Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Hadirkan Rangkaian FSBJ, Gubernur Koster Kunjungi Museum di Art Centre, Prihatin dengan Kondisi Bangunan

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 16 Juli 2026 | 08:25 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Suastini Koster di Museum Mahudara Mandara Giri Buana yang terletak di kompleks Art Center Denpasar pada Rabu (15/7/2026). 
Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Suastini Koster di Museum Mahudara Mandara Giri Buana yang terletak di kompleks Art Center Denpasar pada Rabu (15/7/2026). 

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Di sela-sela pelaksanaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Suastini Koster melakukan kunjungan ke Museum Mahudara Mandara Giri Buana yang terletak di kompleks Art Center Denpasar pada Rabu (15/7/2026). 

Dari kunjungan tersebut, Koster menyoroti kelaikan bangunan bersejarah tersebut. 

Museum ini menyimpan ratusan karya maestro seni Bali yang tercatat belum pernah mendapatkan perawatan khusus sejak diresmikan lebih dari setengah abad yang lalu.

Turut mendampingi rombongan Gubernur dalam peninjauan ini antara lain Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana; Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRKIM) Provinsi Bali, Nusakti Yasa Wedha; serta Kepala UPTD Taman Budaya (Art Center) Provinsi Bali, I Wayan Mardika Bhuwana.

Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni UPTD Taman Budaya Provinsi Bali sekaligus Kepala Museum Mahudara Mandara Giri Buana, I Gede Arum Gunawan, menjelaskan gedung tersebut telah berusia 53 tahun setelah diresmikan pertama kali pada tanggal 14 Februari 1973.

"Tahun ini sudah 53 tahun. Selama 53 tahun tersebut, gedung ini memang belum pernah mendapatkan perawatan khusus," ungkap Arum Gunawan saat diwawancarai seusai kunjungan.

Kendala keterbatasan anggaran operasional membuat revitalisasi belum bisa dilakukan selama ini.

Dalam kunjungan tersebut, Koster dapat menyaksikan langsung prioritas fasilitas pendukung serta fisik bangunan yang membutuhkan intervensi anggaran dari pemerintah daerah berupa perbaikan dan revitalisasi total.

Ironisnya, akibat kerusakan pada bagian atap menara puncak museum dan kondisi atap yang lepas dan hiasan ijuk yang rusak menyebabkan masuknya sejumlah binatang malam.

Hewan noktural itu yang mengotori area ruang pameran koleksi berharga tersebut.

"Kerusakan yang parah ada di atap gedung yang ada di menara. Jadi, gedung ini ada seperti menara di paling puncak itu atapnya sudah lepas, kemudian hiasan dari ijuknya juga banyak yang lepas, ornamen-ornamennya juga banyak yang rusak.

Akibat kerusakan itu, tempat ini menjadi akses masuk binatang-binatang malam seperti kelelawar dan burung hantu. Kotoran-kotorannya mengganggu koleksi kita. 

Nah, tadi beliau sudah melihat sendiri kondisi itu. Mudah-mudahan segera mendapat tindak lanjut," sambungnya.

Meski memiliki kendala infrastruktur, Arum Gunawan menambahkan bahwa Gubernur Wayan Koster tetap mengapresiasi upaya optimal tim museum dalam melakukan perawatan rutin koleksi seni di dalam gedung.

Pihak museum mencatat saat ini memamerkan total 350 karya masterpiece, yang terdiri atas 107 lukisan lintas gaya, 143 patung, 27 seni kriya (termasuk ukiran gading dan perak), serta 28 koleksi seni tekstil. 

Akibat keterbatasan ruang pamer, sebanyak 58 karya seni lainnya terpaksa masih disimpan di dalam gudang penyimpanan.

"Untuk di Museum Mahudara Mandara Giri Buana terdiri dari 107 lukisan, kemudian 143 patung, 27 koleksi kriya yang di dalamnya ada ukiran patung gading, ada ukiran perak seperti itu. Kemudian seni tekstil ada 28.

Seluruhnya total koleksi kita itu ada 350 karya yang dipamerkan di Mahudara. 

Sedangkan yang disimpan di gudang penyimpanan itu masih ada sekitar 58 karya karena keterbatasan tempat jadinya tidak bisa kita pamerkan," paparnya.

Museum ini menyimpan mahakarya dari sejumlah pelukis legendaris Bali maupun luar negeri, seperti gaya lukisan Kamasan karya Pak Mandra dan Pak Semari.

Ada pula karya dari I Gusti Nyoman Kobot, I Gusti Nyoman Lempad, Walter Spies, Rudolf Bonnet, hingga seniman nasional Hendra Gunawan. 

Secara khusus, perhatian Gubernur tersedot pada lukisan kertas bertinta Cina karya Gusti Nyoman Lempad, lukisan karya Hendra Gunawan, serta teknik lukisan sidik jari ikonik karya I Gusti Ngurah Made Pemecutan.

Terkait masa depan pelestarian karya-karya bernilai sejarah tinggi ini, Gubernur Wayan Koster memberikan arahan strategis agar sebagian lukisan masterpiece dipindahkan ke Pusat Kebudayaan Bali (PKB) yang saat ini tengah dibangun, demi menjamin sistem perawatan yang lebih modern dan intensif.

"Kalau dari Pak Gub, pesannya adalah lukisan ini harus dijaga karena ini kan karya maestro semua.

Beliau menginginkan nanti kelak jika pembangunan Pusat Kebudayaan Bali sudah jadi, beberapa lukisan akan disimpan di sana sehingga mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Karena kalau lukisan-lukisan itu harus dirawat suhunya, kelembabannya, semuanya harus diperhatikan betul. 

Sedangkan di ruang pameran sekarang kan hanya seadanya, jadinya kita tidak bisa kontrol suhu, kadar keasaman, itu belum bisa kita kontrol karena alatnya tidak ada.

Maka beberapa lukisan khusus yang bernilai sejarah dan penting, arahan beliau akan dibawa ke Pusat Kebudayaan Bali agar bisa dinikmati generasi selanjutnya lebih lama," beber Arum.

Di akhir kunjungan, Gubernur Bali menegaskan komitmennya dalam pelestarian museum dengan menuliskan pesan khusus pada buku tamu museum yang menginstruksikan jajaran terkait untuk menjaga dan merawat warisan budaya Bali ini dengan sebaik-baiknya.

"Jadi itu mendapat perhatian khusus tadi dari Bapak Gubernur untuk diperhatikan, dijaga, dan dirawat betul. Sehingga beliau di buku kunjungan tadi menekankan harus dijaga dan dirawat dengan baik.

Itu menjadi semangat kami untuk bekerja lebih maksimal lagi di Taman Budaya, khususnya di museum, supaya kinerja menjaga warisan budaya tersebut bisa berjalan maksimal," pungkasnya. 

Editor : Rosihan Anwar
Festival Seni Bali Jani 2026 Taman Budaya Bali gubernur bali wayan koster