DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Musik khas Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), bernama moko merupakan gong perunggu tua peninggalan Dongson, musik pakai moko atau gong perunggu dan tambur atau gendang dari kulit hewan bertalu hangat di acara syukuran HUT ke-23 Perkumpulan Keluarga Klon Bring Bali, Minggu (14/6/2026) malam.
Musik tersebut adalah Iringan untuk Tari Lego-Lego. Tampak warga Alor saling bergandengan tangan, warga perantauan lintas generasi maju ke tengah arena. Mereka bergerak melingkar, membawakan Tari Lego-Lego dengan penuh sukacita.
Bagi Keluarga Besar Klon Bring Bali, Tari Lego-Lego malam itu bukan sekadar hiburan pelepas rindu kampung halaman.
Tarian tradisional ini memiliki makna persatuan, kebersamaan, dan gotong royong di tanah rantau. Keunikannya terletak pada gerakan berputar tanpa penari utama. Semua orang melebur setara tanpa sekat kelas sosial maupun agama.
"Masyarakat Alor itu hidupnya komunal, tidak individualis. Susah senang ditanggung bareng-bareng," ungkap Ketua Panitia Kegiatan, Etho Gilamo kemarin (18/6/2026)
Menariknya, acara ini dikemas kental dengan nuansa akulturasi tradisi lokal. Di panggung utama, visual gambar penjor khas Bali bersanding serasi dengan pohon Natal, melatari spanduk Halalbihalal lintas iman yang digelar bersamaan.
Baca Juga: Yusuf Meilana Hengkang, Bali United Datangkan Alfeandra Dewangga dari Persib?
Kehadiran ornamen budaya lokal yang bertepatan dengan suasana Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali ini menjadi bukti warga perantau dalam menjunjung tinggi toleransi.
Lanjut Etho Gilamo, menyatakan Tari Lego-Lego dan perpaduan simbol dalam acara ini merupakan refleksi dari nilai luhur masyarakat Alor.
Nilai toleransi yang kuat dari kampung halaman kini diadaptasikan dengan menghormati kebudayaan Bali, tempat mereka menetap saat ini.
"Masyarakat NTT, khususnya Alor, dikenal dengan jalinan toleransi beragama yang indah. Nilai luhur itulah yang kita bawa ke tanah Bali, memegang teguh pepatah: ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’," ujar Etho.
Meskipun secara kalender momen Natal dan Idulfitri (Halalbihalal) telah berlalu, Etho menegaskan esensi kedua peringatan tersebu yaitu saling memaafkan dan menguatkan kerukunan harus tetap hidup dalam keseharian masyarakat melalui ruang budaya seperti ini.
Pertemuan hangat lintas iman ini juga dirangkaikan dengan syukuran HUT ke-23 Perkumpulan Keluarga Klon Bring Bali.
Di usia yang hampir seperempat abad, organisasi ini konsisten menjaga kekompakan antaranggota lintas generasi di perantauan.
Acara yang mengusung tema penguatan persaudaraan dalam keberagaman ini turut dihadiri oleh tokoh masyarakat serta perwakilan pengurus dari perkumpulan keluarga Alor yang tersebar di seluruh wilayah Bali.***
Editor : M.Ridwan