bali

Tim Redaksi • Selasa, 9 Juni 2026 | 19:50 WIB
DITENTANG: Roberto Hutabarat, Koordinator Don
DITENTANG: Roberto Hutabarat, Koordinator Don't Gas Indonesia (kanan) membentangkan baner di pantai sebagai bentuk penolakan LNG oleh Don't Gas Indonesia. (ist/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Dalam rangka memperingati Hari Laut Sedunia (World Ocean Day) dan Hari Coral Triangle Sedunia (World Coral Triangle Day), jaringan Don't Gas Indonesia (DGI) menyerukan kepada Pemerintah Indonesia, Pemerintah Provinsi Bali, dan PT PLN (Persero) untuk segera menghentikan rencana ekspansi infrastruktur gas alam cair (LNG) dan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) di Bali.

Bali merupakan bagian dari Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang), kawasan dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia dan rumah bagi ekosistem terumbu karang yang memiliki nilai penting secara global.

Dari Menjangan dan Pemuteran di Bali Utara hingga Tulamben, Amed, Padang Bai, Nusa Penida, dan Nusa Lembongan, perairan ini menopang kehidupan laut, mata pencaharian masyarakat pesisir, tradisi budaya, serta ekonomi pariwisata yang bergantung pada laut yang sehat.

Namun, ekosistem tersebut saat ini telah menghadapi tekanan berat akibat perubahan iklim, pencemaran, praktik penangkapan ikan yang merusak, dan overtourism.

Baca Juga: Terkesan Kejar Tayang, Permohonan Persetujuan Lingkungan FSRU LNG Ajukan Lagi September, November Langsung Terbit, Warga Ngaku Resah

Rencana pembangunan infrastruktur LNG—termasuk terminal terapung LNG FSRU Sidakarya, jaringan pipa gas, jalur pelayaran kapal LNG, dan pembangkit listrik berbahan bakar gas baru di Bali Utara maupun Selatan—akan menghadirkan ancaman baru yang serius bagi wilayah pesisir dan laut Bali.

Ekspansi LNG akan meningkatkan lalu lintas kapal tanker di kawasan laut yang sensitif, mengancam ekosistem terumbu karang, mengganggu habitat pari manta, ikan mola-mola, lumba-lumba, dan berbagai spesies laut ikonik lainnya, serta memberikan tekanan tambahan terhadap hutan mangrove dan komunitas pesisir Bali.

Ekspansi LNG untuk Pariwisata Massal, Bukan untuk Masyarakat Lokal

Pemerintah Bali membenarkan ekspansi LNG dengan alasan mendukung "kemandirian energi" dan industri pariwisata yang lebih bersih.

Namun, Bali saat ini justru mengalami surplus pasokan listrik dalam sistem Jawa-Bali, sehingga menimbulkan pertanyaan serius mengenai urgensi pembangunan infrastruktur LNG baru.

DGI menilai bahwa pendorong utama ekspansi LNG di Bali adalah ambisi memperluas industri pariwisata massal dan proyek-proyek investasi berskala besar, bukan kebutuhan energi masyarakat lokal.

Narasi bahwa LNG merupakan "energi transisi yang bersih" sangat menyesatkan. LNG tetap merupakan energi fosil yang berkontribusi terhadap krisis iklim melalui kebocoran metana, emisi gas rumah kaca, kerusakan ekosistem, dan ketergantungan jangka panjang terhadap energi fosil.

Solusi Palsu bagi Krisis Iklim

Proyek-proyek LNG semakin sering dipromosikan atas nama transisi energi dan dekarbonisasi. Kenyataannya, proyek tersebut berisiko mengunci Bali dalam ketergantungan energi fosil selama puluhan tahun, sekaligus mengalihkan sumber daya dari solusi energi terbarukan yang benar-benar bersih, terjangkau, dan berkelanjutan.

Di tengah percepatan transisi energi global menuju energi terbarukan, infrastruktur LNG baru juga menghadapi risiko besar menjadi aset terlantar (stranded assets) yang pada akhirnya meninggalkan beban ekonomi dan kerusakan lingkungan bagi generasi mendatang.

