Di tengah hantaman badai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang meresahkan masyarakat, sebuah inovasi ramah lingkungan diperkenalkan di Bumi Lahar. Yayasan Get Plastic Indonesia memamerkan mesin pirolisis yang mampu menyulap sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif bernilai ekonomis.
TAK hanya bercerita tentang daur ulang, demonstrasi alat pembuat BBM tersebut diperlihatkan langsung di hadapan krama dan pengunjung yang memadati Museum Pustaka Lontar, Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem pada Sabtu (20/6/2026) sore.
Baca Juga: Update Harga BBM Terbaru per 7 Juni 2026: Pertamax Turbo Naik, Diesel Nonsubsidi Turun Tajam
Kegiatan edukatif ini dikemas menarik dalam acara bertajuk Sunrise Berkebun, Sunset Melantun.
Koordinator Kegiatan, Raissa Kanaya, 24, mengungkapkan bahwa sosialisasi ini bertujuan untuk mengenalkan lebih dekat teknologi pirolisis kepada masyarakat pedesaan.
Baca Juga: Harga BBM Diesel Melonjak, Cek Harga BBM Pertamina dan Swasta Hari Ini 30 Mei 2026
Ini sekaligus, membuktikan secara langsung bahwa BBM yang dihasilkan dari limbah plastik sangat aman dan layak digunakan untuk kebutuhan penunjang sehari-hari.
”Jadi sampah yang selama ini dianggap kotor dan tidak berguna, lewat mesin pirolisis ini bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar minyak. Hasil olahannya sudah kami uji coba dan sukses digunakan untuk menghidupkan mesin genset,” ujar Raissa saat ditemui di sela-sela acara.
Lebih lanjut dijelaskan, formulasi pengolahan ini tergolong fleksibel. Jenis sampah plastik yang digunakan bebas, asalkan bukan jenis pipa (PVC) dan dipastikan dalam kondisi kering agar proses pembakaran sempurna. Secara teknis, dalam sekali operasional, mesin pirolisis ini mampu melahap sekitar 10 kilogram sampah plastik dengan durasi penyulingan selama kurun waktu 2 jam.
”Dari 10 kilogram sampah plastik yang diolah, mesin ini bisa menghasilkan sekitar 10 liter BBM alternatif. Menariknya lagi, selain menghasilkan BBM, proses pembakaran juga menghasilkan gas yang bisa langsung dialirkan untuk memasak air. Sedangkan residu berupa karbon hitamnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan seperti paving blok,” urai Raissa.
Kendati memiliki potensi besar menjadi solusi energi terbarukan, pemanfaatan BBM ramah lingkungan ini masih membentur tembok regulasi formal. Selama ini, internal Get Plastic Indonesia sudah menikmati hasilnya secara mandiri, namun produk cair tersebut belum bisa diperjualbelikan secara bebas ke publik.
”Kami sebenarnya sudah berkoordinasi dengan pihak Pertamina. Namun, kami diminta menjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga BBM pasaran. Kondisi regulasi dan nilai ekonomis itu yang membuat kami sulit menjual BBM ini untuk kebutuhan masyarakat luas. Sementara ini baru sebatas digunakan untuk internal yayasan dan membantu beberapa kelompok petani,” imbuhnya.
Menyikapi tantangan tersebut, Get Plastic Indonesia kini membidik skema kolaborasi berbasis komunitas. Pihaknya membuka pintu lebar-lebar bagi pemerintahan desa (Pemdes) maupun kelompok swadaya masyarakat di Bali yang tertarik melakukan pengolahan sampah mandiri.
"Mesin pirolisis ini memang tidak diperjualbelikan secara bebas. Namun, kami menawarkan bentuk kerja sama. Syaratnya komitmen, pendanaannya jelas, dan pengelolaannya profesional. Tim kami siap turun melakukan pendampingan penuh dari nol. Kami berharap peluang ini bisa ditangkap oleh desa-desa di Bali untuk menyelesaikan masalah sampah sekaligus kemandirian energi," harapnya.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali