MANGUPURA, RadarBali.id – Suara benturan kayu bertalu-talu kembali menggema di sepanjang jalan Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung.
Baca Juga: Mekotek, Tradisi Bali Masuk Dalam Rangkaian Ruwatan Nusantara
Tradisi sakral Mekotek yang berfungsi sebagai ritual tolak bala sekaligus ungkapan rasa syukur, kembali digelar oleh krama setempat bertepatan dengan Hari Raya Kuningan pada hari Sabtu, 27 Juni 2026.
Ritual yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman kemegahan Kerajaan Mengwi ini dilaksanakan rutin setiap 210 hari sekali.
Berdasarkan catatan sejarah, awal mula tradisi magis ini digelar adalah untuk menyambut kepulangan pasukan Kerajaan Mengwi yang membawa kemenangan gemilang dari medan perang di Blambangan, Jawa Timur.
Dalam pelaksanaannya, ratusan warga pria dari berbagai rentang usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua bersatu padu memadukan tongkat kayu di udara.
Tongkat-tongkat tersebut ditubrukkan bersama hingga membentuk formasi kerucut atau piramida yang menjulang tinggi, lalu diarak berkeliling desa.
Sebutan "mekotek" sendiri diambil secara onomatope dari bunyi "tek, tek, tek" yang dihasilkan akibat benturan keras antarkayu pulet tersebut.
Dahulu kala, sarana yang digunakan dalam tradisi ini adalah tombak berbahan besi tajam. Namun, demi alasan keamanan dan keselamatan para peserta, senjata tajam tersebut akhirnya dimodifikasi dan diganti menggunakan tongkat dari kayu pulet yang memiliki panjang berkisar antara dua hingga tiga meter.
Krama Desa Adat Munggu hingga kini memegang teguh keyakinan bahwa ritual Mekotek ini wajib hukumnya untuk dilaksanakan secara ajeg.
Upacara ini menjadi sarana utama bagi masyarakat setempat untuk memohon keselamatan khalayak serta menangkal segala bentuk musibah, bencana, maupun wabah penyakit (gering) agar tidak sampai melanda wilayah desa mereka..[*]
Editor : Hari Puspita