Membangun Gerakan Rakyat untuk Melindungi Bali

Don't Gas Indonesia mengajak masyarakat pesisir, nelayan, pekerja pariwisata, organisasi lingkungan, seniman, kelompok pemuda, komunitas penyelam, dan masyarakat adat di seluruh Bali untuk bersatu mempertahankan pesisir, terumbu karang, dan warisan budaya Bali.

Perlindungan laut Bali tidak dapat dipisahkan dari perlindungan masyarakat yang kehidupannya bergantung pada laut tersebut. Keputusan mengenai masa depan Bali harus mengutamakan keberlanjutan ekologis, kesejahteraan masyarakat, dan keadilan iklim, bukan keuntungan korporasi bahan bakar fosil.

Pernyataan Roberto Hutabarat, Koordinator Don't Gas Indonesia

"Hari Laut Sedunia dan Hari Coral Triangle mengingatkan kita bahwa kekayaan terbesar Bali bukanlah infrastruktur LNG, melainkan lautnya, terumbu karangnya, dan masyarakat yang selama ini menjaganya. Ekspansi LNG di Bali merupakan solusi palsu yang berbahaya karena mengorbankan keanekaragaman hayati laut dan mata pencaharian masyarakat demi kepentingan korporasi bahan bakar fosil. Kita tidak boleh membiarkan istilah 'transisi energi' digunakan untuk membenarkan proyek-proyek energi fosil baru yang mengancam salah satu ekosistem laut terpenting di dunia."

 

Pelajaran dari Cilamaya, Karawang

Di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, beroperasinya PLTGU Jawa 1 dan infrastruktur pendukung LNG, termasuk Floating Storage and Regasification Unit (FSRU), telah mengubah secara drastis ekosistem laut yang selama beberapa generasi dikenal sebagai salah satu lumbung ikan terpenting di pesisir Karawang.

Pengerukan dasar laut dalam skala besar untuk jalur pelayaran dan pemasangan pipa gas telah mempercepat sedimentasi, merusak habitat terumbu karang lokal, dan berkontribusi terhadap hilangnya kawasan pemijahan penting bagi ikan dan udang.

Janji tentang "transisi energi bersih" tidak sesuai dengan kenyataan yang dialami masyarakat. Nelayan kehilangan akses ke wilayah tangkap tradisional akibat keberadaan pipa bawah laut, sistem jangkar FSRU, dan meningkatnya lalu lintas kapal industri. Jaring nelayan sering rusak, hasil tangkapan menurun drastis, dan banyak nelayan terpaksa melaut lebih jauh dengan biaya dan risiko yang lebih tinggi, yang pada akhirnya mendorong mereka ke dalam lingkaran utang.

Di daratan, masyarakat juga menghadapi pencemaran udara dan air, kebisingan industri, serta degradasi lingkungan yang terkait dengan proyek tersebut.

"Pengalaman Cilamaya menunjukkan bahwa proyek LNG sering kali memindahkan biaya sosial dan lingkungan kepada masyarakat lokal, sementara manfaat ekonominya dinikmati pihak lain. Ini harus menjadi peringatan bagi wilayah pesisir lain, termasuk Bali, yang kini menghadapi rencana ekspansi LNG serupa," tambahnya.

DGI Menyerukan Pemerintah dan Para Pengambil Keputusan untuk:

Segera menghentikan pembangunan terminal LNG FSRU dan PLTGU baru di Bali;

1.  Melindungi ekosistem terumbu karang, hutan mangrove, dan habitat laut penting dari pembangunan infrastruktur LNG;

2.  Menjamin transparansi dan partisipasi publik yang bermakna dalam seluruh proses perencanaan energi;

3.  Memprioritaskan solusi energi terbarukan yang berbasis komunitas, terjangkau, dan berkelanjutan;

4.  Menyelaraskan masa depan energi Bali dengan komitmen iklim dan target perlindungan keanekaragaman hayati.

Masa depan kepulauan Indonesia harus dibangun di atas laut yang sehat, masyarakat yang sejahtera, dan energi terbarukan yang sesungguhnya—bukan ekspansi gas fosil.***

Editor : M.Ridwan
#Dont Gas Indonesia #worl ocean day #hari laut sedunia #LNG Bali